Author name: hes121

Wajib Tahu! Inilah Sanksi Larangan Zihar dalam Islam Menurut QS Al-Mujadilah

SURAKARTA – Suami yang melakukan zihar diwajibkan membayar kafarat berat, mulai dari puasa dua bulan hingga memberi makan fakir miskin, sebelum kembali kepada istrinya. Penjelasan hukum ini menjadi materi sentral dalam diskusi literasi Al-Quran yang diselenggarakan oleh Lembaga Pengembangan Pondok Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (LPPIK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) pada Sabtu, 7 Maret 2026.

Fenomena zihar atau tindakan suami yang menyamakan istri dengan punggung ibunya menjadi sorotan utama dalam kajian ini. Praktik ini merupakan tradisi jahiliyah yang secara tegas dilarang oleh Al-Quran karena merendahkan martabat perempuan. Islam hadir untuk memberikan kepastian hukum sekaligus melindungi hak-hak istri dalam rumah tangga.

“Zihar adalah bentuk perkataan mungkar dan dusta yang sangat dilarang dalam Islam karena memutus hubungan suami istri secara sepihak tanpa dasar hukum yang benar,” ujar ustadz Ainur Rha’in. Beliau menekankan bahwa Islam memberikan sanksi berat bagi suami yang melakukan hal tersebut guna menjaga kehormatan lembaga pernikahan.

Sanksi Berat dan Edukasi Hukum Keluarga

Suami yang terlanjur melakukan zihar tidak boleh melakukan hubungan biologis dengan istrinya sebelum menunaikan kafarat. Ketentuan ini mencakup memerdekakan budak, berpuasa dua bulan berturut-turut, atau memberi makan enam puluh orang miskin. Aturan yang sangat ketat ini bertujuan agar suami senantiasa menjaga lisan dan tidak semena-mena terhadap pasangan.

“Melalui QS. Al-Mujadilah ayat 1-4, kita belajar bahwa Allah Maha Mendengar pengaduan hamba-Nya yang terzalimi, terutama dalam urusan domestik,” tegas ustadz Ainur Rha’in dalam pemaparannya. Maka dari itu, pemahaman mengenai fikh keluarga sakinah menjadi fondasi penting bagi setiap pasangan muslim di era modern.

Pentingnya Menjaga Etika Komunikasi Suami Istri

Kajian Tafsir UMS seri ke-85 ini mengajak masyarakat untuk merefleksikan kembali cara berkomunikasi di dalam rumah tangga. Kekerasan verbal seperti penyamaan istri dengan mahram bukan sekadar ucapan, melainkan memiliki implikasi hukum yang serius. Hal ini menjadi pengingat bahwa Islam sangat menjunjung tinggi keadilan gender Al-Quran.

Wajib Tahu! Inilah Sanksi Larangan Zihar dalam Islam Menurut QS Al-Mujadilah Read More »

Tuntunan Zakat Fitri: Jangan Sampai Terlambat Bayar Sebelum Salat Id

SURAKARTA — Pembayaran zakat fitri setelah salat Idulfitri tidak lagi dianggap sah secara syariat melainkan hanya bernilai sedekah biasa. Peringatan mengenai tuntunan zakat fitri ini disampaikan oleh Dr. Isman, S.H.I., S.H., M.H. dalam Kajian Tarjih UMS yang menyoroti problematika distribusi zakat di masyarakat, Selasa (3/3).

Masyarakat perlu memahami bahwa pembayaran zakat ini bukan sekadar rutinitas tahunan. Dr. Isman menegaskan terdapat aturan fikih yang mengatur waktu dan takaran yang tepat. Hal ini bertujuan agar ibadah tersebut sah secara syariat dan memberikan dampak sosial yang nyata.

“Tuntunan zakat fitri ini harus kita pahami secara detail, mulai dari besaran hingga waktu penyalurannya yang paling utama,” ujar ustadz Isman. Beliau menambahkan bahwa pemahaman yang keliru sering kali muncul terkait jenis bahan pangan yang boleh digunakan sebagai zakat.

Ketentuan Besaran dan Waktu Pembayaran

Berdasarkan putusan Tarjih, besaran zakat merujuk pada makanan pokok setempat seberat 2,5 kilogram atau 3,5 liter per jiwa. Namun, narasumber mengingatkan bahwa kualitas bahan pangan tersebut harus setara dengan yang dikonsumsi sehari-hari.

