Author name: hes121

Baitul Arqam UMS Kloter 16 Dimulai, Dr. Rizka Tekankan Akhlak dan Integritas di Tengah Arus Globalisasi

SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) resmi membuka kegiatan Baitul Arqam Kloter 16 pada Kamis (14/11), yang diawali dengan kuliah umum oleh Dr. Rizka, S.Ag., M.H., Dosen Fakultas Hukum UMS. Pada sesi perdana ini, Dr. Rizka membawakan materi bertema “Implementasi Nilai-Nilai Akidah dalam Membentuk Karakter Mulia dan Berjiwa Progresif Berkemajuan.”

Dalam paparannya, Dr. Rizka menegaskan bahwa akidah merupakan fondasi utama yang membentuk cara berpikir, bersikap, dan bertindak seorang Muslim, termasuk mahasiswa dan pegawai di lingkungan kampus. “Mahasiswa sebagai generasi intelektual memerlukan landasan akidah yang kokoh agar tidak mudah terombang-ambing oleh arus globalisasi,” ujarnya.

Melalui slide presentasi yang dipaparkan, ia menguraikan nilai-nilai pokok akidah seperti keimanan kepada Allah, Rasul, kitab, hari akhir, dan takdir. Nilai tersebut, menurutnya, melahirkan integritas, tanggung jawab, serta etika akademik yang menjadi karakter dasar insan perguruan tinggi.

Dr. Rizka juga menekankan pentingnya menjadikan aktivitas akademik sebagai ibadah. Ia mengingatkan peserta untuk menjauhi plagiarisme, manipulasi data, dan segala bentuk kecurangan ilmiah. “Kejujuran adalah bagian dari akhlak. Ilmu tanpa akhlak akan kehilangan keberkahan,” tuturnya.

Lebih jauh, ia memaparkan implementasi nilai akidah dalam kehidupan kampus, mulai dari pembiasaan akhlak mulia, kedisiplinan, hingga komitmen sosial. Mahasiswa dan pegawai didorong untuk aktif berkontribusi dalam kegiatan kemanusiaan dan organisasi dengan menjunjung nilai amanah serta musyawarah.

Sejalan dengan semangat Islam Berkemajuan, Dr. Rizka mendorong peserta untuk mengintegrasikan iman dengan penguasaan sains dan teknologi. Ia meminta civitas akademika UMS menjadi agen perubahan yang membawa nilai kebaikan di tengah masyarakat. Selain itu, ia menyoroti pentingnya beretika di ruang digital, termasuk menghindari hoaks dan ujaran kebencian, serta menggunakan media sosial sebagai sarana dakwah dan edukasi.

Pembukaan Baitul Arqam Kloter 16 berlangsung khidmat dan diikuti dengan antusias. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya UMS memperkuat ideologi, spiritualitas, dan karakter civitas akademika agar selaras dengan nilai-nilai keislaman dan kemuhammadiyahan.

Baitul Arqam UMS Kloter 16 Dimulai, Dr. Rizka Tekankan Akhlak dan Integritas di Tengah Arus Globalisasi Read More »

Merawat Kulit sebagai Amanah: Topik Qiyamulail UMS ke-191

SURAKARTA — Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menyelenggarakan Qiyamulail dan Do’a Bersama ke-191 pada Jumat, 14 November 2025. Kegiatan yang dimulai pukul 03.30–04.00 WIB ini diikuti oleh sivitas akademika UMS secara daring.

Pada kesempatan ini, tausiyah disampaikan oleh Dr. dr. Flora Ramona Sigit Prakoeswa, M.Kes., Sp.DVE., yang mengangkat tema unik namun sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari, yaitu prinsip merawat kulit (skincare) dalam perspektif Islam. Ia menjelaskan bahwa merawat kulit bukan hanya persoalan estetika, tetapi bagian dari ajaran Islam dalam menjaga kebersihan, kesehatan, dan amanah tubuh yang diberikan Allah.

