SURAKARTA – Mengawali tahun 2026, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menyelenggarakan Qiyamul Lail ke-197 pada Jumat dini hari, 2 Januari 2026. Kegiatan ini menghadirkan Vinami Yulian, S.Kep., M.Sc, Ners., sebagai pembicara yang menyampaikan tausiyah reflektif bertajuk “Jika Ini Tahun Terakhir, Apa yang Ingin Kita Perbaiki?”.
Dalam penyampaiannya, Dr. Vinami mengajak jamaah memaknai tahun baru bukan sebagai penambahan daftar pencapaian, melainkan sebagai momentum perbaikan diri. Ia mengajak peserta merenung, seandainya tahun ini adalah tahun terakhir dalam hidup, hal apa yang sungguh ingin diperbaiki.
“Tahun baru seharusnya melahirkan kesadaran waktu. Kita bertambah tahun, tetapi sejatinya umur kita berkurang,” ungkapnya.
Ia mengaitkan refleksi tersebut dengan QS Al-‘Asr ayat 1–2,
وَالْعَصْرِۙ (١) اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ (٢)
Artinya, “(1) Demi masa, (2) sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian.”
bahwa Allah SWT bersumpah dengan waktu sebagai penegasan betapa berharganya waktu dalam kehidupan manusia. Menurutnya, kerugian manusia bukan karena tidak bekerja, melainkan karena sering lupa untuk apa ia bekerja.
Dr. Vinami juga mengutip sabda Rasulullah SAW, “Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara…” (HR Al-Hakim), yang menegaskan pentingnya kesadaran waktu dalam menjalani kehidupan. Hadis tersebut, lanjutnya, bukan ajakan untuk berhenti berkarya, melainkan peringatan bahwa karya tanpa kesadaran waktu dapat kehilangan arah dan makna.
Dalam tausiyahnya, ia menguraikan tiga hal utama yang perlu diperbaiki. Pertama, niat, yakni bukan menurunkan target, tetapi meluruskan arah, serta bukan mengurangi kerja, melainkan menambah keberkahan. Kedua, hubungan, baik dengan keluarga, kolega, mahasiswa, maupun hubungan dengan Allah SWT yang sering kali terlupakan. Ia menekankan bahwa banyak luka lahir bukan dari kebencian, melainkan dari kelelahan yang tidak disadari. Ketiga, keikhlasan, yaitu bekerja tanpa terus merasa kurang dihargai dan berbuat baik tanpa selalu menunggu pengakuan.
Secara khusus, Dr. Vinami juga mengajak para dosen dan akademisi melakukan refleksi mendalam. Dalam ranah ilmu, ia mempertanyakan apakah ilmu yang diajarkan telah mendekatkan mahasiswa pada kebenaran atau sekadar menyelesaikan silabus, serta apakah riset dilakukan hanya demi luaran atau benar-benar membawa maslahat. Dalam amanah, ia mengingatkan pentingnya menjaga kejujuran akademik dan keadilan meski dalam kondisi lelah dan berkuasa. Sementara dalam keteladanan, ia mengajak dosen merenung tentang sikap yang ditangkap mahasiswa, bukan hanya dari materi presentasi, tetapi dari kehadiran dan perilaku sehari-hari.
Sebagai penutup, Dr. Vinami menegaskan bahwa malam Qiyamul Lail ini bukan tentang menyelesaikan seluruh persoalan hidup, melainkan menentukan arah ke depan.
“Malam ini bukan tentang menyelesaikan persoalan, tetapi menentukan arah. Tahun ini bukan menambah daftar pencapaian, melainkan perbaikan,” pungkasnya.