“Pastikan kualitas beras atau makanan pokok yang dizakatkan tidak lebih rendah dari yang kita makan,” ujar ustadz Isman. Oleh karena itu, muzaki (pemberi zakat) wajib memperhatikan aspek kepantasan ini demi memuliakan para penerima zakat.

Selanjutnya, waktu pembayaran memegang peranan krusial dalam sahnya ibadah ini. Umat Islam dapat mulai menunaikan kewajiban sejak awal Ramadan hingga sebelum salat Idulfitri ditegakkan. Jika melewati batas waktu tersebut, maka pemberian tersebut hanya terhitung sebagai sedekah biasa.

Optimalisasi Penyaluran Lewat Lembaga Resmi

Selain teknis perhitungan, edukasi ini juga menyoroti pentingnya penyaluran melalui lembaga zakat resmi. Langkah ini memastikan pendistribusian lebih merata dan tepat sasaran kepada delapan golongan yang berhak (asnaf).

“Penyaluran yang terorganisir akan membantu pengentasan kemiskinan secara lebih sistematis di lingkungan kita,” ujar ustadz Isman. Melalui kajian ini, UMS berharap literasi masyarakat mengenai aturan zakat fitri 2026 semakin meningkat dan akurat.

Tuntunan Zakat Fitri: Jangan Sampai Terlambat Bayar Sebelum Salat Id Read More »

Perspektif Islam Global: Solusi Prof Zakiyuddin Atasi Erosi Peradaban

SURAKARTA – Rektor UIN Salatiga, Prof. Dr. Zakiyuddin Baidhawy, M.Ag., menyerukan penerapan perspektif Islam global untuk mengatasi krisis geopolitik dan ekonomi dunia dalam Kajian Webinar Series #56 UMS pada Kamis (26/2/2026). Beliau menegaskan bahwa kemajuan teknologi saat ini gagal menciptakan kedamaian jika mengabaikan tanggung jawab moral dan nilai transendensi.

Krisis peradaban ini merupakan puncak dari krisis moral manusia yang mengabaikan nilai-nilai transendensi. Prof. Dr. Zakiyuddin Baidhawy, M.Ag., menegaskan bahwa dunia saat ini sedang terjebak dalam logika keuntungan jangka pendek. Akibatnya, alam dan manusia hanya menjadi objek eksploitasi yang kehilangan martabatnya.

“Erosi peradaban ditandai dominasi rasionalitas instrumental, di mana manusia, alam, dan pengetahuan dinilai semata dari kegunaan, efisiensi, dan keuntungan,” ujar Prof. Zakiyuddin. Oleh karena itu, masyarakat membutuhkan perspektif Islam global yang inklusif untuk memulihkan etika publik.

Urgensi Keadilan Ekonomi dalam Perspektif Islam Global

Sistem keuangan modern saat ini memicu ketimpangan ekonomi global yang sangat ekstrem. Data menunjukkan bahwa kelompok terkaya menguasai mayoritas kekayaan dunia, sementara masyarakat miskin terus terpinggirkan. Islam menawarkan solusi melalui prinsip keadilan sosial dan keberpihakan pada kaum mustadh‘afin.

“Demikian agar harta itu tidak hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu,” ucap Prof. Zakiyuddin mengutip Al-Qur’an Surat Al-Hasyr ayat 7. Selain itu, beliau mengkritik kapitalisme spekulatif yang hanya menguntungkan pemilik modal besar. Praktik ini memperlebar jurang kaya miskin dan merusak tatanan kesejahteraan bersama.

Tangkapan layar zoom meeting webinar series ke 56 pada Kamis (26/2)

Tanggung Jawab Khalifah Fil Ardh di Tengah Krisis Iklim

Kerusakan lingkungan yang masif juga menjadi perhatian utama dalam narasi perspektif Islam global. Manusia memiliki tanggung jawab besar sebagai khalifah fil ardh untuk menjaga kelestarian bumi. Namun, realitas saat ini justru menunjukkan eksploitasi alam tanpa tanggung jawab moral.

