Author name: hes121

Kajian Tafsir UMS Ungkap Karakter Munafik dalam Surah Al-Baqarah

SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali melanjutkan Kajian Tafsir Online ke-68 dengan menghadirkan Dr. Ainur Rha’in, S.Th.I., M.Th., sebagai pembicara. Pada kesempatan ini, ia membedah Surah Al-Baqarah ayat 11–20 yang mengungkap karakter mendasar kaum munafik dan dampak buruk perilaku mereka dalam kehidupan masyarakat.

Dalam kajiannya, Ainur menjelaskan bahwa ayat 11–12 menyoroti golongan munafik yang menyebarkan kerusakan namun meyakini bahwa mereka sedang melakukan perbaikan. Ia menegaskan bahwa kerusakan terbesar adalah kesyirikan, sementara praktik seperti korupsi, kolusi, dan nepotisme termasuk bagian dari fasad yang merusak tatanan sosial.

Ia menguraikan sejumlah ciri kemunafikan sebagaimana dijelaskan Nabi, yaitu berbohong, mengingkari janji, dan mengkhianati amanah. Menurutnya, perilaku tersebut banyak ditemukan pada orang-orang yang menampilkan kebaikan hanya untuk pencitraan, bukan karena keikhlasan.

Ainur juga menyoroti sikap kaum munafik yang kerap meremehkan orang beriman serta membentuk kelompok kejahatan yang terorganisir. Dalam ayat-ayat selanjutnya digambarkan bahwa iman mereka rapuh layaknya api yang menyala sekejap lalu padam, sementara hati mereka tertutup dari cahaya kebenaran.

Ia menambahkan bahwa Allah membiarkan kaum munafik tenggelam dalam maksiat hingga tiba waktunya balasan yang setimpal. Mereka disebut sebagai kelompok yang selalu mengambil keuntungan pribadi dan hanya bergerak jika ada manfaat duniawi.

Melalui kajian ini, Ainur mengajak jamaah untuk memahami tanda-tanda kemunafikan agar tidak terjerumus ke dalamnya, sekaligus memperkuat keimanan melalui kejujuran, amanah, dan ketulusan. Kajian tafsir ini menjadi wujud komitmen UMS dalam menghadirkan pemahaman Al-Qur’an yang relevan dengan kondisi sosial masyarakat masa kini.

Kajian Tafsir UMS Ungkap Karakter Munafik dalam Surah Al-Baqarah Read More »

Menjaga Martabat Perempuan: Kajian Tarjih Online UMS Bahas Fatwa Aurat dan Jilbab

SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali mengadakan Kajian Tarjih Online dengan tema “Aurat dan Jilbab Menurut Fatwa Tarjih”, Selasa (28/5). Kegiatan rutin ini dilaksanakan melalui Zoom Meeting dan disiarkan di kanal YouTube TvMu Channel, dengan narasumber Dr. Mahasri Shobahiya, M.Ag.

Dalam paparannya, Dr. Mahasri menjelaskan bahwa fatwa tentang aurat dan jilbab bermula dari pertanyaan yang tercantum dalam Suara Muhammadiyah Nomor 18 Tahun 2003.

Pertanyaan tersebut kemudian ditetapkan sebagai fatwa resmi dalam buku Tanya Jawab Agama Jilid 7 yang diterbitkan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid (MTT) Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Kajian ini membahas dua ayat utama yang menjadi dasar hukum untuk menutup aurat, yaitu Surah An-Nur ayat 31 dan Surah Al-Ahzab ayat 59.

Ayat-ayat ini menegaskan bahwa menutup aurat adalah kewajiban yang bertujuan melindungi kehormatan dan identitas keislaman perempuan.

“Islam datang untuk melindungi dan memuliakan perempuan.

Jilbab bukan sekadar simbol, tapi perintah ilahi untuk menjaga martabat,” kata Mahasri.

Secara bahasa, aurat berarti sesuatu yang harus ditutupi atau menimbulkan rasa malu bila terlihat.

Secara istilah, aurat adalah bagian tubuh yang wajib ditutupi dan haram dilihat orang lain. Sementara itu, kata jilbab berasal dari kata jalbaba yang berarti baju kurung, dan menurut Al-Qurthubi, jilbab adalah menutupi seluruh tubuh, bukan hanya kepala.

