Author name: hes121

Berapa Kali Bacaan Tasbih Rukuk Sujud yang Benar? Ini Penjelasan Fatwa Tarjih

SURAKARTA – Umat Islam tidak perlu terpaku pada jumlah hitungan tertentu saat membaca tasbih dalam shalat, karena Himpunan Putusan Tarjih (HPT) Muhammadiyah tidak memberikan batasan angka mati. Hal ini ditegaskan dalam Kajian Tarjih UMS seri ke-217 yang membahas fleksibilitas ibadah sesuai tuntunan Nabi saw pada Selasa (7/4).

Penyampaian materi ini menjadi penting karena banyak jamaah masih ragu mengenai batasan jumlah bacaan. Himpunan Putusan Tarjih (HPT) Muhammadiyah sebenarnya tidak memberikan batasan angka pasti dalam setiap gerakan tersebut. Hal ini bertujuan agar umat Islam dapat beribadah dengan lebih khusyuk tanpa terbebani hitungan teknis yang kaku.

Fleksibilitas Bacaan Menurut Fatwa Tarjih

Meskipun HPT sering mencantumkan bacaan tasbih satu kali dalam tuntunannya, hal itu bukan merupakan batasan maksimal. “Penyebutan hanya satu kali dalam HPT tidaklah menafikan membacanya berulang kali,” tulis keterangan dalam Fatwa Tarjih tersebut. Oleh karena itu, umat Islam memiliki keleluasaan untuk menyesuaikan durasi rukuk dan sujud mereka.

Terdapat berbagai variasi doa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw bagi umat-Nya. Selain bacaan Subhanakallahumma Rabbana, jamaah juga dapat menggunakan lafaz Subhana rabbiyal ‘adzim untuk rukuk. Sementara itu, lafaz Subhana rabbiyal a‘la menjadi pilihan utama saat bersujud.

Status Hadis Bilangan Tasbih

Persoalan mengenai jumlah minimal tiga kali sering muncul karena adanya riwayat tertentu. Namun, narasumber Kajian Tarjih UMS, Dr. Isman, menjelaskan bahwa dasar hukum mengenai angka tersebut tidak bersifat mengikat. “Hadis ini (mengenai minimal tiga kali) menurut Abu Dawud sendiri mursal… sehingga hadis ini tidak bisa dijadikan hujjah,” jelas keterangan dalam dokumen fatwa.

Sebaliknya, terdapat riwayat kuat yang menunjukkan Nabi saw terkadang membaca tasbih hingga sepuluh kali. Fakta ini memperkuat argumen bahwa kualitas kekhusyukan lebih utama daripada sekadar mengejar angka tertentu. Umat Islam tetap boleh membaca tasbih berkali-kali asalkan tidak dilakukan secara berlebihan.

Panduan bagi Imam dan Makmum

Bagi seorang imam, kebebasan menambah jumlah bacaan memiliki batasan sosial yang jelas. Imam perlu memperhatikan kondisi jamaah agar tidak menimbulkan keberatan atau rasa tidak nyaman. Sebaliknya, bagi mereka yang melaksanakan shalat sendirian atau munfarid, durasi rukuk dan sujud dapat diperpanjang sesuai keinginan.

“Seorang imam boleh memanjangkan bacaan tasbih di dalam rukuk dan sujud asal makmum tidak merasa keberatan,” tegas draf fatwa tersebut. Prinsip kemudahan ini menjadi kunci dalam menjalankan ibadah harian yang selaras dengan sunnah.

Berapa Kali Bacaan Tasbih Rukuk Sujud yang Benar? Ini Penjelasan Fatwa Tarjih Read More »

Tafsir Al-Mujadilah Ayat 5-10: Bahaya Melawan Garis Batas Hukum Allah

SURAKARTA – Orang yang sengaja melawan hukum Allah akan menerima kehinaan dan ketidakberdayaan sebagai konsekuensi nyata dari perbuatan mereka. Hal tersebut disampaikan oleh Dr. Ainur Rha’in dalam Kajian Tafsir UMS seri ke-87 yang berlangsung secara daring pada Sabtu (4/4) pagi.

Dosen Fakultas Agama Islam UMS, Dr. Ainur Rha’in, menjelaskan bahwa kata yuhaadduna memiliki akar kata hadd yang berarti batas. Penggunaan kata ini menghadirkan sebuah majas metafora yang sangat kuat dalam Al-Quran. Seolah-olah terdapat garis batas ilahi yang sangat jelas, namun kelompok tertentu justru memilih berdiri di seberangnya.