“Krisis iklim bukan hanya fenomena fisik, tetapi juga krisis nilai dan etika peradaban yang mencerminkan cara manusia memandang diri dan alam,” jelas Rektor UIN Salatiga tersebut. Maka dari itu, umat Islam harus menjadi agen solusi dalam mengatasi darurat iklim. Kita wajib menghentikan pandangan utilitarian yang menganggap alam sebagai komoditas semata.

Memulihkan Diplomasi Moral dan Etika Global

Sebagai penutup, Prof. Zakiyuddin mengajak dunia untuk membangun konsensus nilai bersama. Kelemahan hukum internasional saat ini memerlukan suntikan diplomasi moral yang lebih kuat. Islam memandang perdamaian sebagai prinsip peradaban yang permanen, bukan sekadar strategi politik transaksional.

Dengan mengembalikan dimensi spiritualitas ke dalam ruang publik, peradaban dapat kembali beradab. Transformasi ini menuntut keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat global. Akhirnya, integrasi ilmu pengetahuan dan tanggung jawab moral menjadi kunci utama keselamatan masa depan.

Perspektif Islam Global: Solusi Prof Zakiyuddin Atasi Erosi Peradaban Read More »

Keluarga Sakinah Bukan Tanpa Masalah, Ini Rahasia Ketenangannya menurut Dr. Mahasri

SURAKARTA – Ketenangan jiwa menjadi kunci utama dalam membangun keluarga sakinah di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks. Hal tersebut ditegaskan oleh Dr. Mahasri Shobahiya, M.Ag., Dosen Agama Islam sekaligus Ketua LPPIK UMS, dalam Kajian Tarjih UMS seri ke-213 yang berlangsung via Zoom pada Selasa (24/2) pagi.

Konsep keluarga sakinah sering kali disalahpahami hanya sebagai kondisi tanpa konflik. Padahal, Ustadzah Mahasri menegaskan bahwa esensi sakinah terletak pada kemampuan pasangan dalam mengelola dinamika batin dan spiritual.

“Sakinah itu bukan berarti tidak ada masalah, melainkan adanya ketenangan jiwa dalam menghadapi setiap persoalan rumah tangga,” ujar ustadzah Mahasri. Beliau menekankan bahwa ketenangan ini bersumber dari pemahaman agama yang mendalam.

Asas Kokoh Membangun Keluarga Sakinah

Pondasi utama dalam pernikahan bukan sekadar materi atau fisik semata. Sebaliknya, setiap pasangan harus memiliki visi spiritual yang selaras untuk mencapai kebahagiaan jangka panjang. Tanpa asas yang kuat, komitmen pernikahan akan mudah goyah saat diterjang badai persoalan.

“Keluarga harus tegak di atas prinsip mitsaqan ghalizha atau perjanjian yang sangat kuat di hadapan Allah,” jelas ustadzah Mahasri. Oleh karena itu, edukasi mengenai arti sakinah mawaddah warahmah menjadi krusial bagi setiap pasangan.

Langkah Praktis Menjaga Keharmonisan

Selain aspek spiritual, aspek komunikasi juga memegang peranan vital dalam tips rumah tangga harmonis. Pasangan perlu mempraktikkan sikap saling menghargai dan memahami hak serta kewajiban masing-masing secara proporsional.

“Asas kesetaraan dan keadilan dalam rumah tangga akan menciptakan ruang bagi setiap anggota keluarga untuk tumbuh dengan bahagia,” tambah beliau dalam paparannya. Beliau berharap kajian ini memperkuat asas keluarga dalam Islam bagi masyarakat luas.

Sebagai penutup, beliau mengingatkan bahwa keluarga sakinah adalah proses belajar yang terus-menerus. Ketenangan sejati akan terwujud ketika suami dan istri menjadikan rida Allah sebagai tujuan utama dalam berinteraksi setiap hari.

Keluarga Sakinah Bukan Tanpa Masalah, Ini Rahasia Ketenangannya menurut Dr. Mahasri Read More »

Pendidikan Anak dalam Islam: Utamakan Tauhid sebagai Fondasi Utama Akidah

SURAKARTA – Direktur Ma’had Abu Bakar Ash Shiddiq, Ustaz Dr. Hakimuddin Salim, Lc., M.A., menegaskan bahwa penanaman nilai tauhid merupakan fondasi pertama dan utama dalam pendidikan anak dalam Islam. Penegasan tersebut beliau sampaikan saat mengisi Kajian Tafsir Tematik ke-83 yang digelar LPPIK UMS secara daring pada Sabtu (21/2) lalu.