Berdasarkan penjelasan tersebut, Majelis Tarjih Muhammadiyah menyimpulkan bahwa jilbab adalah pakaian wanita yang terdiri dari kerudung dan baju kurung yang menutupi seluruh aurat.

Mahasri juga menegaskan bahwa perintah menutup aurat merupakan perintah umum, tidak hanya berlaku bagi keluarga Nabi atau masyarakat Arab, tetapi bagi seluruh umat Islam.

Mengenai batas aurat, Majelis Tarjih menetapkan bahwa aurat perempuan adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan.

Namun, pendapat yang menyatakan bahwa seluruh tubuh adalah aurat tetap dihormati karena memiliki dasar yang kuat dalam fikih Islam.

Melalui kajian ini, diharapkan para civitas akademika UMS semakin memahami bahwa menutup aurat bukan hanya aturan berpakaian, tetapi juga bagian dari nilai-nilai Islam yang tinggi serta wujud kesadaran spiritual dan etika sosial.

Menjaga Martabat Perempuan: Kajian Tarjih Online UMS Bahas Fatwa Aurat dan Jilbab Read More »

Luruskan Niat, Cintai Allah di Atas Segalanya — Pesan Pengajian Al-Maun UMS

Surakarta, 25 Oktober 2025 – Lembaga Pengembangan Pondok, Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (LPPIK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menyelenggarakan Pengajian Al-Maun yang diperuntukkan bagi para pekerja outsourcing di lingkungan kampus serta guru PAUD Aisyiyah di sekitar UMS. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pembinaan ruhiyah dan penguatan nilai-nilai keislaman bagi seluruh elemen masyarakat kampus.

Dalam kesempatan tersebut, M. Iksan, selaku Ketua Takmir Masjid UMS, menyampaikan tausiah yang menekankan pentingnya meluruskan niat dalam setiap amal. Ia mengutip sabda Rasulullah ﷺ:

“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.”
(HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)

“Segala amal akan dinilai sebagai amal saleh apabila dilakukan semata-mata karena Allah SWT. Maka luruskan niat kita agar setiap perbuatan menjadi ibadah,” pesan M. Iksan di hadapan jamaah.

Lebih lanjut, ia juga mengingatkan pentingnya menempatkan cinta kepada Allah di atas kecintaan kepada keluarga dan harta benda, sebagaimana sabda Nabi Muhammad ﷺ:

“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih ia cintai daripada anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia.”
(HR. Bukhari no. 15 dan Muslim no. 44)

Menurut M. Iksan, seorang mukmin sejati adalah yang mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari segala sesuatu. “Ketika cinta kita kepada Allah menjadi yang tertinggi, maka seluruh amal akan bernilai ikhlas dan membawa keberkahan,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, LPPIK UMS berharap para peserta semakin memperkokoh semangat spiritual dan menumbuhkan kesadaran untuk beramal dengan niat yang tulus. Pengajian Al-Maun sendiri merupakan agenda rutin yang digelar sebagai wujud implementasi nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan di lingkungan kampus serta masyarakat sekitar.

Luruskan Niat, Cintai Allah di Atas Segalanya — Pesan Pengajian Al-Maun UMS Read More »

Hadapi Tantangan Modern, UMS Soroti Strategi Ketahanan Keluarga

SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menggelar Kajian Webinar Series ke-52 dengan fokus membahas ketahanan keluarga di era milenial, Sabtu (25/10). Kegiatan ini menghadirkan Sekretaris Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Ustadzah Dr. Atiyatul Ulya, M.Ag., sebagai narasumber, dan dipandu oleh Alfiyatul Azizah, M.A.

Rektor UMS, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., dalam sambutan pembuka menegaskan bahwa ketahanan keluarga berawal dari sikap syukur dan keikhlasan dalam menjalani peran kehidupan. Menurutnya, masyarakat tidak seharusnya bekerja hanya karena dorongan sistem atau teknologi, tetapi dilandasi nilai-nilai yang benar.

