SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melalui Lembaga Pengembangan Pondok Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (LPPIK) kembali menggelar Kajian Tafsir ke-77 dengan menghadirkan Dr. Ainur Rha’in, S.Th.I., M.Th.I. Kajian ini mengupas Surat Al-Baqarah ayat 87–96 dengan fokus pada pelajaran akidah serta kritik Al-Qur’an terhadap sikap keagamaan Bani Israil yang sarat klaim, namun miskin ketundukan.
Dalam kajiannya, Dr. Ainur Rha’in mengajak peserta memahami bahwa Bani Israil sejatinya telah memperoleh karunia luar biasa berupa rangkaian petunjuk ilahi. Allah SWT mengutus para nabi secara berkelanjutan dan menurunkan kitab-kitab suci sebagai pedoman hidup. Namun, keistimewaan tersebut tidak berbanding lurus dengan ketaatan. Sebagian besar dari mereka justru menolak, mendustakan, bahkan membunuh para nabi yang membawa kebenaran.
Al-Qur’an, menurut Rha’in, sengaja mengabadikan kisah ini bukan untuk membuka luka sejarah, melainkan sebagai cermin bagi umat setelahnya. Pada ayat 88, Allah membongkar klaim kesucian dan keimanan Bani Israil yang merasa diri paling dekat dengan Tuhan. Klaim tersebut dipatahkan dengan laknat Allah akibat kekufuran yang mereka lakukan. Hal ini menunjukkan bahwa ukuran kemuliaan di sisi Allah bukanlah identitas, garis keturunan, atau simbol keagamaan, melainkan keimanan yang jujur dan taat.
Ayat-ayat berikutnya memperlihatkan bagaimana penolakan terhadap Nabi Muhammad ﷺ berakar pada fanatisme kelompok. Rha’in menjelaskan bahwa kebenaran sering kali ditolak bukan karena tidak diketahui, tetapi karena tidak sesuai dengan kepentingan. Sikap ini, menurutnya, masih relevan dengan realitas umat masa kini, ketika agama terkadang dijadikan alat pembenaran kepentingan pribadi atau kelompok tertentu.
Lebih lanjut, Al-Baqarah ayat 90–91 menggambarkan sikap Bani Israil yang rela menukar kebenaran dengan keuntungan duniawi. Mereka mengaku beriman kepada kitab sebelumnya, tetapi menolak Al-Qur’an yang justru datang sebagai penyempurna. Rha’in menekankan bahwa kebenaran sejati bersumber dari wahyu Allah, bukan dari loyalitas kelompok atau tradisi semata.
Dalam kajian tersebut juga disinggung tentang bahaya kesyirikan yang tergambar pada peristiwa penyembahan anak sapi. Menurut Rha’in, kesyirikan tidak hanya merusak akidah, tetapi juga melahirkan kezaliman sosial. Orang yang rusak tauhidnya akan mudah melakukan ketidakadilan, karena tidak lagi menjadikan Allah sebagai pusat ketaatan.
Ayat 93–94 kemudian menampilkan metode Al-Qur’an dalam membangun dialog dan kritik rasional. Allah memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ untuk menantang klaim kemuliaan Bani Israil dengan hujjah dan bukti. Pendekatan ini, kata Rha’in, mengajarkan umat Islam agar berani menguji klaim kebenaran secara ilmiah dan terbuka, bukan sekadar menerima slogan keagamaan.
Menjelang akhir kajian, Rha’in menjelaskan bahwa ketakutan Bani Israil terhadap kematian, sebagaimana digambarkan pada ayat 95–96, merupakan konsekuensi dari orientasi hidup yang terlalu terikat pada dunia. Kerakusan terhadap umur panjang dan kenikmatan dunia menjadi tanda rapuhnya kesiapan menghadapi akhirat.
Melalui Kajian Tafsir ke-77 ini, UMS mengajak sivitas akademika dan masyarakat luas untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai alat muhasabah. Sejarah Bani Israil dihadirkan sebagai peringatan agar umat Islam tidak terjebak pada klaim keimanan, fanatisme, dan simbol keagamaan semata, tetapi benar-benar menegakkan iman yang hidup dalam ketaatan dan keadilan.