“Secara bahasa maknanya adalah menempatkan diri di sisi lain yang berseberangan,” ujar Dr. Ainur Rha’in. Beliau menegaskan bahwa memosisikan diri secara oposisi terhadap hukum Allah merupakan tindakan yang berbahaya. Oleh karena itu, siapa pun yang melawan ketetapan-Nya pasti akan menerima konsekuensi yang berat.

Konsekuensi Nyata Melawan Hukum Allah

Al-Quran menggunakan istilah kabitu untuk menggambarkan nasib para penentang tersebut. Kata ini secara harfiah berarti ditundukkan, dihinakan, atau ditekan hingga tidak berdaya sama sekali. Karena menggunakan bentuk kata kerja masa lampau pasif (fi’il madhi pasif), hal ini menunjukkan sebuah kepastian.

“Orang yang melawan hukum Allah akan menerima akibatnya, yaitu ditundukkan, dihinakan dan tidak akan berdaya,” tegas Dr. Ainur. Kepastian ini sudah menjadi sunnatullah atau ketetapan hukum alam yang tidak mungkin berubah. Namun, di sisi lain, Allah tetap mencintai hamba-Nya yang mengedepankan kelembutan dalam bertindak.

Laporan Malaikat dan Pentingnya Menjaga Aib

Selain membahas hukuman bagi pembangkang, kajian ini juga mengungkap fenomena penjagaan malaikat. Malaikat siang dan malam senantiasa bergantian menjaga manusia dan berkumpul pada waktu shalat Ashar serta Subuh. Allah menanyakan keadaan hambanya kepada malaikat meskipun Dia sudah Maha Mengetahui segala hal.

Para malaikat kemudian memberikan kesaksian bahwa mereka meninggalkan hamba-hamba-Nya dalam keadaan sedang melaksanakan ibadah. Selain rajin beribadah, seorang mukmin juga wajib menjaga kehormatan diri dengan tidak mengumbar kesalahan masa lalu. “Allah telah menutup aib kita rapat-rapat, maka janganlah kita yang membuka aib kita sendiri,” pungkasnya.

Tafsir Al-Mujadilah Ayat 5-10: Bahaya Melawan Garis Batas Hukum Allah Read More »

Persiapan Dunia Kerja: Lulusan UMS Diminta Kuasai Soft Skill agar Menang Bersaing

SURAKARTA – Calon lulusan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) didorong untuk memperkuat soft skill dan kemampuan komunikasi sebagai modal utama memenangkan persaingan kerja yang kian ketat. Hal ini menjadi sorotan utama dalam pembekalan Baitul Arqam Purna Studi (BAPS) ke-55 yang digelar di Kampus UMS, Selasa (2/4).

Dalam sesi pembekalan tersebut, Ahmad Kholid Al Ghofari menekankan bahwa kompetensi akademik saja tidak lagi cukup untuk memenangkan persaingan di pasar tenaga kerja modern. Ia menyoroti pentingnya penguasaan soft skills sebagai instrumen utama dalam berorganisasi dan berkomunikasi di lingkungan profesional.

Strategi Cari Kerja Melalui Penguatan Soft Skill

Kholid menjelaskan bahwa kemampuan berkomunikasi yang efektif merupakan kunci utama yang dicari oleh perusahaan. Menurutnya, mahasiswa harus mampu menerjemahkan bahasa akademis yang kaku menjadi bahasa yang mudah dipahami oleh masyarakat luas atau rekan kerja.

“Bagaimana supaya kita bisa berkomunikasi secara efektif? Salah satu poinnya adalah be humble (rendah hati). Jika Anda tidak sabar dan tidak mampu mendengarkan, maka komunikasi akan terhambat,” ujar Ahmad Kholid Al Ghofari di depan para calon lulusan UMS.

Ia juga menambahkan bahwa organisasi adalah laboratorium terbaik untuk mengasah kemampuan tersebut. Melalui organisasi, mahasiswa belajar cara menyampaikan ide, berdiskusi, hingga memecahkan masalah secara kolektif yang menjadi bagian penting dari persiapan dunia kerja.

Tips Karier Masa Depan: Aktif Berorganisasi

Lebih lanjut, Kholid mendorong para calon wisudawan untuk terus melatih mental kompetitif agar mampu menjadi unggul di antara ribuan lulusan lainnya. Hal ini selaras dengan skill lulusan sarjana yang dibutuhkan industri saat ini, yaitu ketahanan mental dan adaptabilitas.

“Ikutilah organisasi apa pun itu, karena di sana Anda akan belajar banyak hal. Bagaimana cara memimpin, bagaimana cara berdebat ide, termasuk yang paling penting adalah bagaimana berkomunikasi,” tegas Kholid dalam arahannya.

