Author name: hes121

Kajian Tafsir UMS Kupas Kisah Nabi Musa dan Pembangkangan Bani Israil

SURAKARTA – Kajian Tafsir Online ke-72 kembali digelar pada Sabtu, 29 November 2025, menghadirkan Ustadz Ainur Rha’in sebagai pemateri. Dalam pertemuan kali ini, peserta diajak memperdalam makna QS. Al-Baqarah ayat 51–59 yang mengisahkan perjalanan Nabi Musa ‘alaihissalam serta pembangkangan Bani Israil, sebagai pelajaran penting bagi umat manusia sepanjang zaman.

Mengawali kajiannya, Ustadz Ainur menjelaskan bahwa rangkaian kisah tentang Bani Israil dalam Al-Qur’an bukan sekadar sejarah, tetapi peringatan agar umat setelahnya tidak mengulangi bentuk-bentuk pembangkangan yang mereka lakukan. Salah satu pembangkangan terbesar terjadi ketika Nabi Musa menerima wahyu selama 40 malam di Bukit Thur Sina. “Disebut malam karena tradisi bertahannus atau mendekatkan diri kepada Allah biasanya dilakukan pada malam hari, seperti halnya iktikaf di masjid,” terangnya.

Selama masa gaib Nabi Musa tersebut, Bani Israil justru terjerumus pada kesesatan dengan mendirikan patung anak sapi dan menyembahnya. Ironisnya, patung itu merepresentasikan dewa yang dahulu diyakini masyarakat Mesir kuno—kepercayaan yang terbawa karena Bani Israil pernah hidup sebagai budak di Mesir. “Padahal anak sapi itu sendiri masih membutuhkan induknya, dan induknya bergantung pada manusia. Bagaimana mungkin sesuatu yang bergantung dapat dijadikan Tuhan?” ujar Ustadz Ainur menegaskan.

Beliau menambahkan bahwa setiap kepercayaan turun-temurun yang tidak bersandar pada Al-Qur’an dan Sunnah wajib diluruskan. “Di dunia tidak ada yang Maha Kuasa kecuali Allah. Segala bentuk kesyirikan adalah kedzaliman, termasuk kedzaliman terhadap diri sendiri,” jelasnya. Bahkan, beliau mengaitkan fenomena kesyirikan dengan kondisi sosial—bahwa wilayah yang dipenuhi kesyirikan biasanya dekat dengan kebodohan, kemiskinan, dan kehinaan.

Ustadz Ainur juga menyampaikan bahwa antara sains dan keimanan tidaklah bertentangan, sebab keduanya berjalan beriringan dalam menunjukkan kebesaran Allah. Namun, budaya manusia sering kali tidak selaras dengan ajaran agama sehingga perlu kehati-hatian dalam mengikutinya.

Dalam penjelasan ayat, Ustadz Ainur memaparkan perbedaan bacaan pada kata wa‘adnā (وَعَدْنَا) yang bisa dibaca pendek atau panjang. Keduanya benar, dengan makna dan alasan masing-masing, namun tidak boleh dicampur dalam satu bacaan.

Lebih jauh, dalam ayat-ayat tersebut juga dijelaskan bahwa Allah memerintahkan orang-orang Bani Israil yang tidak menyembah patung anak sapi untuk menghukum mati mereka yang menyembahnya. Menurut Ustadz Ainur, syariat yang keras ini turun karena kerasnya kepala kaum tersebut. “Tidak pantas bagi seseorang terus diberi nikmat namun tidak pernah bersyukur kepada yang memberi, bahkan justru berterima kasih kepada selain-Nya,” tuturnya.

Beliau juga menekankan bahwa Allah tetap memberikan ampunan bagi Bani Israil agar mereka bersyukur, namun watak mereka digambarkan sangat sulit mensyukuri nikmat. Dari sini umat Islam dapat mengambil hikmah bahwa ketika manusia melakukan kesalahan, Allah tidak serta-merta mengazab, tetapi memberikan kesempatan untuk memperbaiki diri.

Dalam ayat lain, dibahas pula tentang Al-Furqan yang sebagian ulama menafsirkannya sebagai Taurat karena berfungsi membedakan antara yang hak dan batil, sementara sebagian ulama memaknainya sebagai peristiwa terbelahnya lautan. Selain itu, kata tsumma dijelaskan sebagai penanda adanya jeda atau jeda waktu setelah kematian.