“Syukur itu melahirkan ketulusan dan kekuatan untuk menghadapi tantangan zaman. Nilai inilah yang harus menjiwai keluarga muslim,” ujarnya. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada narasumber yang dinilai membawa materi relevan bagi kondisi sosial keluarga masa kini.

Moderator kajian, Alfiyatul Azizah, L.C., M.Ud., turut menyoroti perubahan sosial yang menyebabkan beberapa keluarga kehilangan fungsi fundamentalnya. Ia menyebut tekanan ekonomi, media sosial, dan gaya hidup konsumtif sebagai faktor yang melemahkan kebersamaan dalam rumah tangga.

Pada pemaparan materi inti, Dr. Atiyatul Ulya menjelaskan bahwa Al-Qur’an memberikan landasan kuat tentang pentingnya menjaga keluarga, menukil QS. At-Tahrim ayat 6. Ayat tersebut, menurutnya, bukan hanya seruan untuk menjaga keluarga dari siksa akhirat, tetapi juga pendorong mewujudkan kedamaian dan keharmonisan di dunia.

Ia memaparkan berbagai tantangan keluarga di era milenial—mulai dari meningkatnya angka perceraian, pernikahan dini, hingga keputusan sebagian generasi muda menunda atau enggan menikah. Dalam perspektif Tarjih Muhammadiyah, ia menekankan pentingnya legalitas pernikahan melalui pencatatan resmi di KUA sebagai bentuk perlindungan moral dan hukum.

Ulya juga menyampaikan enam asas keluarga sakinah menurut Tarjih Muhammadiyah: tauhid, karomah insaniyah, kesetaraan, keadilan, kasih sayang, serta pemenuhan kebutuhan dasar. Enam prinsip tersebut, katanya, menjadi fondasi rumah tangga yang sehat dan menjadi sumber ketenangan spiritual.

Melalui kajian ini, UMS kembali meneguhkan komitmen dalam meningkatkan literasi keislaman dan penguatan nilai-nilai keluarga muslim di era yang penuh tantangan. Kegiatan ini diharapkan mampu mendorong masyarakat untuk membangun keluarga yang lebih kokoh, beriman, dan berkeadilan.

Hadapi Tantangan Modern, UMS Soroti Strategi Ketahanan Keluarga Read More »

UMS Selenggarakan Qiyamul Lail ke-188, Bahas Makna Perlindungan Allah dalam Kisah Ashabul Kahfi

SURAKARTA — Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menggelar Qiyamul Lail ke-188 pada Kamis (24/10) pukul 03.00 WIB melalui Zoom Meeting. Kegiatan rutin ini diikuti oleh dosen dan tenaga kependidikan (tendik) UMS sebagai bagian dari pembinaan ruhiyah dan penguatan nilai spiritual di lingkungan kampus.

Pada kesempatan ini, Dr. Umi Budi Rahayu, Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan UMS, hadir sebagai narasumber dengan mengangkat pesan mendalam dari kisah Ashabul Kahfi. Ia menjelaskan bahwa perlindungan Allah yang diberikan kepada para pemuda dalam kisah tersebut—melalui tidur panjang selama 309 tahun—menjadi bukti bahwa kekuasaan dan rahmat-Nya melampaui batas logika dan pemahaman manusia.

“Peristiwa ini mengajarkan kepada kita bahwa ketika seseorang bersungguh-sungguh menjalani hidup sesuai kehendak-Nya, maka Allah SWT akan memberikan perlindungan dan pertolongan, bahkan dengan cara yang tidak pernah kita duga,” ujar Dr. Umi.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa Qiyamul Lail bukan sekadar ibadah malam, tetapi juga sarana untuk memperkuat hubungan dengan Allah, menghadirkan ketenangan batin, dan menumbuhkan sikap tawakal dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Kegiatan ini diharapkan mampu memotivasi sivitas akademika UMS untuk terus meningkatkan kualitas spiritual dan menerapkan nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan dalam kehidupan sehari-hari.

