SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menggelar Kajian Tafsir Online bersama Dr. Ainur Rha’in, S.Th.I., M.Th.I., dosen di Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT) Fakultas Agama Islam (FAI). Pada kesempatan tersebut, Ainur membahas isi Surat Al-Baqarah yang memuat banyak pesan tentang iman, ketakwaan, dan perkembangan peradaban Islam.
Ainur menjelaskan bahwa kata Al-Baqarah sering disalahpahami sebagai “sapi betina”.
Menurutnya, huruf ta’ marbuthah dalam kata tersebut tidak selalu menunjukkan jenis kelamin betina. “Dalam kisah Bani Israil, baqarah berarti seekor sapi tanpa disebut jenis kelaminnya. Mereka hanya diminta membeli sapi, tapi karena terlalu banyak bertanya, justru Allah memberi syarat yang mempersulit mereka,” kata Ainur, Jumat (24/10).
Dalam pemaparannya, Ainur menekankan bahwa Surat Al-Baqarah yang turun di Madinah mengandung aspek iman, syariat, sejarah, nilai moral, dan sosial.
Surat ini juga disebut sebagai benteng spiritual yang membawa keberkahan dan perlindungan. “Rasulullah bersabda bahwa membaca Al-Qur’an, terutama Surat Al-Baqarah, akan mendatangkan keberkahan dan menjauhkan dari gangguan setan. Orang yang memiliki Al-Qur’an di dalam diri tidak mudah tergoyahkan,” jelasnya.
Ia juga menyoroti huruf mukhata’ah seperti Alif Lam Mim di awal surat.
Huruf ini dibaca terpisah dan tidak mengikuti aturan bahasa Arab biasa. “Huruf mukhata’ah itu dibaca terpisah-pisah, tidak ada harakat. Maknanya tidak diketahui oleh siapa pun, bahkan oleh Rasulullah,” terangnya. Menurutnya, para ulama menyampaikan berbagai tafsir mengenai huruf ini, dan sebagian ulama menyatakan bahwa maknanya hanya diketahui oleh Allah.
Ainur menyampaikan bahwa Alif Lam Mim dapat diartikan sebagai semangat progresif dalam membangun peradaban.
“Ini adalah semangat progresivitas, keberanian memperbaiki diri dan masyarakat. Umat Islam harus berani mematahkan sistem yang tidak sesuai dengan syariat,” ujarnya.
Dalam pembahasan ayat kedua, “Zalikal kitabu laa raiba fihi hudan lil muttaqin”, Ainur menjelaskan bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk bagi orang yang bertakwa.
“Petunjuk Al-Qur’an hanya dirasakan oleh mereka yang percaya pada hal-hal gaib, mendirikan salat, menafkahkan harta, dan yakin akan hari akhir,” kata Ainur.
Ia menekankan pentingnya memahami dan melaksanakan Al-Qur’an, bukan hanya membacanya.
Menurutnya, umat Islam perlu menjadikan nilai-nilai dari Surat Al-Baqarah sebagai dasar dalam membangun peradaban yang adil dan beradab. “Jika umat Islam benar-benar memahami Al-Qur’an, kita akan menjadi umat yang unggul,” pungkasnya dalam kajian yang digelar Kamis (23/10).