Pada penutup kajian, Ustadz Ainur mengingatkan pentingnya perintah Allah untuk memakan makanan yang ṭayyib. Menurut beliau, menjaga pola makan bukan hanya persoalan kesehatan, tetapi juga bentuk ibadah. “Memilih makanan yang sehat dan menjauhi yang tidak baik adalah bagian dari menjalankan perintah Allah,” pungkasnya.

Kajian Tafsir Online ke-72 ini memberikan banyak pelajaran mendalam mengenai ketauhidan, syukur, serta bahaya mengikuti tradisi yang tidak selaras dengan ajaran Islam. Melalui kisah Nabi Musa dan Bani Israil, umat diingatkan untuk tetap teguh dalam keimanan dan tidak terjerumus pada bentuk-bentuk kesyirikan masa kini.

Kajian Tafsir UMS Kupas Kisah Nabi Musa dan Pembangkangan Bani Israil Read More »

UMS Tekankan Pentingnya Kesehatan Gigi dalam Perspektif Islam pada Qiyamulail ke-193

SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menyelenggarakan Qiyamulail dan Doa Bersama ke–193 pada Jumat (14/11/2025) pukul 03.30–04.00 WIB secara daring. Kegiatan rutin ini menghadirkan Dr. drg. Noor Hafida, Sp.Kg., yang membawakan materi berjudul Pandangan Islam tentang Kesehatan dan Kebersihan Gigi.

Dalam tausiahnya, Dr. Noor Hafida menegaskan bahwa Islam memberikan perhatian besar terhadap kesehatan gigi. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah SWT pada QS. Al-Maidah ayat 45 yang menyebutkan bahwa gigi termasuk bagian tubuh yang memiliki nilai hukum qishash, menunjukkan betapa pentingnya posisi gigi dalam kehidupan manusia.

“Ayat tersebut mengingatkan kita bahwa gigi adalah bagian yang dijaga kehormatannya, menunjukkan bahwa Islam memandang kesehatan dan kebersihan gigi sebagai sesuatu yang sangat penting,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa kesehatan gigi berkaitan erat dengan kesehatan tubuh secara keseluruhan. Secara medis, infeksi atau peradangan pada rongga mulut dapat memengaruhi organ lain melalui aliran darah. Penyakit gusi seperti periodontitis memiliki hubungan kuat dengan risiko diabetes melitus, gangguan kardiovaskular, hingga komplikasi kehamilan.

Kondisi rongga mulut yang tidak terawat juga dapat memengaruhi fungsi sistemik tubuh lainnya. Karena itu, menjaga kesehatan gigi bukan sekadar persoalan estetika, tetapi bagian dari menjaga keseimbangan fisiologis tubuh dan menjalankan amanah keagamaan untuk memelihara kesehatan.

Di akhir tausiah, Dr. Noor Hafida mengajak seluruh civitas akademika untuk semakin peduli terhadap kebersihan gigi dan mulut sebagai bagian dari ibadah dan wujud syukur atas nikmat kesehatan.

Kegiatan Qiyamulail dan Doa Bersama UMS ini kembali menjadi ruang refleksi spiritual sekaligus edukasi kesehatan bagi seluruh peserta.

UMS Tekankan Pentingnya Kesehatan Gigi dalam Perspektif Islam pada Qiyamulail ke-193 Read More »

Prof. Solikin: Mahasiswa Berkemajuan Dimulai dari Iman yang Kokoh

SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) resmi membuka Baitul Arqam Kloter 19 pada Senin (25/11), sebuah kegiatan pembinaan ideologis dan keislaman yang menjadi bagian dari mata kuliah agama bagi mahasiswa semester 1. Pada pembukaan hari pertama, mahasiswa mendapatkan kuliah umum dari Prof. Ir. Mochamad Solikin, M.T., Ph.D., selaku Dekan Fakultas Teknik UMS. Dalam sesi tersebut, Prof. Solikin menyampaikan materi bertema penguatan iman, amal salih, serta nilai-nilai berkemajuan dalam Islam.