Sebagai penutup, ia mengingatkan bahwa gelar sarjana hanyalah langkah awal. Keberhasilan jangka panjang sangat ditentukan oleh seberapa besar kontribusi dan cara seseorang menempatkan diri di tengah masyarakat maupun di lingkungan kerja nantinya.

Pemahaman Ibadah: Keseimbangan Vertikal dan Horizontal

Dalam sesi Prinsip-Prinsip Ibadah Menurut Manhaj Tarjih, Dr. Azhar Alam menjelaskan pentingnya memahami ibadah secara komprehensif, baik yang bersifat mahdhah maupun ghairu mahdhah.

Ia menjelaskan bahwa ibadah mahdhah berkaitan langsung dengan hubungan manusia dengan Allah (hablum minallah) dan memiliki konsekuensi besar jika ditinggalkan, seperti dalam ibadah puasa Ramadhan.

Namun demikian, Islam memberikan kemudahan bagi umatnya.

“Bagi yang berhalangan puasa Ramadhan, dapat menggantinya di bulan lain. Sementara bagi yang tidak mampu, seperti karena usia atau sakit menahun, dapat menggantinya dengan membayar fidyah,” jelasnya.

Persiapan Dunia Kerja: Lulusan UMS Diminta Kuasai Soft Skill agar Menang Bersaing Read More »

Cara Membangun Keluarga Sakinah Demi Lahirkan Generasi Sehat Mental

SURAKARTA – Derajat kesehatan yang tinggi baik secara fisik maupun psikis hanya dapat lahir dari pola asuh keluarga yang mengedepankan komunikasi terbuka. Lingkungan rumah yang bebas dari tekanan sangat efektif dalam membentuk kestabilan emosi anak sejak usia dini.

Hal itu dijelaskan oleh Dr. Mahasri Shobahiya, M.Ag., atau yang akrab dikenal sebagai Ustazah Mahasri, dalam Kajian Tarjih yang berlangsung pada Selasa (31/3).

Konsep keluarga sakinah sering kali hanya dimaknai sebagai urusan privat atau internal rumah tangga semata. Padahal, tatanan keluarga yang harmonis memiliki dampak yang jauh lebih besar bagi kemajuan suatu bangsa. Keluarga yang kokoh menjadi fondasi utama dalam melahirkan masyarakat yang mandiri dan sejahtera secara ekonomi.

Dampak Sosial Hubungan Harmonis

Pembangunan sebuah peradaban yang maju bermula dari unit terkecil, yaitu keluarga. Hubungan sosial yang harmonis di dalam rumah tangga akan memancarkan energi positif ke lingkungan sekitar. Oleh karena itu, masyarakat yang baik hanya akan terwujud jika keluarga-keluarga di dalamnya telah mencapai kondisi sakinah.

“Keluarga Sakinah menjadi modal utama dalam membentuk Qoryah Thoyyibah atau masyarakat yang baik,” ujar Ustazah Mahasri.

Dalam keterangannya, beliau menegaskan bahwa relasi yang baik antaranggota keluarga akan menciptakan stabilitas sosial yang kokoh. Sebaliknya, disharmoni dalam rumah tangga sering kali memicu berbagai riak permasalahan di tengah masyarakat luas.

Mendorong Kemandirian Ekonomi

Keluarga yang ideal tidak hanya berfokus pada aspek spiritualitas dan keharmonisan hubungan semata. Namun, kemandirian finansial juga menjadi pilar krusial yang harus diperjuangkan oleh setiap pasangan. Kesejahteraan keluarga yang merata secara otomatis akan mendongkrak ketahanan ekonomi nasional secara keseluruhan.

“Ada berbagai usaha nyata yang harus kita lakukan bersama untuk mewujudkan kesejahteraan ekonomi keluarga,” lanjut Ustazah Mahasri dalam pemaparan materinya.

Beliau menambahkan bahwa kemandirian ini berfungsi sebagai benteng pertahanan keluarga dari berbagai kerentanan sosial. Oleh sebab itu, penguatan sektor ekonomi keluarga menjadi agenda yang mendesak untuk terus kita dorong bersama.

Kesehatan Fisik dan Mental

Selain faktor ekonomi, kualitas hidup yang prima juga menjadi indikator penting dalam konsep ini. Keluarga yang bahagia secara konsisten akan melahirkan individu-individu yang sehat, baik secara fisik maupun psikis. Lingkungan rumah yang kondusif sangat mendukung terciptanya kesehatan mental yang baik bagi seluruh anggota keluarga.