Dalam penjelasannya, dr. Flora memaparkan beberapa prinsip perawatan kulit yang selaras dengan tuntunan Islam, di antaranya:

1. Wudhu dan mandi
Wudhu dan mandi menjadi cara utama menjaga kebersihan kulit karena dapat menghilangkan kotoran sekaligus meningkatkan kesegaran tubuh.

2. Penggunaan bahan alami
Islam menganjurkan penggunaan bahan-bahan alami seperti minyak zaitun, madu, dan lidah buaya untuk merawat kulit, karena lebih aman dan memiliki manfaat kesehatan.

3. Menghindari bahan kimia berbahaya
Beliau mengingatkan agar umat Islam menghindari produk skincare dengan kandungan berbahaya seperti merkuri dan hidrokuinon yang dapat merusak kulit.

4. Menjaga kelembaban kulit
Kulit yang sehat adalah kulit yang terjaga kelembabannya, dan Islam mendorong penggunaan bahan alami untuk tujuan tersebut.

5. Melindungi kulit dari paparan sinar UV berlebih
Menurut dr. Flora, menjaga diri dari bahaya sinar matahari juga merupakan bagian dari ikhtiar menjaga kesehatan, misalnya dengan memakai pelindung seperti topi atau payung.

Selain itu, beliau juga memberikan contoh skincare alami yang sangat dianjurkan dan sesuai syariat, seperti minyak zaitun, madu, lidah buaya, dan kunyit—yang masing-masing memiliki manfaat melembabkan, menenangkan, hingga mengatasi masalah kulit.

Dr. Flora menegaskan bahwa dalam Islam, perawatan kulit bukan hanya bertujuan mempercantik diri, tetapi juga bentuk tanggung jawab menjaga kesehatan sebagai amanah dari Allah SWT.

Kegiatan Qiyamulail ke-191 ditutup dengan doa bersama, memohon keberkahan serta kesehatan bagi seluruh peserta, dan berharap agar nilai-nilai kebersihan serta kesehatan yang diajarkan Islam dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Merawat Kulit sebagai Amanah: Topik Qiyamulail UMS ke-191 Read More »

Kajian Tarjih UMS Berlanjut: Dr. Isman Kupas Hukum Konsumsi Hewan dan Produk Turunannya

Surakarta — Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menggelar Kajian Tarjih Online dengan tema “Fikih Makanan Halal Perspektif Tarjih” pada Selasa (11/11). Kajian ini menghadirkan narasumber Dr. Isman, S.H.I., S.H., M.H., dosen Fakultas Agama Islam (FAI) UMS, yang membahas Kompilasi Fatwa Tarjih Muhammadiyah serta isu-isu kontemporer terkait konsumsi hewan dan produk turunannya.

Dalam pemaparannya, Dr. Isman menjelaskan empat prinsip pokok penetapan hukum makanan halal. Prinsip pertama merujuk pada QS. Al-Baqarah ayat 29 yang menegaskan bahwa hukum asal segala sesuatu adalah mubah, sebagaimana dijelaskan Imam Asy-Syaukani bahwa seluruh ciptaan Allah di bumi diperuntukkan bagi manusia selama tidak ada dalil yang mengharamkannya. Prinsip kedua berdasar QS. Al-A’raf ayat 157, yang menghalalkan hal-hal yang baik dan mengharamkan hal-hal buruk. Menurut Ibnu Abbas, ukuran halal tidak sekadar lezat, tetapi bermanfaat. “Rokok, meski dinikmati banyak orang, tidak tergolong thayyib karena merusak kesehatan,” ujar Isman.

Prinsip ketiga merujuk QS. Al-Maidah ayat 3, bahwa dalam kondisi darurat sesuatu yang haram dapat digunakan selama tidak diniatkan untuk maksiat. Adapun prinsip keempat dan kelima bersumber dari hadis Nabi tentang hewan berbahaya serta larangan menggunakan benda haram untuk pengobatan.