UMS Selenggarakan Qiyamul Lail ke-188, Bahas Makna Perlindungan Allah dalam Kisah Ashabul Kahfi Read More »

Kajian Tafsir Online UMS: Menggali Pesan Keberkahan dan Ketakwaan dari Al-Baqarah

SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menggelar Kajian Tafsir Online bersama Dr. Ainur Rha’in, S.Th.I., M.Th.I., dosen di Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT) Fakultas Agama Islam (FAI). Pada kesempatan tersebut, Ainur membahas isi Surat Al-Baqarah yang memuat banyak pesan tentang iman, ketakwaan, dan perkembangan peradaban Islam.

Ainur menjelaskan bahwa kata Al-Baqarah sering disalahpahami sebagai “sapi betina”.

Menurutnya, huruf ta’ marbuthah dalam kata tersebut tidak selalu menunjukkan jenis kelamin betina. “Dalam kisah Bani Israil, baqarah berarti seekor sapi tanpa disebut jenis kelaminnya. Mereka hanya diminta membeli sapi, tapi karena terlalu banyak bertanya, justru Allah memberi syarat yang mempersulit mereka,” kata Ainur, Jumat (24/10).

Dalam pemaparannya, Ainur menekankan bahwa Surat Al-Baqarah yang turun di Madinah mengandung aspek iman, syariat, sejarah, nilai moral, dan sosial.

Surat ini juga disebut sebagai benteng spiritual yang membawa keberkahan dan perlindungan. “Rasulullah bersabda bahwa membaca Al-Qur’an, terutama Surat Al-Baqarah, akan mendatangkan keberkahan dan menjauhkan dari gangguan setan. Orang yang memiliki Al-Qur’an di dalam diri tidak mudah tergoyahkan,” jelasnya.

Ia juga menyoroti huruf mukhata’ah seperti Alif Lam Mim di awal surat.

Huruf ini dibaca terpisah dan tidak mengikuti aturan bahasa Arab biasa. “Huruf mukhata’ah itu dibaca terpisah-pisah, tidak ada harakat. Maknanya tidak diketahui oleh siapa pun, bahkan oleh Rasulullah,” terangnya. Menurutnya, para ulama menyampaikan berbagai tafsir mengenai huruf ini, dan sebagian ulama menyatakan bahwa maknanya hanya diketahui oleh Allah.

Ainur menyampaikan bahwa Alif Lam Mim dapat diartikan sebagai semangat progresif dalam membangun peradaban.

“Ini adalah semangat progresivitas, keberanian memperbaiki diri dan masyarakat. Umat Islam harus berani mematahkan sistem yang tidak sesuai dengan syariat,” ujarnya.

Dalam pembahasan ayat kedua, “Zalikal kitabu laa raiba fihi hudan lil muttaqin”, Ainur menjelaskan bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk bagi orang yang bertakwa.

“Petunjuk Al-Qur’an hanya dirasakan oleh mereka yang percaya pada hal-hal gaib, mendirikan salat, menafkahkan harta, dan yakin akan hari akhir,” kata Ainur.

Ia menekankan pentingnya memahami dan melaksanakan Al-Qur’an, bukan hanya membacanya.

Menurutnya, umat Islam perlu menjadikan nilai-nilai dari Surat Al-Baqarah sebagai dasar dalam membangun peradaban yang adil dan beradab. “Jika umat Islam benar-benar memahami Al-Qur’an, kita akan menjadi umat yang unggul,” pungkasnya dalam kajian yang digelar Kamis (23/10).

Kajian Tafsir Online UMS: Menggali Pesan Keberkahan dan Ketakwaan dari Al-Baqarah Read More »

LPPIK UMS Dorong Sinergi Penguatan AIK di Fakultas Melalui Rakor WD AIK

Surakarta, 22 Oktober 2025 – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melalui Lembaga Pengembangan Pondok, Al-Islam, dan Kemuhammadiyahan (LPPIK) menyelenggarakan Rapat Koordinasi Wakil Dekan bidang Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (WD AIK). Kegiatan ini menjadi forum strategis untuk memperkuat pelaksanaan nilai-nilai keislaman di seluruh fakultas UMS.

Dalam sambutannya, Wakil Rektor III UMS, Dr. Mutohharun Jinan, M.Ag., menekankan pentingnya sinergi antara LPPIK dan fakultas dalam membangun budaya islami di kampus. Ia menyampaikan bahwa kajian AIK online yang difasilitasi LPPIK merupakan salah satu bentuk dukungan bagi dosen dan tenaga kependidikan dalam meningkatkan pemahaman dan peran AIK di lingkungan kerja.