Masyarakat yang maju sangat membutuhkan generasi penerus yang tumbuh dalam lingkungan yang suportif. Dengan demikian, pemenuhan kebutuhan dasar dan perhatian terhadap kesehatan mental anak sejak dini menjadi kunci utama. Upaya ini akan menghasilkan sumber daya manusia yang unggul dan siap bersaing pada masa depan.

Melalui penerapan prinsip-prinsip tersebut, sebuah keluarga dapat memberikan kontribusi nyata bagi lingkungan sekitar. Akhirnya, impian untuk mewujudkan masyarakat yang adil, makmur, dan berkemajuan bukan lagi sekadar angan-angan belaka.

Cara Membangun Keluarga Sakinah Demi Lahirkan Generasi Sehat Mental Read More »

Simak Tips Sukses Setelah Ramadhan untuk Mewujudkan Syawal Berkemajuan

SURAKARTA – Gerakan perubahan ke arah yang lebih positif harus terus dipelihara demi menciptakan tatanan masyarakat yang jauh lebih hidup dan maju. Pernyataan penting ini ditekankan oleh Ketua LPPIK UMS, Dr. Mahasri Shobahiya, M.Ag. , dalam kegiatan pembukaan Baitul Arqam 2 Kloter 9 pada Senin (30/3).

Ketua Lembaga Pengembangan Pondok, Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (LPPIK) UMS, Dr. Mahasri Shobahiya, M.Ag. , membagikan panduan penting ini dalam kuliah umum Baitul Arqam 2 Kloter 9. Menurutnya, bulan Syawal seharusnya menjadi momentum transisi menuju pribadi yang jauh lebih baik.

Makna Mendalam Bulan Syawal

Oleh karena itu, masyarakat perlu memahami perbedaan mendasar antara kedua bulan suci ini. Ramadhan secara bahasa memiliki arti membakar seluruh dosa dan amalan buruk manusia. Sebaliknya, bulan Syawal mengandung makna filosofis untuk terus meningkatkan kualitas diri.

“Kalo kita menelusuri makna ramadhan artinya membakar (spiritual, amal ibadah). Kalau makna dari Syawal artinya meningkatkan. Bulan Syawal diharapkan ada peningkatan,” ujar Dr. Mahasri Shobahiya.

Atas dasar itulah, beliau menjelaskan empat langkah strategis sebagai tips sukses setelah ramadhan agar masyarakat terus bertumbuh.

Empat Pilar Transformasi Diri

Langkah pertama berfokus penuh pada peningkatan aspek spiritualitas sebagai seorang hamba. Setiap individu wajib melatih kesadaran bahwa Allah SWT selalu mengawasi mereka. Dengan demikian, manusia akan senantiasa menjaga perilaku positif kapan pun dan di mana pun mereka berada.

Kemudian, pilar kedua adalah mengasah aspek intelektualitas melalui forum kajian keislaman yang rutin. Kegiatan tersebut akan memperdalam pemahaman keagamaan yang lurus dan aplikatif.

Langkah ketiga mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam berbagai peran sosial kemasyarakatan yang nyata. Terakhir, pilar keempat menitikberatkan pada pengembangan kemandirian ekonomi umat secara berkelanjutan.

Peluang Ekonomi Digital

Terkait pilar ekonomi, kemajuan teknologi saat ini membuka peluang yang sangat lebar bagi siapa saja. Masyarakat tidak lagi membutuhkan modal yang besar untuk memulai sebuah roda bisnis.

“Dengan berkembangnya zaman untuk mendapatkan perekonomian saat ini sangat mudah. Dengan berjualan online bermodalkan kuota saja,” ujar Dr. Mahasri Shobahiya.

Melalui optimalisasi seluruh langkah tersebut, tatanan masyarakat akan bergerak ke arah yang lebih berkemajuan. Sikap konsisten dalam melakukan perubahan positif ini akan menjadi bukti nyata kesuksesan ibadah seseorang.

Simak Tips Sukses Setelah Ramadhan untuk Mewujudkan Syawal Berkemajuan Read More »

Cara Membersihkan Hati di Bulan Ramadan: Pesan WR III UMS di Pengajian Al Maun

SURAKARTA — Kondisi hati yang bersih atau qalbun salim menjadi penentu kualitas perilaku manusia, demikian ditegaskan Wakil Rektor III UMS Dr. Mutohharun Jinan, M.Ag., saat memberikan tausiyah dalam Pengajian Al Maun di Masjid Sudalmiyah Rais, Sabtu (14/3).