Dalam penyampaiannya, Prof. Solikin menegaskan bahwa menghadiri majelis ilmu merupakan aktivitas yang sangat dianjurkan dalam Islam. Ia mengawali materinya dengan hadits riwayat Muslim tentang keutamaan orang-orang yang berkumpul untuk membaca dan mempelajari Al-Qur’an. “Majelis ilmu menghadirkan ketenangan, rahmat, perlindungan para malaikat, dan disebut Allah di tengah makhluk-Nya,” ujarnya di hadapan ratusan mahasiswa baru.

Pada bagian awal materi, Prof. Solikin menguraikan pentingnya iman kokoh sebagai fondasi karakter mahasiswa Muslim. Ia mengajak mahasiswa untuk bersyukur terlahir sebagai Muslim dan menegaskan bahwa Islam merupakan agama wahyu yang disempurnakan Allah, sebagaimana termaktub dalam QS. Ali Imran ayat 19 dan QS. Al-Maidah ayat 3.

Ia juga menjelaskan perbedaan mendasar antara Islam dan iman, serta menegaskan bahwa keenam rukun iman harus tertanam kuat dalam diri setiap mahasiswa. Menurutnya, iman bukan sekadar keyakinan, melainkan kesadaran bahwa manusia diciptakan sebagai khalifah di bumi, sebagaimana digambarkan dalam QS. Al-Baqarah ayat 30. Fondasi iman inilah yang akan menuntun mahasiswa menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan berakhlak mulia.

Dalam materi berikutnya, Prof. Solikin menyoroti eratnya hubungan antara ilmu, iman, dan amal salih. Mengutip QS. Al-Bayyinah ayat 7, ia menegaskan bahwa orang beriman dan beramal salih adalah sebaik-baik makhluk.

Ia juga menyampaikan pandangan Ibn Taimiyah bahwa iman dapat bertambah melalui ketaatan dan berkurang karena maksiat. Selain itu, Prof. Solikin menekankan pentingnya memahami agama, sebagaimana tertuang dalam hadits sahih: “Barang siapa yang Allah kehendaki memperoleh kebaikan, maka Allah akan memahamkannya tentang agama.” Ia menambahkan bahwa keikhlasan adalah syarat utama bagi setiap amal, sebagaimana dijelaskan para ulama tasawuf.

Pada sesi akhir, Prof. Solikin mengaitkan iman dan amal dengan konsep Islam Berkemajuan. Ia menampilkan penjelasan terkait pentingnya ketertiban ibadah seperti penegakan arah kiblat, serta adab dalam bersedekah yang dicontohkan Al-Qur’an. Nilai-nilai ini, menurutnya, menjadi fondasi kemajuan pribadi sekaligus kemajuan peradaban.

“Islam tidak hanya mengajarkan kesalehan spiritual, tetapi juga mengarahkan kita untuk tertib, disiplin, jujur, dan bertanggung jawab. Itulah karakter maju yang harus dimiliki mahasiswa UMS,” tegasnya.

Pembukaan Baitul Arqam Kloter 19 berlangsung tertib dan penuh antusias. Sebagai bagian dari mata kuliah agama, kegiatan ini bertujuan membentuk mahasiswa baru agar memiliki pemahaman keislaman yang kokoh, karakter berakhlak mulia, serta integritas sebagai calon intelektual Muhammadiyah.

Program ini menjadi langkah awal pembinaan yang akan berlanjut dengan rangkaian materi keislaman, kemuhammadiyahan, hingga praktik ibadah, sebagai bekal mahasiswa menjalani kehidupan akademik dan sosial di lingkungan kampus.

Prof. Solikin: Mahasiswa Berkemajuan Dimulai dari Iman yang Kokoh Read More »

Kajian Tarjih UMS Tegaskan Etika Berpakaian Muslimah di Era Tren Fashion Modern

SURAKARTA Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menyelenggarakan Kajian Tarjih Online dengan melanjutkan pembahasan fikih wanita, khususnya mengenai aurat dan etika berpakaian muslimah dalam konteks modern. Kajian ini dipandu oleh Dr. Mahasri Shohabiyah, M.Ag., yang menyoroti batasan aurat perempuan serta praktik berbusana yang sesuai syariat.