“Kajian online ini adalah fasilitas yang kita sediakan agar dosen dan tendik tetap dapat aktif dalam kegiatan keislaman meski memiliki kesibukan masing-masing. Mari bersama menjadikan UMS sebagai kampus islami, tidak hanya dalam simbol, tetapi juga dalam perilaku dan budaya akademik,” pesan Dr. Mutohharun.

Senada dengan itu, Ketua LPPIK, Dra. Mahasri Shobahiya, M.Ag., menegaskan bahwa LPPIK memiliki tanggung jawab moral untuk menuntun dan mengajak seluruh sivitas akademika ke arah kebaikan.

“Tugas kita sebagai LPPIK adalah mengajak kepada hal-hal yang baik. Kita harus menjadi teladan dan penggerak kebaikan di lingkungan kampus,” ujarnya.

Sementara itu, Kabid Pengamalan AIK, Dr. Azhar Alam, menyampaikan perkembangan kegiatan dakwah dan pembinaan di lingkungan fakultas. Ia menekankan pentingnya gerakan dakwah dan kajian kultum untuk WD AIK, serta memaparkan laporan keaktifan tenaga kependidikan (tendik) dalam mengikuti agenda kultum rutin yang diselenggarakan di fakultas masing-masing.

“Gerakan dakwah melalui kultum ini perlu terus digerakkan sebagai media pembinaan ruhiyah bagi dosen dan tendik. Keaktifan dan partisipasi civitas akademika menjadi tolok ukur keberhasilan pembinaan AIK di setiap fakultas,” jelas Dr. Azhar.

Rapat koordinasi ini juga membahas beberapa agenda penting, di antaranya persiapan pelaksanaan Tutorial Tahsin Al-Qur’an bagi dosen dan tenaga kependidikan, pengawalan Surat Keputusan Rektor tentang Pedoman Kehidupan Islami Sivitas Akademika dan Tenaga Kependidikan UMS yang mencakup etika pergaulan civitas akademika, sosialisasi SK Panduan Implementasi AIK di Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA), serta persiapan launching program Kampus Bebas Asap Rokok dan Sejenisnya sebagai bentuk komitmen UMS dalam menciptakan lingkungan kampus yang sehat dan islami.

Melalui rapat koordinasi ini, UMS meneguhkan komitmennya untuk terus memperkuat sinergi antar fakultas dalam mengimplementasikan nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan di setiap lini kehidupan kampus, menuju terwujudnya kampus islami yang berkemajuan dan berkarakter.

LPPIK UMS Dorong Sinergi Penguatan AIK di Fakultas Melalui Rakor WD AIK Read More »

Bukan Paras atau Popularitas, Tapi Taqwa: Dr. Azhar Alam Ungkap Nilai Sejati Manusia di Hadapan Allah

Surakarta, 22 Oktober 2025 – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melalui Lembaga Pengembangan Pondok, Al-Islam, dan Kemuhammadiyahan (LPPIK) kembali menyelenggarakan kegiatan Baitul Arqam kloter ke-13 bagi dosen dan tenaga kependidikan. Acara yang digelar di Gedung Induk Siti Walidah ini dibuka dengan kuliah umum oleh Dr. Azhar Alam, S.E., M.SEI., Lc., selaku Kepala Bidang Pengkajian, Pengamalan, dan Monitoring AIK LPPIK UMS.

Dalam materinya, Dr. Azhar Alam menyampaikan tema yang mendalam tentang “Nilai Manusia dalam Pandangan Allah.” Ia menjelaskan bahwa ukuran kemuliaan manusia bukanlah dari harta, jabatan, ataupun penampilan fisik, melainkan dari ketakwaan dan amal saleh yang dilakukan. “Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi melihat hati dan amal kalian,” ungkapnya mengutip hadis Rasulullah SAW.

Beliau menegaskan bahwa manusia sering kali terjebak pada penilaian duniawi dan pandangan sesama manusia, sementara yang terpenting justru bagaimana nilai seseorang di sisi Allah. “Jangan sibuk mencari pengakuan dari manusia. Fokuslah pada bagaimana Allah menilai kita,” pesannya.