Metode pendidikan ini merujuk pada kisah Luqman Al-Hakim yang mengutamakan aspek tauhid sebelum mengajarkan hal lainnya. Kurikulum utama ini berlaku secara universal, baik di lingkungan rumah, sekolah, hingga pesantren.

Tauhid sebagai Fondasi Karakter Anak

Pendidikan anak dalam Islam melalui pendekatan tauhid dalam Surah Luqman ayat 13 menekankan pentingnya menanamkan keesaan Allah. Hal ini berfungsi sebagai fondasi akidah utama bagi anak sejak dini untuk membentengi moral mereka. Ustaz Hakim—sapaan akrabnya—menegaskan bahwa langkah ini merupakan kunci keselamatan dunia dan akhirat.

“Nasihat pertama Luqman adalah tauhid, jangan menyekutukan Allah. Ini adalah kurikulum utama pendidikan anak di manapun,” ujar Ustaz Dr. Hakimuddin Salim.

Beliau juga menambahkan bahwa penyampaian materi agama harus menyertakan alasan yang logis. Tanpa penjelasan yang kuat, pesan tersebut berisiko hanya diterima sebagai doktrin semata oleh anak. Oleh karena itu, orang tua perlu membangun komunikasi yang lebih dialogis.

Metode Pengajaran Berbasis Kasih Sayang

Selain aspek ketuhanan, cara mendidik anak ala Luqman Al-Hakim menonjolkan sisi humanis. Luqman memberikan nasihat dengan penuh kasih sayang dan kelembutan kepada putranya. Pendekatan ini membuktikan bahwa pendidikan tauhid tidak harus kaku, melainkan harus penuh cinta.

“Pendidikan berbasis kasih sayang menunjukkan metode pengajaran yang lemah lembut, penuh cinta, dan dialogis,” ujar Ustaz Hakim.

Sebagai penutup, beliau mengingatkan bahwa syirik merupakan kezaliman terbesar yang dapat merusak akidah. Menanamkan rasa takut hanya kepada Allah dan rasa syukur sejak kecil akan menjaga iman anak dari pengaruh negatif zaman. Ayat ini pun menjadi pembuka dari rangkaian nasihat Luqman yang mencakup aspek akidah, akhlak, hingga ibadah.

Pendidikan Anak dalam Islam: Utamakan Tauhid sebagai Fondasi Utama Akidah Read More »

5 Tips Parenting Islami: Cara Jitu Mendidik Anak Rajin Sholat Sejak Dini

SURAKARTA — Menanamkan disiplin ibadah pada buah hati menjadi tantangan besar bagi orang tua di era modern saat ini. Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menghadirkan solusi melalui Kajian Tafsir Tematik ke-84 yang membahas strategi mendidik generasi penegak sholat pada Sabtu (28/2/2026).

Dr. Hakimuddin Salim menjelaskan bahwa mendidik anak untuk menegakkan sholat bukan sekadar perintah mekanis. Orang tua harus menyadari bahwa keteladanan menjadi kunci utama dalam menanamkan nilai-nilai spiritual sejak dini.

“Mendidik generasi penegak sholat memerlukan pendekatan yang menyentuh hati, bukan sekadar instruksi lisan semata,” ujar Dr. Hakimuddin Salim, Lc., M.A. saat memaparkan materi dalam kajian tersebut. Direktur Ma’had Abu Bakar Ash Shiddiq UMS yang akrab disapa Ustadz Hakim ini menekankan bahwa proses ini merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan moral anak.

Strategi Tafsir Tarbawi untuk Orang Tua

Kajian ini mengupas tuntas kandungan QS Thoha ayat 132 sebagai fondasi utama. Ayat tersebut memerintahkan keluarga untuk tetap sabar dalam mendirikan sholat tanpa mengkhawatirkan urusan rezeki duniawi.