Dalam pemaparannya, Mahasri kembali menegaskan ketentuan syariat bahwa perempuan wajib menutup aurat kecuali di hadapan pihak-pihak tertentu sebagaimana disebutkan dalam QS. An-Nur ayat 31. Di antaranya adalah suami, ayah, ayah mertua, putra kandung, putra suami, saudara laki-laki, keponakan dari saudara laki-laki maupun perempuan, sesama perempuan, pelayan laki-laki yang tidak memiliki syahwat, serta anak kecil yang belum memahami aurat wanita.

Terkait fenomena perempuan yang masih belum sepenuhnya menutup aurat, Mahasri menekankan pentingnya saling mengingatkan dengan cara yang santun. Jika sudah diingatkan namun belum berubah, maka kewajiban seorang muslim adalah mendoakan yang bersangkutan. “Mengajak kepada kebaikan itu ada tahapannya. Jika tidak bisa dengan tangan atau lisan, minimal dengan doa,” ujarnya.

Mengenai tren berlari, olahraga, dan mode fashion kekinian, Mahasri mengingatkan bahwa gaya berpakaian tetap harus mempertimbangkan kaidah syariat: tidak ketat, tidak transparan, dan tidak menonjolkan lekuk tubuh. Namun demikian, aspek keluwesan dan kenyamanan tetap dapat disesuaikan selama tidak melanggar batas syar’i.

Dalam sesi lain, audiens menanyakan tentang penggunaan semir rambut, alis, hingga skincare yang kini banyak digandrungi perempuan. Mahasri menjelaskan bahwa hal-hal tersebut diperbolehkan selama tidak menghalangi sampainya air wudu ke kulit dan menggunakan bahan yang halal. “Selama tidak menutup pori atau menghalangi air, semir dan make-up tidak dilarang. Skincare juga boleh selama aman dan halal,” jelasnya.

Kajian ditutup dengan penegasan bahwa etika berpakaian muslimah adalah bagian dari upaya menjaga kehormatan diri, sekaligus tantangan di tengah maraknya tren fashion modern. Syariat tetap menjadi pedoman utama dalam berpenampilan, tanpa menghilangkan unsur kenyamanan dan keindahan yang dibolehkan agama.

Kajian Tarjih UMS Tegaskan Etika Berpakaian Muslimah di Era Tren Fashion Modern Read More »

Kajian Tafsir UMS Soroti Sikap Bani Israil dan Relevansinya dengan Pemimpin Masa Kini

SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menggelar Kajian Tafsir Al-Qur’an Online sebagai upaya meningkatkan pemahaman spiritual para tenaga pendidik. Kajian yang berlangsung pada Minggu (23/11) ini menghadirkan Dr. Ainur Rha’in Bakrun, S.Th.I., M.Th., Dosen Ilmu Qur’an dan Tafsir (IQT) FAI UMS, yang mengupas kandungan surat Al-Baqarah ayat 40–50.

Dalam pemaparannya, Rha’in memulai dengan menjelaskan identitas Bani Israil sebagai keturunan Nabi Ya’qub AS. Ayat demi ayat kemudian diuraikan mulai dari perintah untuk mengingat nikmat Allah, memenuhi janji, hingga kewajiban beriman kepada Al-Qur’an sebagai kitab yang membenarkan Taurat.

Rha’in juga menyoroti sikap Bani Israil yang menutup-nutupi kebenaran Nabi Muhammad SAW karena kecewa nabi terakhir tidak berasal dari golongan mereka. Menurutnya, sikap ini relevan dengan kondisi sebagian pemimpin masa kini yang enggan menyuarakan kebenaran demi menjaga jabatan.

Memasuki ayat 43–44, ia menekankan pentingnya salat, zakat, serta menjaga persatuan, sekaligus ajakan untuk mengintrospeksi diri sebelum menyeru orang lain kepada kebaikan. Pada ayat berikutnya, ia menjelaskan bahwa sabar dan salat menjadi jalan utama untuk memohon pertolongan Allah, sebagaimana ditafsirkan oleh Ibn Jarir bahwa sabar dalam ayat tersebut bermakna puasa.

Kajian ditutup dengan penjelasan ayat 49–50 yang menggambarkan bagaimana Allah menyelamatkan Bani Israil dari kekejaman Fir’aun, sebagai bukti kekuasaan dan pertolongan Allah bagi hamba yang beriman. Ayat-ayat ini juga menjadi pengingat agar manusia mempersiapkan amal sebelum datangnya hari kiamat.

