Cara Mengatasi Stres dengan I’tikaf, Solusi Spiritual di Tengah Kesibukan

SURAKARTA – Ketua PWM Jawa Tengah Ust. Dr. KH. Tafsir, M.Ag. menyebut i’tikaf sebagai sarana mujahadah atau bersungguh-sungguh melalui hati untuk meraih ketenangan jiwa. Melalui webinar yang digelar UMS pada Rabu (11/3/2026), beliau menjelaskan bahwa ibadah ini sangat efektif untuk menjaga kesehatan mental di era modern.

I’tikaf menjadi sarana efektif untuk melakukan penyucian jiwa atau tazkiyatun nafs. Ketenangan di dalam masjid membantu individu mereduksi stres secara signifikan. Selain itu, aktivitas ini mampu meningkatkan konsentrasi spiritual yang berdampak langsung pada kesejahteraan mental.

“Ketenangan di masjid membantu mereduksi stres dan meningkatkan konsentrasi spiritual, yang berkontribusi pada kesejahteraan mental,” ujar Ust. Tafsir. Beliau menekankan bahwa momen ini merupakan waktu terbaik untuk mengevaluasi hubungan dengan Sang Pencipta.

Manfaat I’tikaf bagi Kesehatan Mental dan Spiritual

Selama berdiam diri, mu’takif atau orang yang beri’tikaf sangat dianjurkan mengisi waktu dengan amalan utama. Mereka dapat melaksanakan salat sunah, membaca Al-Qur’an, hingga memperbanyak zikir. Aktivitas positif tersebut menjadi cara mengatasi stres dengan i’tikaf secara religius.

Oleh karena itu, Muhammadiyah memberikan tuntunan yang sangat fleksibel bagi masyarakat modern. I’tikaf tidak harus berlangsung selama 24 jam penuh di masjid. Masyarakat dapat melaksanakannya di masjid mana saja, tanpa terbatas pada masjid jami’.

Tips Ketenangan Jiwa melalui Introspeksi Diri

Selanjutnya, ibadah ini merupakan perpaduan antara ijtihad (pikiran) dan mujahadah (hati). Hal tersebut menciptakan momentum introspeksi spiritual untuk merenungkan segala kesalahan diri. Fokus utama dalam proses ini adalah memperbanyak istigfar guna membersihkan hati.

“I’tikaf termasuk dalam mujahadah,” ujar Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah tersebut. Menurut beliau, i’tikaf bukan sekadar ritual diam, melainkan refleksi atas peran diri dalam masyarakat. Kesadaran sosial ini menjadi bagian penting dari kesehatan mental yang seimbang.

Sebagai penutup, i’tikaf menjadi momentum transformasi perilaku bagi setiap Muslim. Ibadah ini memberikan ruang bagi jiwa untuk beristirahat sejenak dari hiruk-pikuk duniawi. Dengan demikian, seseorang akan keluar dari masjid dengan kondisi mental yang lebih segar dan stabil.

Scroll to Top