SURAKARTA – Allah SWT akan mengumpulkan kembali keluarga mukmin di akhirat sebagai bentuk kebahagiaan yang sempurna bagi mereka yang menjaga keimanan. Dr. Hakimuddin Salim, Lc., M.A. menjelaskan fenomena keberkahan ini saat membedah Tafsir Tarbawi dalam kajian rutin Universitas Muhammadiyah Surakarta pada Sabtu (14/3/2026).
Pesan utama dalam kajian ini menekankan bahwa ikatan keluarga yang berlandaskan iman tidak akan terputus oleh kematian. Sebaliknya, Allah memberikan karunia besar berupa penyatuan kembali seluruh anggota keluarga di akhirat kelak.
Jaminan Allah untuk Keluarga Beriman
Fenomena ini merupakan bentuk keberkahan amal saleh yang dilakukan oleh orang tua selama di dunia. Meskipun terdapat perbedaan tingkat amal di antara anggota keluarga, Allah tetap akan meninggikan derajat anak cucu agar setara dengan orang tua mereka di surga.
“Allah menjamin akan meninggikan derajat anak cucu mukmin agar selevel dengan orang tuanya di surga, meski amal mereka lebih sedikit,” jelas Dr. Hakimuddin Salim dalam pemaparannya. Oleh karena itu, kesalehan orang tua menjadi faktor krusial yang menentukan keselamatan sekaligus kebahagiaan keturunan di masa depan.
Pendidikan Iman sebagai Kunci Reuni
Namun, janji reuni keluarga di surga ini memiliki syarat utama, yakni keturunan yang mengikuti jejak keimanan orang tuanya. Maka dari itu, setiap orang tua memikul tanggung jawab besar untuk menanamkan nilai takwa sejak dini.

Langkah ini menjadi strategi jangka panjang untuk menciptakan keluarga harmonis Islami yang abadi. Dr. Hakimuddin menegaskan, “Menjadi orang tua yang shalih/shalihah adalah bekal terbaik bagi masa depan anak”. Beliau menambahkan bahwa manfaat amal saleh orang tua secara langsung akan memengaruhi penjagaan Allah terhadap anak keturunan mereka.
Tanggung Jawab Amal Individu
Meskipun ada kemuliaan bagi keturunan, Tafsir At-Thuur ayat 21 tetap mengingatkan sisi keadilan Ilahi. Setiap manusia pada akhirnya tetap memegang tanggung jawab penuh atas perbuatannya masing-masing tanpa menanggung beban dosa orang lain.
“Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya,” tegas Dr. Hakimuddin saat membacakan penggalan ayat tersebut. Prinsip ini menyeimbangkan antara harapan akan syafaat keluarga dengan kewajiban beramal secara mandiri. Melalui pemahaman ini, keluarga diharapkan lebih termotivasi untuk saling mendukung dalam kebaikan demi mencapai tujuan akhir yang mulia.