Kajian Tafsir UMS Soroti Sikap Bani Israil dan Relevansinya dengan Pemimpin Masa Kini Read More »

Pembukaan Baitul Arqam Kloter 18, Dr. Nur Aklis Soroti Akidah sebagai Penggerak Intelektual Muslim

SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) membuka secara resmi Baitul Arqam Kloter 18 pada Kamis (21/11), ditandai dengan penyampaian kuliah umum oleh Dr. Nur Aklis, S.T., M.Eng., Wakil Dekan I Fakultas Teknik UMS. Pada pembukaan hari pertama ini, ia mengangkat tema “Implementasi Nilai-Nilai Akidah dalam Membentuk Karakter Mulia dan Berjiwa Progresif Berkemajuan.”

Dalam paparannya, Dr. Nur Aklis menegaskan bahwa akidah merupakan fondasi paling mendasar dalam membentuk orientasi hidup seorang Muslim, termasuk bagi civitas akademika. “Akidah tidak hanya berhenti pada konsep, tetapi harus menjadi pondasi kehidupan, sumber kemuliaan moral, serta pendorong kemajuan peradaban,” ujarnya di hadapan peserta.

Sesi materi diawali dengan penjelasan mengenai ruang lingkup akidah yang mencakup aspek ilahiyat, nubuwwat, ruhaniyat, dan sam’iyyat. Melalui landasan Qur’ani, ia memaparkan bahwa akidah yang lurus mampu meneguhkan arah hidup serta menumbuhkan ketenteraman jiwa. Dr. Nur Aklis menekankan bahwa pemahaman akidah yang benar memiliki dampak langsung terhadap perilaku, etika, dan integritas seseorang.

Selain itu, ia menyampaikan bahwa akidah berperan penting dalam membentuk moralitas yang kokoh. Keimanan kepada Allah dan keyakinan akan hari akhir, menurutnya, melahirkan integritas dan tanggung jawab dalam setiap aktivitas. “Orang yang yakin amalnya akan dipertanggungjawabkan tidak akan pernah curang,” tegasnya.

Materi kemudian berlanjut pada penjabaran tentang hubungan akidah dengan kemajuan peradaban. Ia memaparkan bagaimana ajaran Islam yang menekankan integrasi antara zikir dan fikir telah menjadi pendorong pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan di era kejayaan peradaban Islam. Akidah, menurutnya, justru menjadi motor inovasi, bukan penghambat kemajuan.

Dr. Nur Aklis juga menguraikan nilai akidah yang berperan membentuk karakter mulia seperti shidiq (jujur), amanah, fathanah (cerdas), dan tabligh (komunikatif). Nilai-nilai ini, katanya, merupakan karakter fundamental yang wajib dimiliki mahasiswa sebagai intelektual Muslim.

Pada sesi berikutnya, ia menjelaskan ciri-ciri mahasiswa berkarakter progresif berkemajuan, di antaranya mencintai ilmu dan riset, berpikir kritis namun tetap beradab, adaptif terhadap perubahan teknologi, peduli sosial, serta memiliki kreativitas dan inovasi. Hal ini sejalan dengan visi Islam Berkemajuan yang diusung Muhammadiyah.

Sebagai penutup, Dr. Nur Aklis memberikan panduan implementatif bagi peserta, mulai dari penguatan ibadah harian, kedisiplinan, literasi, kejujuran akademik, hingga etika dalam bermedia sosial. Ia mengingatkan bahwa mahasiswa harus menjauhi plagiarisme, kecurangan, serta konten tidak bermartabat di ranah digital, dan sebaliknya menjadi penyebar narasi kebaikan.

Pembukaan Baitul Arqam Kloter 18 berlangsung dengan khidmat dan mendapat respons antusias dari peserta. Kegiatan ini menjadi bagian penting dari upaya UMS meneguhkan komitmen dalam membentuk sumber daya manusia yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kokoh secara spiritual, berakhlak mulia, dan siap berkontribusi dalam memajukan masyarakat.