Dalam ceramah di hadapan ratusan tenaga pendukung kampus, Dr. Mutohharun Jinan menekankan bahwa cara membersihkan hati di bulan Ramadan adalah melalui konsistensi ibadah. Beliau menjelaskan bahwa kondisi hati manusia terbagi menjadi tiga macam, yaitu hati yang bersih (qalbun salim), hati yang sakit, dan hati yang mati. Hati yang bersih menjadi syarat mutlak agar amal ibadah diterima oleh Allah SWT.

“Kalau hati itu baik maka baiklah seluruh perilaku manusia. Karena itu Ramadan menjadi momentum untuk membersihkan hati dan memperbanyak amal kebaikan,” ujar Mutohharun Jinan saat memberikan tausiyah. Selain itu, beliau menambahkan bahwa hikmah puasa dan tarawih akan kembali kepada diri masing-masing sebagai sarana pembersihan jiwa. Ibadah seperti membaca Al-Qur’an juga memberikan syafaat yang sangat membantu di hari kiamat kelak.

Pentingnya Kesejahteraan Tenaga Harian Lepas

Selain aspek spiritual, kegiatan ini menjadi wujud nyata kepedulian sosial terhadap kesejahteraan tenaga harian lepas dan outsourcing. LPPIK UMS membagikan paket sembako Idulfitri 1447 H kepada sekitar 350 penerima manfaat. Para penerima tersebut meliputi tenaga kebersihan, satpam, hingga guru TK ‘Aisyiyah di lingkungan kampus.

Ketua LPPIK UMS, Dr. Mahasri Shobahiya, M.Ag., mengungkapkan bahwa pemberian santunan ini sebenarnya sudah menjadi agenda rutin setiap bulan. Namun, khusus pada momentum Ramadan, pihak universitas ingin memberikan suasana yang lebih istimewa bagi para pekerja. Hal ini dilakukan agar mereka dapat menyambut hari raya dengan perasaan yang lebih optimis dan bahagia.

“Pemberian santunan ini sebenarnya rutin setiap bulan. Hanya saja pada bulan Ramadan ini kami ingin meningkatkan kebahagiaan mereka dengan memberikan sesuatu yang berbeda menjelang Lebaran,” ujar Mahasri. Oleh karena itu, kolaborasi dengan berbagai mitra strategis seperti perbankan syariah terus ditingkatkan untuk memperluas jangkauan bantuan.

Manfaat Baca Al-Qur’an untuk Kesehatan Hati

Sebagai bagian dari tausiyah Dr. Mutohharun Jinan, jamaah diajak untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai obat bagi hati yang sakit. Beliau mengingatkan bahwa hati yang sehat akan merasa tenang dan senang saat berada dalam majelis ilmu. Sebaliknya, hati yang keras akan sulit menerima kebenaran dan cenderung menghalangi perbuatan baik.

Kegiatan yang berlangsung di Masjid Sudalmiyah Rais ini diakhiri dengan pembagian bingkisan secara tertib. Penyelenggara mewajibkan seluruh peserta untuk mengikuti rangkaian pengajian dan salat berjamaah terlebih dahulu. Melalui agenda ini, UMS berharap semangat kepedulian sosial dapat terus tumbuh dan memberikan dampak positif bagi seluruh ekosistem kampus.

Cara Membersihkan Hati di Bulan Ramadan: Pesan WR III UMS di Pengajian Al Maun Read More »

Ingin Reuni Keluarga di Surga? Simak Penjelasan Tafsir At-Thuur Ayat 21 Berikut

SURAKARTA – Allah SWT akan mengumpulkan kembali keluarga mukmin di akhirat sebagai bentuk kebahagiaan yang sempurna bagi mereka yang menjaga keimanan. Dr. Hakimuddin Salim, Lc., M.A. menjelaskan fenomena keberkahan ini saat membedah Tafsir Tarbawi dalam kajian rutin Universitas Muhammadiyah Surakarta pada Sabtu (14/3/2026).

Pesan utama dalam kajian ini menekankan bahwa ikatan keluarga yang berlandaskan iman tidak akan terputus oleh kematian. Sebaliknya, Allah memberikan karunia besar berupa penyatuan kembali seluruh anggota keluarga di akhirat kelak.

Jaminan Allah untuk Keluarga Beriman

Fenomena ini merupakan bentuk keberkahan amal saleh yang dilakukan oleh orang tua selama di dunia. Meskipun terdapat perbedaan tingkat amal di antara anggota keluarga, Allah tetap akan meninggikan derajat anak cucu agar setara dengan orang tua mereka di surga.