Memasuki penjelasan fatwa Tarjih, Isman memaparkan empat isu utama. Pertama, penggunaan ekstrak kalajengking dan lintah dalam pengobatan. Fatwa Muhammadiyah menetapkan kalajengking sebagai hewan haram karena berbahaya dan bertaring, namun penggunaannya dibolehkan bila memenuhi tiga syarat: dalam keadaan darurat, penyakit harus diobati, dan tidak ada obat pengganti yang halal. Kedua, konsumsi laron, belalang, dan gangsir dinyatakan halal berdasarkan hadis sahih yang menunjukkan para sahabat pernah memakan belalang bersama Rasulullah SAW.

Ketiga, status kopi luwak ditetapkan halal karena biji kopi yang keluar bersama kotoran luwak dapat disucikan melalui proses izalatun najasah. Keempat, konsumsi hewan bertaring dan burung berkuku tajam dinyatakan haram sesuai hadis riwayat Muttafaq ‘Alaih.

Menutup kajian, Isman menegaskan bahwa seluruh penetapan hukum harus berpijak pada Al-Qur’an dan Sunnah serta berorientasi pada kemaslahatan umat. “Yang membawa manfaat itu halal, sedangkan yang membahayakan dan merusak dilarang,” pungkasnya.

Kajian Tarjih UMS Berlanjut: Dr. Isman Kupas Hukum Konsumsi Hewan dan Produk Turunannya Read More »

Muchamad Iksan Tekankan Konsistensi Iman dan Ibadah dalam Pembukaan Baitul Arqam Kloter 15 UMS

Surakarta, 10 November 2025 – Lembaga Pengembangan Pondok, Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (LPPIK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menyelenggarakan kegiatan Baitul Arqam kloter 15. Kegiatan yang dilaksanakan di lingkungan kampus UMS ini diawali dengan kuliah umum pembuka oleh Muchamad Iksan, Ketua Takmir Masjid UMS sekaligus Direktur Dapensya UMS.

Dalam penyampaiannya, Muchamad Iksan menekankan pentingnya memperkuat aqidah dan menata kembali pemahaman keislaman yang murni sesuai tuntunan Rasulullah. Ia mengingatkan peserta agar selalu menghormati guru dan kyai, namun jangan sampai penghormatan tersebut melebihi penghormatan kepada Allah. “Mau mereka bersedekah, beramal, atau melakukan banyak hal baik, jika tidak beriman kepada Allah, maka semuanya tidak akan berarti apa-apa,” ujarnya menegaskan.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa rukun iman merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. “Kalau seseorang mengatakan beriman kepada Allah dan malaikat, tetapi tidak percaya kepada takdir, berarti keimanannya belum konsisten,” terangnya.

Dalam materinya, Muchamad Iksan juga menyoroti hubungan antara aqidah dan ibadah. Menurutnya, aqidah yang kuat seharusnya tercermin dalam perilaku dan ibadah sehari-hari. “Jika aqidah kuat tapi ibadahnya masih lemah, berarti keyakinan kepada Allah belum benar-benar kokoh,” jelasnya.

Ia turut membedakan antara ibadah mahdhah (ibadah khusus) dan ghairu mahdhah (ibadah umum). Ibadah mahdhah, seperti shalat dan puasa, pada prinsipnya dilarang kecuali yang dicontohkan Rasulullah SAW. Sementara ibadah ghairu mahdhah dapat dilakukan selama tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah.

Kegiatan Baitul Arqam ini menjadi salah satu wadah pembinaan ideologis dan spiritual bagi sivitas akademika UMS. Melalui kuliah umum tersebut, diharapkan para peserta semakin memahami makna keimanan, memperkokoh aqidah, serta mengimplementasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan akademik dan sosial mereka.

