SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menyelenggarakan Qiyamulail dan Do’a Bersama ke-192 pada Jumat (14/11). Kegiatan rutin yang dimulai pada pukul 03.30 WIB tersebut menghadirkan Dr. Lisnawati Ruhaena, S.Psi., M.Si., Psikolog sebagai pemberi tausiyah dengan materi bertajuk “Pribadi Matang, Institusi Berkembang.”
Dalam pemaparannya, Dr. Lisnawati menekankan bahwa kemajuan sebuah institusi tidak dapat dilepaskan dari kualitas pribadi para individu yang berada di dalamnya. “Setiap pribadi itu unik, memiliki kelebihan dan kekurangan, serta bertumbuh dalam ritme yang berbeda-beda. Ketika pribadi berkembang, kelompok akan menguat, dan institusi pun akan tumbuh,” ungkapnya.
Pribadi, Kelompok, dan Institusi Harus Berjalan Selaras
Pemateri menjelaskan bahwa di dalam sebuah lembaga terdapat tiga lapis komponen pembentuk, yaitu pribadi, kelompok, dan institusi.
- Pribadi adalah fondasi awal yang menuntut kesadaran akan keunikan diri.
- Kelompok adalah kerja bersama beberapa pribadi yang harus menghadirkan sinergi harmonis untuk mencapai tujuan.
- Institusi adalah kolaborasi antar kelompok yang memerlukan manajemen efektif, peran pemimpin yang signifikan, dan kontribusi aktif dari seluruh anggota.
“Institusi tidak hanya bertumpu pada pemimpin. Mereka yang dipimpin pun memiliki peran penentu,” jelasnya.
Dalam sesi tausiyah, Dr. Lisnawati memaparkan delapan indikator utama pribadi matang yang menjadi pondasi bagi berkembangnya sebuah institusi, yaitu:
- Pikiran – Memiliki isi pikiran positif dan self-talk yang memberdayakan.
- Perasaan – Fleksibel terhadap perubahan dan luwes terhadap perbedaan.
- Perilaku – Mampu bekerja dengan hasil nyata serta berkarya memberi makna.
- Hasil – Terwujud dalam amal sholeh dan capaian prestasi.
- Kesadaran diri – Menghargai diri sendiri serta mampu mengenali kelebihan dan kekurangan.
- Emosi – Mampu mengendalikan emosi dan merespons secara rasional.
- Tanggung jawab – Menjunjung amanah, komitmen, serta terbuka pada kritik untuk perbaikan diri.
- Relasi – Aktif mendengarkan, empati, dan dapat mengelola konflik secara konstruktif.
Qiyamulail dan Do’a Bersama di lingkungan UMS menjadi ruang pembinaan spiritual yang sekaligus memperkuat karakter pegawai dan sivitas akademika. Melalui materi ini, peserta diajak untuk merefleksikan kualitas diri, memperbaiki hubungan kerja, dan meningkatkan kontribusi dalam institusi.
Kegiatan ditutup dengan doa bersama sebagai bentuk harapan agar seluruh pribadi di UMS terus bertumbuh menjadi pribadi matang yang mampu mendorong perkembangan institusi secara berkelanjutan.