“Keluarga harus menjadi ekosistem pertama yang mendukung ibadah anak secara konsisten dan penuh kasih sayang,” tegas Dosen Fakultas Agama Islam UMS tersebut. Oleh karena itu, konsistensi orang tua dalam menjalankan ibadah akan menjadi cermin bagi perilaku anak.

Tips Parenting Islami di Era Digital

Menghadapi tantangan zaman, pendekatan yang relevan sangat dibutuhkan agar anak tidak merasa terbebani. Orang tua perlu menciptakan suasana rumah yang religius namun tetap menyenangkan bagi tumbuh kembang mereka.

Melalui forum yang disiarkan langsung via Zoom dan tvMu ini, audiens mendapatkan wawasan praktis mengenai pendidikan karakter. Penekanan pada aspek spiritualitas diharapkan mampu membentengi generasi muda dari pengaruh negatif lingkungan luar.

“Generasi penegak sholat adalah aset bangsa yang akan membawa keberkahan bagi lingkungan sekitarnya,” pungkas Ustadz Hakim di akhir sesi. Kegiatan rutin ini sekaligus membuktikan komitmen UMS dalam mencetak masyarakat yang unggul secara intelektual dan spiritual.

5 Tips Parenting Islami: Cara Jitu Mendidik Anak Rajin Sholat Sejak Dini Read More »

Kajian Tafsir Online ke-82 Bahas Keistimewaan Umat Islam dalam QS. Al-Baqarah 143–152

SURAKARTA – Kajian Tafsir Online ke-82 yang diselenggarakan pada Sabtu, 14 Februari 2026 M, menghadirkan Ust. Dr. Ainur Rha’in, S.Th.I., M.Th.I. sebagai pembicara. Pada kesempatan tersebut, beliau membahas tafsir QS. Al-Baqarah ayat 143–152 yang menegaskan keistimewaan umat Islam sebagai umat pilihan yang adil dan menjadi saksi di hari kiamat.

Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan kaum Muslimin sebagai ummatan wasathan—umat terbaik dan adil—agar kelak memberikan persaksian atas umat-umat terdahulu bahwa para rasul telah menyampaikan risalah Allah. Sebaliknya, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam akan menjadi saksi atas umatnya bahwa beliau telah menyampaikan amanah risalah dengan sempurna.

Beliau juga menguraikan hikmah pemindahan kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah di Makkah. Peristiwa tersebut bukan sekadar perubahan arah salat, melainkan ujian keimanan. Allah telah mengetahui sejak awal siapa yang benar-benar mengikuti Rasulullah dan siapa yang lemah imannya hingga berpaling bahkan murtad karena keraguan dan kemunafikan.

“Peristiwa pemindahan kiblat itu sangat berat kecuali bagi orang-orang yang Allah beri hidayah, iman, dan ketakwaan,” jelasnya.

Dijelaskan pula bahwa kaum Muslimin sebelumnya menghadap Baitul Maqdis selama kurang lebih 14 tahun. Namun ketika perintah berpindah kiblat turun, mereka yang beriman menerimanya dengan penuh ketaatan. Allah menegaskan bahwa keimanan dan salat yang telah dilakukan menghadap kiblat sebelumnya tidaklah sia-sia. Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, serta tidak menyia-nyiakan amal hamba-Nya.

Dalam kajian tersebut, Ust. Ainur Rha’in menekankan beberapa pesan penting. Pertama, orang Islam adalah umat yang adil. Keadilan ini tercermin dalam sikap dan prinsip hidup yang seimbang, tidak berlebihan dan tidak meremehkan syariat.

Kedua, Islam mengajarkan toleransi. Umat Islam mempersilakan pemeluk agama lain untuk menjalankan ibadah sesuai keyakinannya, tanpa mengganggu dan tanpa mencampuradukkan akidah.

Ketiga, seluruh syariat Islam membawa manfaat dan kebaikan. Tidak ada satu pun hukum Allah yang lepas dari hikmah dan kemaslahatan.

Beliau juga mengingatkan bahwa Nabi Muhammad dan umatnya kelak akan menjadi saksi di hari kiamat. Karena itu, seorang Muslim harus menjaga keimanan dan tidak mudah mengeluh. “Orang Islam tidak pantas terus-menerus mengeluh, karena setiap ketentuan Allah pasti mengandung hikmah,” tegasnya.