Pembukaan Baitul Arqam Kloter 18, Dr. Nur Aklis Soroti Akidah sebagai Penggerak Intelektual Muslim Read More »

Dr. Lisnawati Paparkan Indikator Pribadi Matang pada Qiyamulail ke-192 UMS

SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menyelenggarakan Qiyamulail dan Do’a Bersama ke-192 pada Jumat (14/11). Kegiatan rutin yang dimulai pada pukul 03.30 WIB tersebut menghadirkan Dr. Lisnawati Ruhaena, S.Psi., M.Si., Psikolog sebagai pemberi tausiyah dengan materi bertajuk “Pribadi Matang, Institusi Berkembang.”

Dalam pemaparannya, Dr. Lisnawati menekankan bahwa kemajuan sebuah institusi tidak dapat dilepaskan dari kualitas pribadi para individu yang berada di dalamnya. “Setiap pribadi itu unik, memiliki kelebihan dan kekurangan, serta bertumbuh dalam ritme yang berbeda-beda. Ketika pribadi berkembang, kelompok akan menguat, dan institusi pun akan tumbuh,” ungkapnya.

Pribadi, Kelompok, dan Institusi Harus Berjalan Selaras

Pemateri menjelaskan bahwa di dalam sebuah lembaga terdapat tiga lapis komponen pembentuk, yaitu pribadi, kelompok, dan institusi.

  • Pribadi adalah fondasi awal yang menuntut kesadaran akan keunikan diri.
  • Kelompok adalah kerja bersama beberapa pribadi yang harus menghadirkan sinergi harmonis untuk mencapai tujuan.
  • Institusi adalah kolaborasi antar kelompok yang memerlukan manajemen efektif, peran pemimpin yang signifikan, dan kontribusi aktif dari seluruh anggota.

“Institusi tidak hanya bertumpu pada pemimpin. Mereka yang dipimpin pun memiliki peran penentu,” jelasnya.

Dalam sesi tausiyah, Dr. Lisnawati memaparkan delapan indikator utama pribadi matang yang menjadi pondasi bagi berkembangnya sebuah institusi, yaitu:

  1. Pikiran – Memiliki isi pikiran positif dan self-talk yang memberdayakan.
  2. Perasaan – Fleksibel terhadap perubahan dan luwes terhadap perbedaan.
  3. Perilaku – Mampu bekerja dengan hasil nyata serta berkarya memberi makna.
  4. Hasil – Terwujud dalam amal sholeh dan capaian prestasi.
  5. Kesadaran diri – Menghargai diri sendiri serta mampu mengenali kelebihan dan kekurangan.
  6. Emosi – Mampu mengendalikan emosi dan merespons secara rasional.
  7. Tanggung jawab – Menjunjung amanah, komitmen, serta terbuka pada kritik untuk perbaikan diri.
  8. Relasi – Aktif mendengarkan, empati, dan dapat mengelola konflik secara konstruktif.

Qiyamulail dan Do’a Bersama di lingkungan UMS menjadi ruang pembinaan spiritual yang sekaligus memperkuat karakter pegawai dan sivitas akademika. Melalui materi ini, peserta diajak untuk merefleksikan kualitas diri, memperbaiki hubungan kerja, dan meningkatkan kontribusi dalam institusi.

Kegiatan ditutup dengan doa bersama sebagai bentuk harapan agar seluruh pribadi di UMS terus bertumbuh menjadi pribadi matang yang mampu mendorong perkembangan institusi secara berkelanjutan.

Dr. Lisnawati Paparkan Indikator Pribadi Matang pada Qiyamulail ke-192 UMS Read More »

Lonjakan Gugatan Cerai Istri Jadi Sorotan Kajian Tarjih UMS

SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali mengadakan Kajian Tarjih Online dengan mengundang Yayuli, S.Ag., M.Pd., sebagai pembicara pada Selasa (18/11). Kali ini, Yayuli membahas topik “Gugatan Cerai Istri atas Suami Tanpa Adanya Udzur Syar’i”, yang dianggap relevan karena semakin tingginya kasus perceraian di pengadilan agama, terutama dari pihak istri.

Dalam sesinya, Yayuli memulai dengan pertanyaan yang pernah diajukan ke Majelis Tarjih, yaitu tentang hukum istri meminta cerai tanpa ada alasan syariah, meski rumah tangga telah berlangsung tujuh tahun dan memiliki tiga anak.
Menanggapi hal itu, ia menjelaskan bahwa pernikahan adalah ibadah yang dapat menyempurnakan separuh agama, seperti yang diriwayatkan dari Anas bin Malik RA.

