Persiapan Dunia Kerja: Lulusan UMS Diminta Kuasai Soft Skill agar Menang Bersaing

SURAKARTA – Calon lulusan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) didorong untuk memperkuat soft skill dan kemampuan komunikasi sebagai modal utama memenangkan persaingan kerja yang kian ketat. Hal ini menjadi sorotan utama dalam pembekalan Baitul Arqam Purna Studi (BAPS) ke-55 yang digelar di Kampus UMS, Selasa (2/4).

Dalam sesi pembekalan tersebut, Ahmad Kholid Al Ghofari menekankan bahwa kompetensi akademik saja tidak lagi cukup untuk memenangkan persaingan di pasar tenaga kerja modern. Ia menyoroti pentingnya penguasaan soft skills sebagai instrumen utama dalam berorganisasi dan berkomunikasi di lingkungan profesional.

Strategi Cari Kerja Melalui Penguatan Soft Skill

Kholid menjelaskan bahwa kemampuan berkomunikasi yang efektif merupakan kunci utama yang dicari oleh perusahaan. Menurutnya, mahasiswa harus mampu menerjemahkan bahasa akademis yang kaku menjadi bahasa yang mudah dipahami oleh masyarakat luas atau rekan kerja.

“Bagaimana supaya kita bisa berkomunikasi secara efektif? Salah satu poinnya adalah be humble (rendah hati). Jika Anda tidak sabar dan tidak mampu mendengarkan, maka komunikasi akan terhambat,” ujar Ahmad Kholid Al Ghofari di depan para calon lulusan UMS.

Ia juga menambahkan bahwa organisasi adalah laboratorium terbaik untuk mengasah kemampuan tersebut. Melalui organisasi, mahasiswa belajar cara menyampaikan ide, berdiskusi, hingga memecahkan masalah secara kolektif yang menjadi bagian penting dari persiapan dunia kerja.

Tips Karier Masa Depan: Aktif Berorganisasi

Lebih lanjut, Kholid mendorong para calon wisudawan untuk terus melatih mental kompetitif agar mampu menjadi unggul di antara ribuan lulusan lainnya. Hal ini selaras dengan skill lulusan sarjana yang dibutuhkan industri saat ini, yaitu ketahanan mental dan adaptabilitas.

“Ikutilah organisasi apa pun itu, karena di sana Anda akan belajar banyak hal. Bagaimana cara memimpin, bagaimana cara berdebat ide, termasuk yang paling penting adalah bagaimana berkomunikasi,” tegas Kholid dalam arahannya.

Sebagai penutup, ia mengingatkan bahwa gelar sarjana hanyalah langkah awal. Keberhasilan jangka panjang sangat ditentukan oleh seberapa besar kontribusi dan cara seseorang menempatkan diri di tengah masyarakat maupun di lingkungan kerja nantinya.

Pemahaman Ibadah: Keseimbangan Vertikal dan Horizontal

Dalam sesi Prinsip-Prinsip Ibadah Menurut Manhaj Tarjih, Dr. Azhar Alam menjelaskan pentingnya memahami ibadah secara komprehensif, baik yang bersifat mahdhah maupun ghairu mahdhah.

Ia menjelaskan bahwa ibadah mahdhah berkaitan langsung dengan hubungan manusia dengan Allah (hablum minallah) dan memiliki konsekuensi besar jika ditinggalkan, seperti dalam ibadah puasa Ramadhan.

Namun demikian, Islam memberikan kemudahan bagi umatnya.

“Bagi yang berhalangan puasa Ramadhan, dapat menggantinya di bulan lain. Sementara bagi yang tidak mampu, seperti karena usia atau sakit menahun, dapat menggantinya dengan membayar fidyah,” jelasnya.

Scroll to Top