Kajian ini mengajak seluruh peserta untuk semakin menguatkan keimanan, menerima syariat dengan penuh ketundukan, serta menyadari kemuliaan sebagai umat pilihan yang mengemban tanggung jawab besar di hadapan Allah pada hari akhir kelak.

Kajian Tafsir Online ke-82 Bahas Keistimewaan Umat Islam dalam QS. Al-Baqarah 143–152 Read More »

BAPS ke-54 UMS Teguhkan Nilai Profetik dan Kesiapan Lulusan Hadapi Era 5.0

SURAKARTA – Baitul Arqam Purna Studi (BAPS) periode ke-54 kembali digelar pada Sabtu (14/2) sebagai bagian dari pembinaan akhir mahasiswa menjelang kelulusan. Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber yang menguatkan aspek spiritualitas, ideologi Kemuhammadiyahan, hingga kesiapan menghadapi dunia kerja.

Pada sesi pertama, Prof. Ihwan Susila, S.E., M.Si., Ph.D menyampaikan materi Profetik Transendental. Ia menekankan pentingnya karakter profetik sebagai identitas lulusan perguruan tinggi Muhammadiyah.

“Karakter profetik harus melekat pada setiap lulusan, yakni sidiq, fathonah, amanah, dan tabligh. Inilah ciri umat terbaik yang menyeru pada kebaikan, mencegah kemungkaran, dan beriman kepada Allah,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa profetik memiliki tiga pilar utama, yakni humanisasi, liberasi, dan transendensi. Transendensi, menurutnya, adalah kesadaran bahwa Allah melampaui segala sesuatu di dunia.

“Transendensi adalah kesadaran bahwa Allah melampaui segala sesuatu. Melalui shalat dan dzikir, manusia membangun komunikasi metafisik untuk mendekatkan diri kepada-Nya dan menenangkan jiwa,” jelasnya.

Sesi kedua menghadirkan Dr. Istanto, S.Pd.I., M.Pd dengan materi Kemuhammadiyahan dan Profil Muhammadiyah. Ia mengajak peserta memahami sosok KH Ahmad Dahlan sebagai penggerak pembaruan Islam.

“KH Ahmad Dahlan adalah man of action. Beliau membaca Islam secara normatif dan historis, merenungkan secara mendalam, lalu mengamalkannya dengan keunggulan,” ungkapnya.

Ia juga menegaskan pentingnya nilai Al-Ulum Al-Islamiyah seperti tauhid, ilm, amanah, adl, khilafah, istishlah, dan ibadah sebagai landasan berpikir dan bertindak. Mengutip QS. An-Nahl ayat 68–69, ia berpesan:

“Jadilah seperti lebah, mampu hidup di mana saja dan memberi manfaat di setiap tempat.”

Memasuki sesi ketiga, Drs. Suyatmin, M.Si membahas persiapan memasuki dunia kerja dan pengembangan karier. Ia memaparkan berbagai tantangan yang dihadapi lulusan, mulai dari terbatasnya lowongan pekerjaan hingga tuntutan keahlian yang semakin kompleks.

“Tantangan dunia kerja semakin kompleks, lowongan terbatas dan tuntutan keahlian semakin tinggi. Karena itu, mahasiswa harus mengenali dirinya sendiri,” tuturnya.

Ia mendorong mahasiswa untuk memperbaiki kekurangan, mengembangkan kelebihan, serta memperkuat mental dan kemampuan mengontrol emosi. Selain itu, ia mengingatkan pentingnya memperluas wawasan melalui literasi dan pemanfaatan teknologi.

Penguatan aspek ibadah disampaikan pada sesi keempat oleh Suwinarno, M.P.I dengan materi thaharah dan shalat.

“Shalat adalah tiang agama. Siapa yang mendirikannya, sungguh ia telah menegakkan agamanya, dan siapa yang meninggalkannya berarti telah merobohkannya,” tegasnya.

Sementara itu, sesi terakhir ditutup oleh Dr. Triono Ali Mustofa, M.Pd.I dengan materi aqidah dan akhlak. Ia menekankan bahwa era Society 5.0 menuntut keseimbangan antara iman, ilmu, dan akhlak.