Selanjutnya, Yayuli menjelaskan beberapa ciri pasangan yang baik dalam rumah tangga, berdasarkan hadis dari Abu Hurairah.
Beberapa di antaranya adalah kemampuan memberikan rasa bahagia, ketaatan pada hal-hal baik, serta kesanggupan menjaga kepercayaan ketika suami tidak ada di rumah.

Ia juga menyoroti penyebab umum ketidakharmonisan rumah tangga, termasuk hilangnya rasa cinta istri.
Menurutnya, kondisi tersebut perlu ditinjau dengan objektif, apakah disebabkan oleh faktor perselingkuhan, kurangnya tanggung jawab suami, atau ketidakpuasan dalam kehidupan rumah tangga, seperti yang tercantum dalam QS. Al-Baqarah: 233. Ketimpangan peran antara suami dan istri, menurut Yayuli, bisa menyebabkan keruntuhan pernikahan.

Ia juga mengingatkan bahwa perceraian sudah ada sejak masa Nabi, termasuk kisah Zainab binti Jahsy yang pernah mengadukan rumah tangganya.
Meskipun diperbolehkan dalam Islam, Yayuli menekankan bahwa Nabi pernah bersabda bahwa talak adalah hal yang diizinkan tetapi paling dibenci oleh Allah.

Sebelum memutuskan bercerai, Yayuli mendorong pasangan untuk mencoba menyelesaikan masalah dengan cara islah, dengan bantuan pihak ketiga atau juru damai.
Ini dianggap sebagai langkah pencegahan agar tidak langsung memilih perceraian.

Di akhir sesi, Yayuli menyampaikan pandangan Majelis Tarjih & Tajdid Muhammadiyah, bahwa perceraian hanya sah jika dihadiri dalam sidang pengadilan agama, sesuai dengan UU Perkawinan dan UU Peradilan Agama.
Menurutnya, aturan ini memberikan perlindungan hukum serta menjamin hak kedua belah pihak.

Lonjakan Gugatan Cerai Istri Jadi Sorotan Kajian Tarjih UMS Read More »

UMS Bahas Makna Kekhalifahan Manusia dalam Kajian Tafsir Surah Al-Baqarah

SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menghadirkan Kajian Tafsir Online dengan pembahasan Surah Al-Baqarah ayat 30–39. Kajian yang disampaikan oleh Dr. Ainur Rha’in, S.Th.I., M.Th.I., ini menyoroti konsep kekhalifahan, peran ilmu, serta perjalanan penciptaan manusia menurut Al-Qur’an.

Dalam pemaparannya, Ainur menjelaskan bahwa ayat 30 menggambarkan dialog antara Allah dan para malaikat saat Allah menyampaikan rencana penciptaan manusia. Kekhawatiran malaikat terhadap potensi kerusakan manusia ditegaskan sebagai bentuk keheranan, bukan penolakan. Allah, lanjutnya, menunjukkan bahwa Dia mengetahui hikmah besar yang tidak dipahami para malaikat.

Ainur menegaskan bahwa sejak awal manusia memang dipersiapkan untuk hidup di bumi sebagai khalifah, yakni makhluk yang memakmurkan dan menjaga amanah kehidupan. Peran ini diperkuat dalam ayat 31–33, ketika Allah mengajarkan kepada Nabi Adam nama-nama benda sebagai simbol keistimewaan manusia melalui ilmu dan akal.

“Ilmu adalah fondasi kekhalifahan. Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya,” ujarnya.

Pada ayat 34, ia menyoroti munculnya kesombongan pertama dalam sejarah ketika Iblis menolak perintah untuk sujud kepada Adam. Menurutnya, ini menjadi peringatan agar manusia tidak menjadikan status kekhalifahan sebagai alasan untuk merasa superior.

Ainur kemudian menjelaskan ayat 35–36 tentang godaan setan kepada Adam dan Hawa hingga keduanya turun ke bumi. Ia menegaskan bahwa peristiwa tersebut merupakan bagian dari ketetapan Allah, sekaligus penegasan bahwa bumi adalah tempat hidup manusia.