Dr. Azhar Alam juga menyinggung fenomena kehidupan modern yang sering kali mengedepankan citra lahiriah dan popularitas di media sosial. Ia mengingatkan bahwa tidak semua yang tampak baik di mata netizen bernilai baik di sisi Allah. “Inner beauty sejati bukan diukur dari kecantikan wajah atau penampilan luar, tetapi dari ketulusan iman dan ketakwaan. Itulah yang akan bernilai di hadapan Allah,” ujarnya.

Melalui pesan-pesan reflektif tersebut, Dr. Azhar Alam mengajak peserta Baitul Arqam untuk memperkuat orientasi hidupnya agar berlandaskan nilai-nilai keislaman. Ia menutup dengan mengingatkan bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan manusia untuk terus memperbaiki diri dan “move on” dari kesalahan masa lalu menuju ketaatan yang lebih baik.

Kegiatan Baitul Arqam sendiri menjadi bagian penting dari pembinaan spiritual sivitas akademika UMS untuk meneguhkan karakter Islami dan semangat dakwah di lingkungan kampus.

Bukan Paras atau Popularitas, Tapi Taqwa: Dr. Azhar Alam Ungkap Nilai Sejati Manusia di Hadapan Allah Read More »

BAPS ke-50: Langkah Akhir Mahasiswa UMS Menuju Lulusan Berakhlak dan Siap Mengabdi

Surakarta, 21 Oktober 2025 – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menggelar Baitul Arqam Purna Studi (BAPS) ke-50 yang diselenggarakan oleh Lembaga Pengembangan Pondok, Al-Islam, dan Kemuhammadiyahan (LPPIK). Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam pembinaan akhir studi bagi mahasiswa lintas fakultas sebelum mereka menyelesaikan masa kuliahnya dan terjun ke masyarakat.

Melalui BAPS, UMS meneguhkan komitmennya untuk mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki integritas moral, spiritualitas tinggi, serta karakter Islami yang kuat. Selama kegiatan, para peserta mendapatkan lima materi pokok yang mencakup aspek spiritual, ideologis, moral, hingga praktis.

Sesi pertama dibuka oleh Prof. Ihwan Susila, S.E., M.Si., Ph.D. dengan materi Spiritual Leadership. Dalam paparannya, ia menekankan pentingnya kepemimpinan yang berlandaskan nilai-nilai spiritual sebagai fondasi dalam mengelola diri dan masyarakat.

Dilanjutkan dengan sesi kedua bersama Dr. Mutohharun Jinan, M.Ag., yang membawakan materi Alumni PTMA sebagai Kader Persyarikatan. Ia menegaskan bahwa lulusan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) memiliki tanggung jawab moral dan ideologis untuk menjadi kader persyarikatan yang berilmu, berakhlak, dan siap berkontribusi dalam dakwah serta pembangunan umat.

Sementara itu, Dr. Triono Ali Mustofa, M.Pd.I. pada sesi ketiga membawakan materi Akhlak dan Aqidah. Ia mengingatkan bahwa perjalanan hidup manusia harus selalu diarahkan menuju ridha Allah melalui keimanan yang kokoh, amal saleh, dan kesiapan menghadapi kematian dengan husnul khatimah.

Sesi keempat menghadirkan Moh. Indra Bangsawan, S.H., M.H. dengan materi Persiapan Karir. Dalam penyampaiannya, ia membahas tantangan dunia kerja masa kini seperti disrupsi teknologi, kesenjangan keterampilan, serta ketidakpastian ekonomi global. Ia juga menekankan pentingnya lifelong learning, kewirausahaan, dan personal branding bagi generasi muda.

Sebagai penutup, Suwinarno, M.P.I. menyampaikan materi Taharoh dan Shalat. Ia menekankan pentingnya kesucian lahir dan batin sebagai dasar ibadah serta menjelaskan bahwa shalat merupakan sumber ketenangan dan kekuatan spiritual bagi seorang muslim.