Muchamad Iksan Tekankan Konsistensi Iman dan Ibadah dalam Pembukaan Baitul Arqam Kloter 15 UMS Read More »

UMS Kupas Makna Tauhid dan Kisah Penciptaan Adam dalam Kajian Al-Baqarah 21–29

SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali mengadakan Kajian Tafsir Al-Qur’an Online sebagai upaya meningkatkan pemahaman keislaman sivitas akademika. Pada kesempatan ini, Dr. Ainur Rha’in Bakrun, S.Th.I., M.Th., Dosen Program Studi Ilmu Qur’an dan Tafsir (IQT) Fakultas Agama Islam (FAI), hadir sebagai narasumber dan mengupas kandungan QS. Al-Baqarah ayat 21–29.

Dalam kajiannya, ustadz Ainur menjelaskan bahwa rangkaian ayat ini berisi seruan penting kepada manusia untuk mengesakan Allah SWT sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah. Seruan tersebut ditegaskan melalui bukti-bukti kekuasaan Allah yang nyata, seperti penciptaan bumi dan langit, turunnya hujan, hingga tumbuhnya tanaman sebagai rezeki bagi seluruh makhluk.

“Allah menegaskan keesaan-Nya melalui tanda-tanda penciptaan alam semesta. Semua itu menunjukkan bahwa hanya Dialah Tuhan yang pantas disembah,” jelas ustadz Ainur dalam pemaparannya.

Ia kemudian menyoroti ayat yang menantang manusia untuk mendatangkan satu surat saja yang setara dengan Al-Qur’an, sebagai bentuk penegasan kemukjizatan wahyu. Tantangan ini, menurutnya, menjadi bukti bahwa tidak ada satu pun ciptaan manusia yang mampu menandingi kalamullah.

“Ini bukan sekadar tantangan retoris. Ayat ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an memiliki kedudukan yang tidak bisa ditandingi oleh kemampuan manusia mana pun,” tambahnya.

Selain itu, narasumber juga menekankan adanya ancaman bagi orang-orang kafir yang mengingkari kebenaran Al-Qur’an, serta janji surga bagi orang beriman yang beramal saleh. Dua hal ini, menurut ustadz Ainur, menjadi pengingat kuat tentang konsekuensi keimanan dan pilihan hidup manusia.

Memasuki pembahasan akhir, ustadz Ainur menguraikan kisah penciptaan Nabi Adam AS yang disebut dalam ayat-ayat tersebut. Ia menjelaskan bahwa Allah SWT memilih Adam sebagai khalifah di bumi karena hikmah dan pengetahuan yang Dia anugerahkan kepadanya.

“Kisah ini menegaskan bahwa hanya Allah yang Maha Mengetahui kemaslahatan manusia. Tugas kekhalifahan bukan sekadar kedudukan, tetapi amanah untuk menjaga dan memakmurkan bumi,” ungkapnya.

Kajian ditutup dengan ajakan agar umat Islam kembali meneguhkan tauhid, memperkuat keimanan, dan menjalankan peran sebagai khalifah di bumi dengan penuh tanggung jawab. Melalui kajian ini, UMS berharap para peserta semakin memahami kedalaman pesan Al-Qur’an serta mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

UMS Kupas Makna Tauhid dan Kisah Penciptaan Adam dalam Kajian Al-Baqarah 21–29 Read More »

Qiyamulail UMS ke-190: Menguak Hakikat Perjanjian Primordial Manusia dengan Allah

SURAKARTA — Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menggelar kegiatan Qiyamulail dan Do’a Bersama ke-190 pada Jumat (7/11/2025). Kegiatan yang dilaksanakan secara daring ini berlangsung mulai pukul 03.30–04.00 WIB dan diikuti oleh dosen serta tenaga kependidikan UMS.