“Allah menjamin akan meninggikan derajat anak cucu mukmin agar selevel dengan orang tuanya di surga, meski amal mereka lebih sedikit,” jelas Dr. Hakimuddin Salim dalam pemaparannya. Oleh karena itu, kesalehan orang tua menjadi faktor krusial yang menentukan keselamatan sekaligus kebahagiaan keturunan di masa depan.

Pendidikan Iman sebagai Kunci Reuni

Namun, janji reuni keluarga di surga ini memiliki syarat utama, yakni keturunan yang mengikuti jejak keimanan orang tuanya. Maka dari itu, setiap orang tua memikul tanggung jawab besar untuk menanamkan nilai takwa sejak dini.

Langkah ini menjadi strategi jangka panjang untuk menciptakan keluarga harmonis Islami yang abadi. Dr. Hakimuddin menegaskan, “Menjadi orang tua yang shalih/shalihah adalah bekal terbaik bagi masa depan anak”. Beliau menambahkan bahwa manfaat amal saleh orang tua secara langsung akan memengaruhi penjagaan Allah terhadap anak keturunan mereka.

Tanggung Jawab Amal Individu

Meskipun ada kemuliaan bagi keturunan, Tafsir At-Thuur ayat 21 tetap mengingatkan sisi keadilan Ilahi. Setiap manusia pada akhirnya tetap memegang tanggung jawab penuh atas perbuatannya masing-masing tanpa menanggung beban dosa orang lain.

“Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya,” tegas Dr. Hakimuddin saat membacakan penggalan ayat tersebut. Prinsip ini menyeimbangkan antara harapan akan syafaat keluarga dengan kewajiban beramal secara mandiri. Melalui pemahaman ini, keluarga diharapkan lebih termotivasi untuk saling mendukung dalam kebaikan demi mencapai tujuan akhir yang mulia.

Ingin Reuni Keluarga di Surga? Simak Penjelasan Tafsir At-Thuur Ayat 21 Berikut Read More »

Cara Mengatasi Stres dengan I’tikaf, Solusi Spiritual di Tengah Kesibukan

SURAKARTA – Ketua PWM Jawa Tengah Ust. Dr. KH. Tafsir, M.Ag. menyebut i’tikaf sebagai sarana mujahadah atau bersungguh-sungguh melalui hati untuk meraih ketenangan jiwa. Melalui webinar yang digelar UMS pada Rabu (11/3/2026), beliau menjelaskan bahwa ibadah ini sangat efektif untuk menjaga kesehatan mental di era modern.

I’tikaf menjadi sarana efektif untuk melakukan penyucian jiwa atau tazkiyatun nafs. Ketenangan di dalam masjid membantu individu mereduksi stres secara signifikan. Selain itu, aktivitas ini mampu meningkatkan konsentrasi spiritual yang berdampak langsung pada kesejahteraan mental.

“Ketenangan di masjid membantu mereduksi stres dan meningkatkan konsentrasi spiritual, yang berkontribusi pada kesejahteraan mental,” ujar Ust. Tafsir. Beliau menekankan bahwa momen ini merupakan waktu terbaik untuk mengevaluasi hubungan dengan Sang Pencipta.

Manfaat I’tikaf bagi Kesehatan Mental dan Spiritual

Selama berdiam diri, mu’takif atau orang yang beri’tikaf sangat dianjurkan mengisi waktu dengan amalan utama. Mereka dapat melaksanakan salat sunah, membaca Al-Qur’an, hingga memperbanyak zikir. Aktivitas positif tersebut menjadi cara mengatasi stres dengan i’tikaf secara religius.

Oleh karena itu, Muhammadiyah memberikan tuntunan yang sangat fleksibel bagi masyarakat modern. I’tikaf tidak harus berlangsung selama 24 jam penuh di masjid. Masyarakat dapat melaksanakannya di masjid mana saja, tanpa terbatas pada masjid jami’.

Tips Ketenangan Jiwa melalui Introspeksi Diri

Selanjutnya, ibadah ini merupakan perpaduan antara ijtihad (pikiran) dan mujahadah (hati). Hal tersebut menciptakan momentum introspeksi spiritual untuk merenungkan segala kesalahan diri. Fokus utama dalam proses ini adalah memperbanyak istigfar guna membersihkan hati.

“I’tikaf termasuk dalam mujahadah,” ujar Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah tersebut. Menurut beliau, i’tikaf bukan sekadar ritual diam, melainkan refleksi atas peran diri dalam masyarakat. Kesadaran sosial ini menjadi bagian penting dari kesehatan mental yang seimbang.

Sebagai penutup, i’tikaf menjadi momentum transformasi perilaku bagi setiap Muslim. Ibadah ini memberikan ruang bagi jiwa untuk beristirahat sejenak dari hiruk-pikuk duniawi. Dengan demikian, seseorang akan keluar dari masjid dengan kondisi mental yang lebih segar dan stabil.

