Muhammadiyah : Gerakan Islam Berkemajuan Membangun Ekonomi Umat Melalui Entrepreneurship

Surakarta – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melalui Lembaga Pengembangan Pondok, Al-Islam, dan Kemuhammadiyahan (LPPIK) kembali menyelenggarakan Kuliah Umum Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) bagi mahasiswa yang mengambil mata kuliah Kemuhammadiyahan. Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting pada Kamis (16/7/2026) ini menghadirkan H. Dodok Sartono, S.E., M.M., Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah sekaligus Founder Ayam Sako, dengan mengangkat tema “Muhammadiyah: Gerakan Islam Berkemajuan Membangun Ekonomi Umat Melalui Entrepreneurship.”

Dalam pemaparannya, Dodok Sartono menegaskan bahwa Muhammadiyah merupakan gerakan Islam yang berlandaskan dakwah amar ma’ruf nahi munkar dan tajdid dengan tujuan menegakkan serta menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Menurutnya, semangat Islam Berkemajuan tidak hanya diwujudkan melalui dakwah dan pendidikan, tetapi juga melalui penguatan ekonomi umat sebagai bagian dari misi peradaban Muhammadiyah.

Ia menjelaskan bahwa sejak awal berdirinya, Muhammadiyah telah berperan sebagai gerakan pembaruan agama, agen perubahan sosial, sekaligus kekuatan yang berkontribusi bagi kemajuan bangsa. Kini, setelah lebih dari satu abad membangun amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial, Muhammadiyah menghadapi tantangan baru untuk menjadi kekuatan ekonomi umat yang mandiri dan berdaya saing.

“Muhammadiyah bukan sekadar organisasi sosial, tetapi gerakan peradaban,” tegas Dodok. Oleh karena itu, menurutnya, Muhammadiyah tidak cukup hanya menjadi pelaku usaha kecil, melainkan harus menjadi penggerak ekosistem ekonomi umat yang mampu melahirkan pengusaha-pengusaha baru di kalangan jamaah melalui pendekatan sociopreneurship. Konsep tersebut menempatkan bisnis bukan semata-mata sebagai sarana memperoleh keuntungan, tetapi juga sebagai instrumen menciptakan manfaat sosial bagi masyarakat.

Lebih lanjut, Dodok memaparkan paradigma bisnis Muhammadiyah yang berlandaskan pada prinsip halal dan thayyib, dikelola secara profesional, modern, memberikan manfaat sosial, memperkuat amal usaha Muhammadiyah (AUM), serta membuka ruang ekonomi bagi jamaah. Menurutnya, bisnis di lingkungan Muhammadiyah harus diposisikan sebagai media dakwah sekaligus upaya membangun kemandirian umat.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga memperkenalkan konsep Ekosistem Ekonomi Muhammadiyah, yang terdiri atas empat lapisan utama. Lapisan pertama adalah sektor hulu yang dikelola oleh persyarikatan melalui industri strategis, distribusi, infrastruktur, dan keuangan. Lapisan kedua adalah AUM yang menjadi mesin permintaan (demand) bagi produk dan jasa dalam ekosistem Muhammadiyah. Lapisan ketiga merupakan sektor hilir yang dijalankan oleh UMKM jamaah, sedangkan lapisan keempat adalah perluasan pasar hingga tingkat nasional maupun global. Model ini dirancang agar Muhammadiyah membangun infrastruktur ekonomi, sementara jamaah menjadi pelaku usaha yang tumbuh bersama dalam semangat ta’awun atau kerja sama.

Dodok menekankan bahwa konsep tersebut tidak bertujuan menjadikan Muhammadiyah sebagai pesaing usaha anggotanya. Sebaliknya, Muhammadiyah diharapkan mampu menyediakan jaringan, distribusi, pelatihan, hingga bahan baku sehingga usaha-usaha milik jamaah dapat berkembang lebih cepat. Dengan demikian, kekuatan ekonomi Muhammadiyah tidak terpusat pada organisasi, tetapi tersebar melalui lahirnya banyak pengusaha yang memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

Kepada mahasiswa UMS, Dodok mengajak generasi muda untuk membangun jiwa entrepreneur sejak di bangku kuliah. Menurutnya, semangat kewirausahaan bukan hanya tentang membuka usaha, melainkan membangun kemandirian, keberanian berinovasi, serta menghadirkan solusi atas berbagai persoalan sosial. Mahasiswa diharapkan mampu menjadi bagian dari gerakan Islam Berkemajuan yang berkontribusi dalam membangun ekonomi umat sekaligus memperkuat dakwah Muhammadiyah.

Melalui penyelenggaraan Kuliah Umum AIK ini, UMS terus berkomitmen memperkuat pemahaman mahasiswa terhadap nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan yang relevan dengan tantangan zaman. Selain membentuk karakter religius, kegiatan ini diharapkan mampu menumbuhkan generasi Muhammadiyah yang inovatif, mandiri, dan siap menjadi penggerak pembangunan ekonomi umat melalui semangat entrepreneurship.

Scroll to Top