Tausiyah pada kesempatan tersebut disampaikan oleh Ustadz Dr. Moh Ali, S.Pd., M.Pd., yang membawakan kajian tafsir Surah Al-A’raf ayat 172. Ayat ini membahas tentang perjanjian primordial, yaitu kesaksian jiwa seluruh keturunan Adam bahwa Allah merupakan Tuhan mereka. Dalam ayat tersebut, Allah bertanya, “Bukankah Aku Tuhanmu?” dan seluruh jiwa menjawab, “Benar, kami bersaksi.”

Dalam pemaparannya, Ustadz Dr. Ali menjelaskan bahwa perjanjian primordial ini menjadi dasar pertanggungjawaban manusia di Hari Kiamat. Dengan adanya kesaksian tersebut, manusia tidak memiliki alasan untuk mengingkari atau mengabaikan keesaan Allah.

Ia kemudian menguraikan beberapa pokok tafsir terkait ayat tersebut:

Pertama, fitrah tauhid, yaitu bahwa manusia diciptakan dengan fitrah untuk mengakui keesaan Allah. Pengakuan ini melekat dalam jiwa sejak awal penciptaan.

Kedua, bukti penciptaan, di mana proses penciptaan manusia dari setetes air mani hingga menjadi makhluk sempurna merupakan tanda nyata dari kekuasaan Allah yang tak terbantahkan.

Ketiga, tujuan kesaksian, yakni agar manusia tidak dapat berdalih pada Hari Kiamat bahwa mereka tidak mengetahui keesaan Allah.

Keempat, relevansi dengan kehidupan, bahwa ikatan batin antara manusia dan Allah harus dijaga sepanjang hidup. Meskipun hawa nafsu atau keyakinan yang menyimpang dapat membuat seseorang lupa, hati nurani akan selalu mengingatkannya kepada fitrah tauhid.

Kelima, konsekuensi kelalaian, yaitu bahwa manusia yang mengabaikan kesaksian fitrahnya akan menyimpang dari jalan Allah. Pada Hari Kiamat, mereka tidak dapat lagi beralasan karena bukti kesaksian tersebut tetap ada dan akan diungkap.

Kegiatan Qiyamulail ke-190 diakhiri dengan doa bersama, memohon kekuatan dari Allah SWT agar seluruh sivitas akademika UMS senantiasa menjaga fitrah tauhid, memperkuat iman, serta menjalani kehidupan sesuai petunjuk-Nya.

Qiyamulail UMS ke-190: Menguak Hakikat Perjanjian Primordial Manusia dengan Allah Read More »

Tanamkan Aqidah Kokoh, UMS Bentuk Mahasiswa Berkarakter Progresif dan Berkemajuan

Surakarta, 4 November 2025 – Lembaga Pengembangan Pondok, Al-Islam, dan Kemuhammadiyahan (LPPIK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali melaksanakan kegiatan Baitul Arqam Mahasiswa Kloter 14 sebagai bagian dari pembinaan karakter Islami bagi mahasiswa. Kegiatan ini resmi dibuka dengan kuliah umum yang disampaikan oleh Peni Indrayudha, S.F., M.Biotech., Apt., Ph.D., selaku Wakil Dekan III Fakultas Farmasi UMS, di hari pertama pelaksanaan, Selasa (4/11).

Dalam paparannya yang bertajuk “Implementasi Nilai-Nilai Aqidah Islam dalam Membentuk Karakter Mulia Berjiwa Progresif Berkemajuan,” Peni menekankan bahwa aqidah Islam merupakan pondasi utama dalam membentuk kepribadian seorang muslim yang tangguh, berilmu, dan berakhlak mulia.

“Aqidah bukan sekadar keyakinan dalam hati, tetapi menjadi kekuatan spiritual yang menggerakkan seluruh aspek kehidupan. Dari aqidah yang kokoh lahir pribadi yang berilmu, berakhlak, dan mampu memberi manfaat bagi umat,” ungkapnya.

Dalam pemaparannya, ia mengutip firman Allah dalam QS. Al-Hajj ayat 46 untuk mengingatkan pentingnya hati yang memahami kebenaran:

“Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang berada dalam dada.”

