Kajian Tafsir UMS Kupas Kisah Nabi Musa dan Pembangkangan Bani Israil
SURAKARTA – Kajian Tafsir Online ke-72 kembali digelar pada Sabtu, 29 November 2025, menghadirkan Ustadz Ainur Rha’in sebagai pemateri. Dalam pertemuan kali ini, peserta diajak memperdalam makna QS. Al-Baqarah ayat 51–59 yang mengisahkan perjalanan Nabi Musa ‘alaihissalam serta pembangkangan Bani Israil, sebagai pelajaran penting bagi umat manusia sepanjang zaman.
Mengawali kajiannya, Ustadz Ainur menjelaskan bahwa rangkaian kisah tentang Bani Israil dalam Al-Qur’an bukan sekadar sejarah, tetapi peringatan agar umat setelahnya tidak mengulangi bentuk-bentuk pembangkangan yang mereka lakukan. Salah satu pembangkangan terbesar terjadi ketika Nabi Musa menerima wahyu selama 40 malam di Bukit Thur Sina. “Disebut malam karena tradisi bertahannus atau mendekatkan diri kepada Allah biasanya dilakukan pada malam hari, seperti halnya iktikaf di masjid,” terangnya.
Selama masa gaib Nabi Musa tersebut, Bani Israil justru terjerumus pada kesesatan dengan mendirikan patung anak sapi dan menyembahnya. Ironisnya, patung itu merepresentasikan dewa yang dahulu diyakini masyarakat Mesir kuno—kepercayaan yang terbawa karena Bani Israil pernah hidup sebagai budak di Mesir. “Padahal anak sapi itu sendiri masih membutuhkan induknya, dan induknya bergantung pada manusia. Bagaimana mungkin sesuatu yang bergantung dapat dijadikan Tuhan?” ujar Ustadz Ainur menegaskan.
Beliau menambahkan bahwa setiap kepercayaan turun-temurun yang tidak bersandar pada Al-Qur’an dan Sunnah wajib diluruskan. “Di dunia tidak ada yang Maha Kuasa kecuali Allah. Segala bentuk kesyirikan adalah kedzaliman, termasuk kedzaliman terhadap diri sendiri,” jelasnya. Bahkan, beliau mengaitkan fenomena kesyirikan dengan kondisi sosial—bahwa wilayah yang dipenuhi kesyirikan biasanya dekat dengan kebodohan, kemiskinan, dan kehinaan.
Ustadz Ainur juga menyampaikan bahwa antara sains dan keimanan tidaklah bertentangan, sebab keduanya berjalan beriringan dalam menunjukkan kebesaran Allah. Namun, budaya manusia sering kali tidak selaras dengan ajaran agama sehingga perlu kehati-hatian dalam mengikutinya.
Dalam penjelasan ayat, Ustadz Ainur memaparkan perbedaan bacaan pada kata wa‘adnā (وَعَدْنَا) yang bisa dibaca pendek atau panjang. Keduanya benar, dengan makna dan alasan masing-masing, namun tidak boleh dicampur dalam satu bacaan.
Lebih jauh, dalam ayat-ayat tersebut juga dijelaskan bahwa Allah memerintahkan orang-orang Bani Israil yang tidak menyembah patung anak sapi untuk menghukum mati mereka yang menyembahnya. Menurut Ustadz Ainur, syariat yang keras ini turun karena kerasnya kepala kaum tersebut. “Tidak pantas bagi seseorang terus diberi nikmat namun tidak pernah bersyukur kepada yang memberi, bahkan justru berterima kasih kepada selain-Nya,” tuturnya.
Beliau juga menekankan bahwa Allah tetap memberikan ampunan bagi Bani Israil agar mereka bersyukur, namun watak mereka digambarkan sangat sulit mensyukuri nikmat. Dari sini umat Islam dapat mengambil hikmah bahwa ketika manusia melakukan kesalahan, Allah tidak serta-merta mengazab, tetapi memberikan kesempatan untuk memperbaiki diri.
Dalam ayat lain, dibahas pula tentang Al-Furqan yang sebagian ulama menafsirkannya sebagai Taurat karena berfungsi membedakan antara yang hak dan batil, sementara sebagian ulama memaknainya sebagai peristiwa terbelahnya lautan. Selain itu, kata tsumma dijelaskan sebagai penanda adanya jeda atau jeda waktu setelah kematian.
Pada penutup kajian, Ustadz Ainur mengingatkan pentingnya perintah Allah untuk memakan makanan yang ṭayyib. Menurut beliau, menjaga pola makan bukan hanya persoalan kesehatan, tetapi juga bentuk ibadah. “Memilih makanan yang sehat dan menjauhi yang tidak baik adalah bagian dari menjalankan perintah Allah,” pungkasnya.
Kajian Tafsir Online ke-72 ini memberikan banyak pelajaran mendalam mengenai ketauhidan, syukur, serta bahaya mengikuti tradisi yang tidak selaras dengan ajaran Islam. Melalui kisah Nabi Musa dan Bani Israil, umat diingatkan untuk tetap teguh dalam keimanan dan tidak terjerumus pada bentuk-bentuk kesyirikan masa kini.
Kajian Tafsir UMS Kupas Kisah Nabi Musa dan Pembangkangan Bani Israil Read More »












