Perspektif Islam Global: Solusi Prof Zakiyuddin Atasi Erosi Peradaban

SURAKARTA – Rektor UIN Salatiga, Prof. Dr. Zakiyuddin Baidhawy, M.Ag., menyerukan penerapan perspektif Islam global untuk mengatasi krisis geopolitik dan ekonomi dunia dalam Kajian Webinar Series #56 UMS pada Kamis (26/2/2026). Beliau menegaskan bahwa kemajuan teknologi saat ini gagal menciptakan kedamaian jika mengabaikan tanggung jawab moral dan nilai transendensi.

Krisis peradaban ini merupakan puncak dari krisis moral manusia yang mengabaikan nilai-nilai transendensi. Prof. Dr. Zakiyuddin Baidhawy, M.Ag., menegaskan bahwa dunia saat ini sedang terjebak dalam logika keuntungan jangka pendek. Akibatnya, alam dan manusia hanya menjadi objek eksploitasi yang kehilangan martabatnya.

“Erosi peradaban ditandai dominasi rasionalitas instrumental, di mana manusia, alam, dan pengetahuan dinilai semata dari kegunaan, efisiensi, dan keuntungan,” ujar Prof. Zakiyuddin. Oleh karena itu, masyarakat membutuhkan perspektif Islam global yang inklusif untuk memulihkan etika publik.

Urgensi Keadilan Ekonomi dalam Perspektif Islam Global

Sistem keuangan modern saat ini memicu ketimpangan ekonomi global yang sangat ekstrem. Data menunjukkan bahwa kelompok terkaya menguasai mayoritas kekayaan dunia, sementara masyarakat miskin terus terpinggirkan. Islam menawarkan solusi melalui prinsip keadilan sosial dan keberpihakan pada kaum mustadh‘afin.

“Demikian agar harta itu tidak hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu,” ucap Prof. Zakiyuddin mengutip Al-Qur’an Surat Al-Hasyr ayat 7. Selain itu, beliau mengkritik kapitalisme spekulatif yang hanya menguntungkan pemilik modal besar. Praktik ini memperlebar jurang kaya miskin dan merusak tatanan kesejahteraan bersama.

Tangkapan layar zoom meeting webinar series ke 56 pada Kamis (26/2)

Tanggung Jawab Khalifah Fil Ardh di Tengah Krisis Iklim

Kerusakan lingkungan yang masif juga menjadi perhatian utama dalam narasi perspektif Islam global. Manusia memiliki tanggung jawab besar sebagai khalifah fil ardh untuk menjaga kelestarian bumi. Namun, realitas saat ini justru menunjukkan eksploitasi alam tanpa tanggung jawab moral.

“Krisis iklim bukan hanya fenomena fisik, tetapi juga krisis nilai dan etika peradaban yang mencerminkan cara manusia memandang diri dan alam,” jelas Rektor UIN Salatiga tersebut. Maka dari itu, umat Islam harus menjadi agen solusi dalam mengatasi darurat iklim. Kita wajib menghentikan pandangan utilitarian yang menganggap alam sebagai komoditas semata.

Memulihkan Diplomasi Moral dan Etika Global

Sebagai penutup, Prof. Zakiyuddin mengajak dunia untuk membangun konsensus nilai bersama. Kelemahan hukum internasional saat ini memerlukan suntikan diplomasi moral yang lebih kuat. Islam memandang perdamaian sebagai prinsip peradaban yang permanen, bukan sekadar strategi politik transaksional.

Dengan mengembalikan dimensi spiritualitas ke dalam ruang publik, peradaban dapat kembali beradab. Transformasi ini menuntut keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat global. Akhirnya, integrasi ilmu pengetahuan dan tanggung jawab moral menjadi kunci utama keselamatan masa depan.

Scroll to Top