Peni juga menyoroti pentingnya jiwa progresif dan berkemajuan sebagaimana pesan dalam QS. Al-Mujadilah ayat 11, bahwa Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat. Dengan demikian, mahasiswa UMS diharapkan tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaran spiritual yang kuat dan berorientasi pada kemaslahatan umat.

Selain aspek pribadi, ia juga mengajak peserta untuk mengimplementasikan nilai aqidah dalam kehidupan sosial, pendidikan, dan kepemimpinan. Menurutnya, kemajuan umat Islam hanya dapat tercapai bila aqidah dan ilmu berjalan selaras.

Kegiatan yang berlangsung di bawah koordinasi LPPIK UMS ini diikuti dengan antusias oleh peserta dari berbagai fakultas. Salah satu peserta, Aulia Rahman, mengaku mendapatkan banyak inspirasi dari kuliah umum tersebut.

“Materinya membuka wawasan saya bahwa aqidah bukan hanya soal keyakinan, tapi juga arah hidup dan semangat untuk terus berkembang,” ujarnya.

Kuliah umum ini menjadi pembuka yang menggugah bagi seluruh peserta Baitul Arqam Kloter 14. Melalui kegiatan ini, UMS terus meneguhkan komitmennya dalam menanamkan nilai-nilai Islam dan Kemuhammadiyahan agar mahasiswa tak sekadar cerdas secara intelektual, tetapi juga kokoh secara spiritual dan siap menjadi kader persyarikatan yang berkemajuan.

Tanamkan Aqidah Kokoh, UMS Bentuk Mahasiswa Berkarakter Progresif dan Berkemajuan Read More »

UMS Kupas Ketentuan Puasa Sunnah dalam Kajian Tarjih ke-198

Surakarta – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menggelar Kajian Tarjih Online dengan tema edisi ke-198, yang kali ini menghadirkan Dr. Imron Rosyadi, M.Ag. Dalam sesi tersebut, Imron menyampaikan materi dengan judul “Puasa Sunnah yang Disyariatkan menurut Tarjih Muhammadiyah”, merujuk pada Keputusan Muktamar Tarjih XXI di Klaten pada tahun 1980 dan Keputusan Tarjih Pekalongan yang dikeluarkan pada tahun 2024.

Kajian dimulai dengan hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA:

الصِّيَامُ جُنَّةٌ

“Puasa adalah perisai yang melindungi seseorang dari api neraka.”

Ustadz Imron menjelaskan bahwa kata “junnah” dalam hadis tersebut menggambarkan puasa sebagai benteng yang melindungi seorang Muslim baik secara spiritual maupun moral.

Menurutnya, nilai utama dari puasa sunnah tidak hanya terletak pada amalan yang dilakukan, tetapi juga pada manfaat pembinaan diri dan pembersihan hati.

Dalam sesi tersebut, Imron juga menjelaskan bahwa Tarjih Muhammadiyah memberikan kemudahan dalam menjalankan puasa sunnah, khususnya terkait niat.

Berbeda dengan puasa wajib yang niatnya harus diniatkan sejak malam hari, puasa sunnah memungkinkan niat dilakukan pada malam hari, setelah subuh, bahkan hingga menjelang siang selama belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa.

“Syariat memberikan ruang agar umat muslim dapat menjalankan ibadah sunnah tanpa beban yang berlebihan,” ujarnya.

Ia kemudian menjabarkan beberapa jenis puasa sunnah yang disyariatkan, di antaranya puasa enam hari di bulan Syawal, puasa Arafah, Ayyamul Bidh, puasa Senin-Kamis, puasa Nabi Daud, puasa Asyura dan Tasu‘a, serta puasa pada bulan Sya‘ban, Muharram, dan bulan-bulan yang dianggap suci.

Dalam bagian lain, Ustadz Imron menyoroti ketentuan puasa Ayyamul Bidh menurut Tarjih Muhammadiyah yang memberikan beberapa pilihan pola pelaksanaan.