“Era 5.0 menuntut insan yang beriman, berilmu, dan berakhlak. Jadilah mujahid ilmu dan agen Tanwir di tengah masyarakat,” pesannya.

Melalui BAPS periode ke-54 ini, peserta diharapkan tidak hanya siap secara akademik, tetapi juga matang secara spiritual, ideologis, dan profesional. Kelulusan bukan sekadar akhir studi, melainkan awal pengabdian sebagai insan yang membawa nilai-nilai Islam berkemajuan dalam kehidupan bermasyarakat.

BAPS ke-54 UMS Teguhkan Nilai Profetik dan Kesiapan Lulusan Hadapi Era 5.0 Read More »

Qiyamul Lail ke-201 UMS: Hospitality dalam Layanan Kampus sebagai Wujud Dakwah dan Ibadah

SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menyelenggarakan Qiyamul Lail ke-201 pada Jumat, 13 Februari 2026. Tausiyah disampaikan oleh Shinta Permatasari, S.E., M.M. yang mengangkat tema “Hospitality dalam Layanan di Kampus.”

Dalam pemaparannya, Shinta menegaskan bahwa pelayanan di lingkungan kampus bukan sekadar tugas administratif, melainkan bagian dari ibadah dan dakwah. Ia merujuk pada Pedoman Kehidupan Islami Warga Muhammadiyah, khususnya bagian tentang kehidupan dalam mengelola amal usaha, yang menegaskan bahwa seluruh pimpinan dan karyawan Muhammadiyah wajib menunjukkan keteladanan, melayani sesama, menghormati hak-hak orang lain, serta memiliki kepedulian sosial sebagai cerminan sikap ihsan dan ikhlas.

“Ketika dosen dan tenaga kependidikan melayani mahasiswa dengan ramah, sesungguhnya mereka sedang mempraktikkan ajaran Rasulullah SAW,” ujarnya.

Ia kemudian mengutip hadis Nabi Muhammad SAW:

إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الأَمْرِ كُلِّهِ
“Sesungguhnya Allah Maha Lembut dan mencintai kelembutan dalam segala hal.”
(HR. Bukhari no. 6024 dan Muslim no. 2165)

Menurutnya, senyum, sapaan tulus, serta kesediaan membantu adalah wujud wajah Islam yang sejuk. Setiap karyawan Muhammadiyah harus menyadari bahwa dirinya adalah duta dakwah. Ketika pengguna layanan merasa nyaman, secara tidak langsung nilai-nilai Islam sebagai agama yang memudahkan dan penuh kasih sayang telah tersampaikan.

Shinta juga mengaitkan konsep hospitality dengan karakter “Karyawan Berkemajuan” yang sejalan dengan slogan I’M UMS dan ONE UMS yang digaungkan Rektor UMS. Muhammadiyah, lanjutnya, menekankan etos kerja tinggi yang berlandaskan akhlakul karimah.

Ia menjelaskan beberapa karakter utama dalam hospitality Islami. Pertama, ihsan dan profesional, yakni bekerja sebaik mungkin seolah-olah Allah melihat setiap aktivitas pelayanan. Kedua, ikhlas membantu, melayani bukan karena tekanan atau kepentingan tertentu, tetapi karena panggilan hati. Ketiga, menjadikan pelayanan sebagai ibadah, yakni membantu sesama sebagai bentuk pengabdian kepada Allah SWT. Keempat, bersikap inklusif tanpa pilih kasih, memuliakan setiap individu tanpa membedakan latar belakang suku, agama, maupun status sosial sebagai wujud karomah insaniyah.

“Senyum adalah sedekah, pelayanan adalah dakwah,” tegasnya.

Ia mencontohkan nilai Surat Al-Ma’un dalam praktik profesional melalui sikap cepat tanggap, tidak membiarkan pengguna layanan menunggu terlalu lama, bertutur kata lembut meskipun dalam kondisi lelah, serta bersikap solutif—menjadi pemberi solusi, bukan penambah beban.

Di tengah era media sosial yang sarat komentar dan kecenderungan individualisme, Shinta berharap sikap ramah warga Muhammadiyah menjadi oase di tengah kekeringan empati. Hospitality, menurutnya, mampu menghapus prasangka, menjadi magnet hidayah melalui kelembutan budi pekerti, serta menciptakan lingkungan kerja yang sehat secara mental dan emosional.