Cara Mengatasi Stres dengan I’tikaf, Solusi Spiritual di Tengah Kesibukan Read More »

Apakah Boleh Berdoa Saat Sujud? Ini Hukum Menambah Doa Saat Sujud Menurut Tarjih

SURAKARTA – Ustadz Imron Rosyadi menekankan bahwa menambah doa saat sujud hukumnya sunnah dan sangat dianjurkan, asalkan tetap mengikuti kaidah syar’i agar tidak membatalkan salat. Penjelasan tersebut disampaikan narasumber di hadapan ratusan jamaah daring Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) pada Selasa, 10 Maret 2026.

Ustadz Imron menjelaskan bahwa sujud merupakan posisi paling dekat antara seorang hamba dengan Allah SWT. Oleh karena itu, umat Islam sangat dianjurkan untuk memperbanyak permohonan pada momen tersebut. Namun, beliau menekankan pentingnya menjaga kesucian salat dengan mengikuti tuntunan yang benar.

“Rasulullah SAW bersabda bahwa saat sujud adalah waktu paling dekat seorang hamba dengan Tuhannya, maka perbanyaklah doa di dalamnya,” ujar Ustadz Imron saat memaparkan materi dalam Kajian Tarjih UMS ke-215. Beliau menambahkan bahwa penambahan doa ini bersifat sunnah dan sangat dianjurkan bagi setiap muslim.

Hukum Menambah Doa Saat Sujud dalam Salat

Mengenai hukum menambah doa saat sujud, narasumber menegaskan bahwa hal tersebut diperbolehkan selama tidak merusak rukun salat. Pembacaan doa tambahan dilakukan setelah membaca bacaan sujud yang utama. Hal ini berlaku baik dalam salat fardu maupun salat sunnah.

“Doa yang dipanjatkan sebaiknya menggunakan bahasa Arab yang bersumber dari Al-Qur’an atau hadis untuk menjaga keabsahan salat menurut mayoritas ulama,” tegas Ustadz Imron. Beliau mengingatkan agar jamaah tidak sembarangan menyisipkan kata-kata di luar konteks ibadah yang telah ditetapkan.

Ketentuan Doa Sesuai Sunnah

Selanjutnya, kajian ini membedah jenis-jenis doa yang afdal untuk dibaca. Meskipun diperbolehkan meminta kebutuhan duniawi, prioritas tetap pada doa-doa kebaikan akhirat. Ustadz Imron juga menyarankan agar durasi sujud tetap proporsional dengan gerakan salat lainnya.

“Jangan sampai karena terlalu lama berdoa, jamaah justru tertinggal dari gerakan imam dalam salat berjamaah,” kata Ustadz Imron. Melalui Kajian Tarjih UMS, masyarakat diharapkan semakin memahami syarat doa dalam salat agar ibadah menjadi lebih sempurna. Pemanfaatan waktu mustajab berdoa ini harus dibarengi dengan pemahaman ilmu yang tepat.

Apakah Boleh Berdoa Saat Sujud? Ini Hukum Menambah Doa Saat Sujud Menurut Tarjih Read More »

UMS Bentuk Duta AIK, Perkuat Internalisasi Nilai Islam di Lingkungan Kampus

SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melalui Lembaga Pengembangan Pondok, Al-Islam, dan Kemuhammadiyahan (LPPIK) menggelar Rapat Koordinasi Wakil Dekan Bidang Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (WD AIK) terkait pembentukan Duta AIK pada Selasa (10/3/2026). Pertemuan ini menjadi tindak lanjut dari pembahasan sebelumnya sekaligus langkah strategis untuk memperkuat implementasi nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan di seluruh lingkungan kampus.

Rapat yang dihadiri para Wakil Dekan Bidang AIK diawali dengan pembukaan dan pembacaan basmalah. Kepala LPPIK UMS, Dr. Mahasri Shobahiyah, M.Ag., menyampaikan bahwa agenda utama pertemuan adalah menyusun tugas dan fungsi Duta AIK sebagai penggerak budaya Islami di lingkungan universitas. Hasil penyusunan tersebut selanjutnya akan disampaikan kepada para dekan, ketua lembaga, dan direktorat untuk mengusulkan nama-nama yang dinilai layak mengemban amanah sebagai Duta AIK di masing-masing unit.