Ayat 37 menjadi titik penting ketika Allah mengajarkan Nabi Adam kalimat-kalimat taubat, menunjukkan kasih sayang Allah yang selalu membuka pintu ampunan. Sementara ayat 38–39 menegaskan bahwa petunjuk Allah akan membimbing manusia agar tidak tersesat dan menghindarkan dari rasa takut maupun kesedihan.

Kajian ditutup dengan ajakan bagi umat Islam untuk memahami kembali mandat kekhalifahan: memanfaatkan ilmu, menjaga bumi, menebar manfaat, serta senantiasa kembali kepada petunjuk Allah dalam setiap langkah kehidupan.

UMS Bahas Makna Kekhalifahan Manusia dalam Kajian Tafsir Surah Al-Baqarah Read More »

Hadapi Dunia Nyata, Mahasiswa UMS Bekali Diri Lewat BAPS ke-51

SURAKARTA – Menjelang akhir masa studi, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) tidak hanya disiapkan untuk menyandang gelar akademik, tetapi juga untuk memikul tanggung jawab sosial dan keislaman. Komitmen tersebut tercermin dalam pelaksanaan Baitul Arqam Purna Studi (BAPS) ke-51 yang digelar oleh Lembaga Pengembangan Pondok, Al-Islam, dan Kemuhammadiyahan (LPPIK) pada hari Sabtu (15/11).

Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa lintas fakultas sebagai ruang refleksi sekaligus penguatan nilai sebelum mereka memasuki fase baru kehidupan pascakampus. BAPS ke-51 dirancang sebagai proses pematangan diri, menyatukan aspek spiritual, ideologis, moral, dan kesiapan praktis dalam satu rangkaian pembinaan terpadu.

Pembekalan dimulai dengan penguatan dimensi kepemimpinan spiritual melalui materi Spiritual Leadership yang disampaikan Prof. Ihwan Susila, S.E., M.Si., Ph.D. Peserta diajak memahami bahwa kepemimpinan sejati tidak hanya bertumpu pada kemampuan manajerial, tetapi juga pada kejernihan nurani dan nilai-nilai ketuhanan.

Kesadaran identitas sebagai lulusan Muhammadiyah diperkuat pada sesi berikutnya bersama Dr. Mutohharun Jinan, M.Ag. Ia menegaskan bahwa sarjana Muhammadiyah memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi insan berilmu yang berakhlak, mandiri, serta peka terhadap persoalan sosial dan kemanusiaan.

Aspek kesiapan menghadapi realitas dunia kerja menjadi fokus dalam sesi Persiapan Karir yang dibawakan Moh. Indra Bangsawan, S.H., M.H. Dalam paparannya, ia mengajak mahasiswa membaca perubahan zaman secara kritis, termasuk tantangan disrupsi teknologi dan kecerdasan buatan, sekaligus mendorong mereka untuk terus belajar, membangun jejaring, dan menciptakan peluang secara mandiri.

Dimensi ibadah praktis mendapat perhatian khusus melalui materi Taharoh dan Shalat yang disampaikan Dr. Azhar Alam, Lc., S.E., M.SEI. Ia menekankan bahwa kekuatan spiritual seorang muslim bermula dari kesadaran menjaga kesucian dan konsistensi shalat sebagai sumber ketenangan hidup.

Sebagai penutup, Dr. Mahasri Shobahiya, M.Ag. mengajak peserta merefleksikan kembali fondasi Akhlak dan Aqidah. Ia mengingatkan bahwa kesuksesan sejati bukan semata capaian duniawi, melainkan kehidupan yang senantiasa diarahkan pada ridha Allah melalui iman yang kokoh dan amal saleh yang berkelanjutan.

Melalui BAPS ke-51, UMS menegaskan bahwa kelulusan bukanlah garis akhir, melainkan gerbang awal pengabdian. Mahasiswa diharapkan mampu melangkah ke tengah masyarakat sebagai pribadi yang utuh—cerdas, berakhlak, dan berkomitmen menebarkan nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan dalam setiap peran yang dijalani.

Hadapi Dunia Nyata, Mahasiswa UMS Bekali Diri Lewat BAPS ke-51 Read More »

Scroll to Top