Selain menjalankan puasa pada tanggal 13, 14, dan 15 bulan qamariyah, umat juga dapat memilih pola Senin-Kamis secara bertahap atau tiga hari tanpa batas waktu dalam sebulan.

“Beragam pilihan ini menunjukkan fleksibilitas dalam syariat dan memberikan ruang bagi masyarakat untuk memilih pola yang paling sesuai dengan kondisi masing-masing,” terangnya.

Menutup sesi kajian, Imron menekankan bahwa puasa sunnah adalah ibadah yang sangat bermanfaat dalam pembinaan spiritual.

“Dengan kemudahan niat dan berbagai alternatif pelaksanaan, diharapkan umat semakin termotivasi untuk menghidupkan puasa sunnah guna mendekatkan diri kepada Allah dan memperkuat pengendalian diri terhadap perbuatan tercela,” pungkasnya.

Kajian Tarjih edisi ke-196 ini kembali memberikan wawasan yang bermanfaat bagi seluruh akademisi UMS serta masyarakat luas mengenai pentingnya pelaksanaan puasa sunnah dalam kehidupan sehari-hari.

 

UMS Kupas Ketentuan Puasa Sunnah dalam Kajian Tarjih ke-198 Read More »

AIK Go Digital! LPPIK UMS Bekali Fasilitator dengan Strategi Baru

Surakarta, 31 Oktober 2025 – Lembaga Pengembangan Pondok, Al-Islam, dan Kemuhammadiyahan (LPPIK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menyelenggarakan Workshop Strategi dan Materi untuk Fasilitator Baitul Arqam Studi Islam 1 (Agama) selama dua hari, Kamis–Jumat, 30–31 Oktober 2025, bertempat di Ruang Sidang LPPIK UMS. Kegiatan ini diikuti oleh para fasilitator Baitul Arqam mahasiswa yang mengajar pada semester gasal tahun akademik ini.

Workshop ini bertujuan memperkuat pemahaman dan strategi pembelajaran bagi para fasilitator agar mampu mengimplementasikan nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) secara efektif, inovatif, dan relevan dengan perkembangan zaman.

Kegiatan dibuka dengan pembacaan Basmallah dan sambutan oleh Kepala LPPIK UMS, Dr. Mahasri Shobahiya, M.Ag. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya revitalisasi nilai-nilai AIK dalam membentuk mahasiswa yang unggul, kompeten, dan beradab. Pada sesi pertama, Dr. Mahasri menyampaikan materi bertajuk “Revitalisasi Nilai AIK untuk Mewujudkan Mahasiswa Unggul, Kompeten, dan Beradab” dengan membahas arah perubahan kurikulum AIK, pendekatan Outcome Based Education (OBE), serta transformasi pembelajaran AIK di Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA).

Beliau juga menyoroti pentingnya sinergi lintas fakultas dalam menegakkan disiplin dan budaya akademik selama pelaksanaan Baitul Arqam, termasuk etika berpakaian dan ketentuan keikutsertaan. Selain itu, disampaikan pula saran agar LPPIK dapat bekerja sama dengan pemilik rumah kos di sekitar kampus untuk menciptakan lingkungan mahasiswa yang aman dan berkarakter Islami.

Materi kedua dibawakan oleh M. Bagus Sudinadhi, S.Psi., M.Psi. dengan tema “Belajar Sambil Bermain: Meningkatkan Motivasi melalui Game Edukatif.” Dalam sesi ini, peserta diajak untuk mengenal berbagai permainan interaktif seperti tepuk tangan, jabat tangan, dan gerakan dinamis yang dapat digunakan untuk membangun suasana belajar yang menyenangkan dan komunikatif di kelas Baitul Arqam.