Melalui rangkaian materi tersebut, BAPS ke-50 menjadi wadah strategis bagi UMS dalam menyiapkan mahasiswa agar menjadi lulusan unggul, berakhlak mulia, dan mampu bersaing di tingkat global tanpa meninggalkan nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan.

BAPS ke-50: Langkah Akhir Mahasiswa UMS Menuju Lulusan Berakhlak dan Siap Mengabdi Read More »

Kajian Tarjih ke-196 UMS Kupas “Fiqih Makanan Halal” Berdasarkan Kompilasi Fatwa Tarjih

Surakarta – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali mengadakan Kajian Tarjih Online edisi ke-196 pada Selasa (21/10) dengan tema “Fiqih Makanan Halal (Perspektif Tarjih)”. Kegiatan ini menjadi ruang belajar bagi civitas akademika untuk memahami lebih dalam prinsip kehalalan makanan sesuai dengan kompilasi fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah.

Dalam kajian tersebut, pemateri yaitu Dr. Isman, S.H.I., S.H., M.H., seorang dosen Fakultas Agama Islam UMS, menjelaskan bahwa topik makanan halal tidak hanya terkait bahan atau proses pengolahan, tetapi juga berkaitan dengan dimensi spiritual seorang Muslim.

Ia menegaskan bahwa makanan yang haram dapat memengaruhi keberhasilan doa seseorang. “Rasulullah SAW pernah mengingatkan bahwa doa akan lebih mudah dikabulkan bagi orang yang menjaga asal usul makanannya dari hal-hal yang haram,” ungkapnya.

Pada kesempatan itu, Dr. Isman juga memaparkan kompilasi fatwa Majelis Tarjih tentang kehalalan makanan yang dikumpulkan sejak tahun 1993 hingga 2015.

Dari fatwa tersebut, tarjih menetapkan tiga klasifikasi utama dalam menentukan kehalalan makanan, yakni:

  1. Kesucian dan kehalalan zat asal makanan,
  2. Status makanan yang belum jelas proses perolehannya, dan
  3. Perubahan zat yang dapat menghilangkan sifat keharaman (istihalah dan izalah).

Ketiga aspek ini menjadi dasar penting dalam memastikan sebuah produk memenuhi standar halal secara benar.

Selain klasifikasi, dijelaskan juga metode tarjih dalam memberikan fatwa tentang makanan halal.

Pendekatan ini mencakup bayani, yaitu penetapan hukum berdasarkan dalil teks; burhani, yaitu penguatan hukum melalui bukti ilmiah dan laboratorium; serta ta’lili, yaitu analisis sebab dan kadar unsur tertentu dalam makanan. Kombinasi ketiga pendekatan ini memastikan keputusan tarjih bersifat komprehensif, ilmiah, dan dapat dipertanggungjawabkan secara syari’at.

Kajian juga menyoroti beberapa kasus kontemporer, seperti pemakaian minyak babi pada food tray, kehalalan produk fermentasi seperti air tape, serta daging yang proses penyembelihannya tidak jelas.

Dalam kasus seperti ini, Majelis Tarjih menekankan pentingnya kehati-hatian dan verifikasi ilmiah. “Jika proses tidak jelas, maka Muslim dianjurkan memilih opsi yang lebih aman dan terjamin kehalalannya,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan perbedaan hukum antara bangkai dan produk turunannya, seperti telur ayam yang mati tanpa disembelih.

Menurut fatwa tarjih, telur tetap dianggap sebagai entitas terpisah selama tidak tercemar najis atau penyakit, menunjukkan luasnya pandangan tarjih dalam menimbang halal, toyyib, dan maslahat.

Melalui penyelenggaraan kajian ini, UMS kembali menegaskan komitmennya sebagai kampus yang berkembang tidak hanya dalam bidang ilmu pengetahuan, tetapi juga dalam penguatan nilai-nilai syariah dalam kehidupan modern.

Kajian Tarjih menjadi wadah strategis dalam meningkatkan literasi halal serta pengembangan pemahaman keislaman yang berlandaskan prinsip halalan thayyiban.

Kajian Tarjih ke-196 UMS Kupas “Fiqih Makanan Halal” Berdasarkan Kompilasi Fatwa Tarjih Read More »

Scroll to Top