Sebagai penutup, ia mengajak seluruh sivitas akademika menjadikan tempat kerja bukan hanya sebagai ruang mencari nafkah, tetapi juga ladang amal.

“Setiap sapaan ramah dan bantuan yang kita berikan adalah catatan amal jariyah. Wajah yang berseri-seri saat bertemu saudara adalah sedekah, dan memuliakan manusia adalah jalan menuju ridha Sang Pencipta,” pungkasnya.

Qiyamul Lail ke-201 UMS: Hospitality dalam Layanan Kampus sebagai Wujud Dakwah dan Ibadah Read More »

Tarhib Ramadhan 1447 H, Kajian Tarjih Online UMS Tekankan Kesiapan Spiritual dan Ketundukan pada Hisab Muhammadiyah

SURAKARTA – Kajian Tarjih Online Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ke-212 yang digelar pada Selasa (10/2) mengangkat tema “Tarhiib Ramadhan 1447 H dalam Perspektif Muhammadiyah.” Kajian ini menghadirkan Ustadz Yayuli, M.P.I., yang mengajak jamaah menyambut bulan suci bukan sekadar dengan seremoni, tetapi dengan kesiapan iman dan ilmu.

Dalam pemaparannya, Yayuli menjelaskan bahwa tarhib berasal dari kata Arab tarhīb yang berarti menyambut dengan penuh kelapangan hati dan kegembiraan. Ungkapan “Marhaban ya Ramadhan” mencerminkan rasa cinta, antusiasme, serta kesiapan jiwa untuk memasuki bulan suci.

“Tarhib bukan hanya ucapan atau kegiatan seremonial. Ia adalah proses internalisasi nilai-nilai spiritual agar kita siap menjalankan ibadah puasa dengan sungguh-sungguh,” tegasnya.

Ia menambahkan, tradisi tarhib di lingkungan Muhammadiyah diisi dengan pengajian, kerja bakti masjid, hingga penguatan literasi keislaman. Tujuannya agar umat menyambut Ramadhan dengan persiapan fisik, mental, dan spiritual yang matang.

Dalam konteks penetapan awal Ramadhan, Yayuli menyampaikan bahwa Pimpinan Pusat Muhammadiyah secara resmi menetapkan 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada Rabu Legi, 18 Februari 2026 M. Penetapan tersebut didasarkan pada metode hisab hakiki wujudul hilal dan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang telah dikaji oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah.

“Keputusan ini bersifat ilmiah sekaligus spiritual. Warga Muhammadiyah diharapkan mengikuti ketetapan tersebut sebagai pedoman ibadah puasa yang sah,” ujarnya.

Kajian juga menguatkan dalil-dalil shahih tentang keutamaan menyambut Ramadhan. Di antaranya sabda Rasulullah SAW tentang datangnya bulan yang penuh berkah (HR. Ahmad), janji ampunan bagi yang berpuasa dengan iman dan mengharap pahala (HR. Bukhari dan Muslim), serta kabar bahwa pintu-pintu surga dibuka dan setan-setan dibelenggu ketika Ramadhan tiba.

Yayuli menekankan bahwa semangat tarhib harus diwujudkan dalam peningkatan amal shalih, seperti memperbanyak sedekah, membaca Al-Qur’an, dan memperbaiki kualitas ibadah. Menurutnya, Rasulullah SAW adalah sosok paling dermawan, dan kedermawanan itu semakin meningkat saat Ramadhan.

“Tarhib yang shahih adalah persiapan yang sesuai sunnah, bukan sekadar euforia. Kita ingin Ramadhan kali ini lebih baik dari sebelumnya,” pungkasnya.

Melalui Kajian Tarjih Online ke-212 ini, UMS kembali menegaskan komitmennya dalam memberikan pencerahan keislaman yang berbasis ilmu, manhaj tarjih, dan responsif terhadap dinamika umat dalam menyongsong bulan suci Ramadhan.

Tarhib Ramadhan 1447 H, Kajian Tarjih Online UMS Tekankan Kesiapan Spiritual dan Ketundukan pada Hisab Muhammadiyah Read More »

Scroll to Top