Sementara itu, materi ketiga disampaikan oleh Sukirman, S.T., M.T., Ph.D. dengan topik “Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence) untuk Mendukung Proses Pembelajaran AIK.” Beliau menjelaskan bagaimana teknologi AI dapat menjadi alat bantu inovatif dalam mendesain materi dan aktivitas pembelajaran yang efisien, menarik, dan kontekstual bagi mahasiswa.

Hari kedua workshop diisi dengan sesi pendalaman strategi fasilitasi, di mana para peserta berlatih menyusun rencana pembelajaran, mengevaluasi kegiatan Baitul Arqam, serta berdiskusi mengenai tantangan dan solusi dalam mengajar AIK secara lebih efektif dan humanis.

Kegiatan ditutup dengan refleksi bersama dan harapan agar para fasilitator mampu menjadi agen perubahan yang tidak hanya menyampaikan materi AIK, tetapi juga menanamkan nilai-nilai Islam yang membentuk karakter unggul dan beradab di lingkungan kampus UMS.

AIK Go Digital! LPPIK UMS Bekali Fasilitator dengan Strategi Baru Read More »

Qiyamulail UMS ke-189: Menegakkan Kejujuran dalam Etika Akademik

SURAKARTA — Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menyelenggarakan Qiyamulail dan Do’a Bersama ke-189 pada Jumat, 31 Oktober 2025 M / 09 Jumadil Awal 1447 H. Kegiatan yang digelar secara daring ini berlangsung mulai pukul 03.30–04.00 WIB dan diikuti oleh dosen serta tenaga kependidikan UMS.

Pada kesempatan ini, tausiyah disampaikan oleh Ustadah Dr. Endah Sudarmilah, ST., M.Eng., yang mengangkat tema tentang pentingnya etika akademik dan penguatan budaya akademis di lingkungan perguruan tinggi.

Dalam pemaparannya, Dr. Endah menyoroti maraknya pelanggaran etika akademik di dunia pendidikan, terutama praktik kecurangan yang dilakukan mahasiswa. Fenomena ini, menurutnya, dipengaruhi oleh faktor internal maupun eksternal dan kini semakin mengakar di lingkungan akademik.

Ia menegaskan bahwa etika akademik merupakan pedoman bagi seluruh civitas akademika untuk berperilaku selama proses pembelajaran. Kurangnya kejujuran dan lemahnya integritas, katanya, menjadi penyebab utama belum terciptanya etika mahasiswa yang baik.

Lebih lanjut, Dr. Endah menjelaskan bahwa budaya akademik (academic culture) mencakup seluruh aktivitas, nilai, dan praktik akademik yang dijalani oleh civitas akademika di perguruan tinggi maupun lembaga penelitian. Budaya ini bersifat universal dan harus dijaga bersama.

“Membangun budaya akademik bukanlah tugas yang mudah, tetapi merupakan tanggung jawab kita semua,” tegasnya.

Ia kemudian mengaitkan pesan tersebut dengan tuntunan dalam Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah, yang menjadi panduan untuk mengembangkan profesi, mengelola amal usaha, menegakkan nilai keilmuan, serta menjadi teladan (uswah hasanah) dalam berbagai aspek kehidupan.

Dr. Endah juga menyampaikan pesan spiritual melalui firman Allah dalam QS. Maryam: 50:
“Kami anugerahkan kepada mereka sebagian dari rahmat Kami dan Kami jadikan mereka buah tutur yang baik lagi mulia.” Ayat ini mengingatkan pentingnya membangun pribadi yang berakhlak, jujur, dan berintegritas dalam setiap aktivitas, termasuk akademik.

Kegiatan Qiyamulail ke-189 kemudian ditutup dengan doa bersama, yang menjadi sarana memperkuat spiritualitas dan komitmen seluruh peserta dalam menjaga etika dan membangun budaya akademik yang berkemajuan di lingkungan UMS.

Qiyamulail UMS ke-189: Menegakkan Kejujuran dalam Etika Akademik Read More »

Scroll to Top