SURAKARTA – Dr. Triono Ali Mustofa menegaskan bahwa mahasiswa sebagai agent of change wajib membawa dampak sosial nyata melalui integrasi nilai ibadah dan aksi sosial. Hal tersebut disampaikan dalam kuliah umum Baitul Arqam 2 Kloter 11 yang berlangsung di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Rabu (8/4).
Mahasiswa UMS kini memikul tanggung jawab besar sebagai penggerak transformasi sosial. Mereka tidak hanya dituntut menguasai akademik, tetapi juga harus mampu mengintegrasikan nilai spiritual ke dalam aksi nyata di masyarakat.
Peran Strategis di Era Disrupsi
Dalam paparannya, Dr. Triono Ali Mustofa, M.Pd.I menekankan bahwa mahasiswa memiliki tiga peran krusial bagi bangsa. Peran tersebut mencakup posisi mereka sebagai pelopor perubahan, pengawas kebijakan publik, dan calon pemimpin masa depan. Namun, tantangan besar seperti hedonisme dan disrupsi teknologi sering kali mengaburkan fokus tersebut.
“Mahasiswa berperan sebagai agent of change atau pelopor perubahan sosial yang positif,” ujar Dr. Triono Ali Mustofa saat mengisi materi Baitul Arqam di Surakarta, Rabu (8/4). Beliau juga menambahkan bahwa mahasiswa harus menjadi iron stock yang siap menggantikan pemimpin bangsa di masa depan dengan bekal karakter yang kuat.

Oleh karena itu, internalisasi nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) menjadi ruh utama di lingkungan kampus. Proses ini bertujuan agar nilai spiritual tidak hanya berhenti di meja kuliah. Mahasiswa wajib membawa nilai tersebut untuk memberikan solusi konkret bagi krisis moral yang sedang melanda berbagai lapisan kehidupan.
Ibadah Berdimensi Sosial
Transformasi sosial yang efektif berawal dari pemahaman ibadah yang utuh. Ibadah tidak boleh hanya berhenti pada ritual formal atau individu semata. Namun, ibadah harus memiliki dimensi sosial yang nyata dan mampu mengubah keadaan masyarakat di sekitarnya menjadi lebih baik.
“Ibadah memiliki dimensi sosial yang nyata dalam kehidupan bermasyarakat,” tegas Dr. Triono Ali Mustofa. Beliau menjelaskan bahwa ritual seperti shalat seharusnya mampu mencegah kemungkaran dan membentuk disiplin sosial yang kuat di tengah masyarakat.
Selanjutnya, integrasi antara ibadah dan tanggung jawab sosial ini akan membentuk karakter mahasiswa berkemajuan. Karakter tersebut sangat penting untuk melawan arus individualisme yang kian menguat. Dengan demikian, mahasiswa mampu menjalankan fungsi social control secara efektif dan beretika.
Sebagai penutup, seluruh elemen di kampus harus bergerak bersama untuk menciptakan dampak yang terukur. Program pengabdian masyarakat yang dilakukan mahasiswa bukan sekadar formalitas akademik. Program tersebut adalah wujud nyata dari strategi islahul ummah untuk perbaikan umat secara menyeluruh dan berkelanjutan.