Selain membahas pembentukan Duta AIK, LPPIK juga menyampaikan beberapa program strategis yang tengah dipersiapkan. Salah satunya adalah tindak lanjut implementasi program Kampus Bebas Asap Rokok melalui kerja sama dengan Muhammadiyah Medical Center (MMC) berupa layanan terapi berhenti merokok. Program tersebut direncanakan diperkenalkan melalui soft launching pada Sabtu, 25 April 2026, dengan melibatkan Wakil Dekan Bidang AIK, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, BEM, dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).

Dalam kesempatan yang sama, LPPIK juga menginformasikan pelaksanaan evaluasi tutor tahsin yang dijadwalkan berlangsung pada Maret 2026 beserta mekanisme penilaiannya. Selain itu, dibahas pula rencana penyesuaian format dokumentasi karya tafsir Al-Qur’an yang telah diselesaikan oleh Ustaz Ainur Rhain sebagai persiapan hibah karya tersebut kepada universitas.

Wakil Rektor III UMS, Dr. Muthoharun Jinan, M.Ag., dalam sambutan dan arahannya menegaskan bahwa rapat koordinasi ini merupakan tindak lanjut atas berbagai masukan yang disampaikan para Wakil Dekan Bidang AIK pada pertemuan sebelumnya. Menurutnya, UMS memerlukan sistem yang lebih terstruktur dalam mengelola program-program AIK sehingga pelaksanaannya dapat terukur, terdokumentasi, dan menjadi pedoman bersama bagi seluruh sivitas akademika.

Ia menjelaskan bahwa pembentukan Duta AIK diharapkan mampu mendukung terwujudnya budaya kerja universitas yang berlandaskan nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Di samping itu, program lanjutan Kampus Bebas Asap Rokok juga perlu diperkuat melalui pembentukan tim penggerak dan penyediaan layanan terapi berhenti merokok. Dalam arahannya, ia turut menyoroti perlunya evaluasi terhadap nuansa Ramadan di lingkungan UMS agar semakin terasa dan memberikan dampak positif bagi kehidupan kampus.

“Kita perlu menyusun dokumen yang mampu menjadi panduan bersama sehingga budaya kerja UMS benar-benar berlandaskan nilai-nilai AIK. Program-program AIK juga harus memiliki mekanisme yang jelas, terukur, dan berkelanjutan,” ujar Dr. Muthoharun Jinan.

Sesi utama rapat dilanjutkan dengan pembahasan penyusunan tugas Duta AIK yang dipimpin oleh Dr. Mahasri Shobahiyah berdasarkan diskusi bersama serta mengacu pada Buku Pedoman AIK. Berbagai peran strategis dirumuskan, di antaranya mengawal pelaksanaan salat berjamaah di lingkungan kampus, mengingatkan sivitas akademika untuk mengikuti kajian-kajian keislaman, mendukung implementasi kebijakan kampus bebas asap rokok, serta membiasakan penerapan nilai-nilai Islami dalam kehidupan sehari-hari.

Duta AIK juga diharapkan menjadi teladan dalam berpakaian sesuai syariat, mengingatkan dosen untuk mengawali perkuliahan dengan tadarus sebagaimana pedoman kehidupan Islami sivitas akademika, membudayakan 5S (Salam, Senyum, Sapa, Sopan, dan Santun), serta mengajak warga kampus berkomunikasi secara lisan maupun tulisan dengan etika Islami. Selain itu, Duta AIK berperan mendorong terciptanya sikap toleran terhadap mahasiswa non-Muslim, mengingatkan sivitas akademika agar menghindari perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam, menghentikan aktivitas saat waktu salat, mendukung penyelenggaraan seni yang selaras dengan norma agama, serta menggerakkan dosen dan tenaga kependidikan untuk aktif berkontribusi dalam Persyarikatan Muhammadiyah.

Salah satu keputusan penting dalam rapat tersebut adalah perubahan nomenklatur dari Satgas AIK menjadi Duta AIK. Pergantian nama ini dimaksudkan untuk menegaskan pendekatan yang lebih persuasif dan edukatif dalam menginternalisasikan nilai-nilai AIK di lingkungan kampus. Tidak hanya dosen dan tenaga kependidikan, mahasiswa juga akan diberi kesempatan untuk menjadi bagian dari Duta AIK sehingga gerakan penguatan budaya Islami dapat menjangkau seluruh elemen sivitas akademika.

Melalui pembentukan Duta AIK, UMS berharap implementasi nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan tidak hanya diwujudkan melalui program-program formal, tetapi juga menjadi budaya yang hidup dan tumbuh dalam keseharian seluruh warga kampus.

UMS Bentuk Duta AIK, Perkuat Internalisasi Nilai Islam di Lingkungan Kampus Read More »

Scroll to Top