SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menyelenggarakan Qiyamul Lail dan Doa Bersama ke-198 pada Jumat, 9 Januari 2026. Kegiatan ini menghadirkan drg. Morita Sari, MPH., Dr.PH., yang menyampaikan tausiyah bertema “Toxic Environment” dan dampaknya terhadap kesehatan mental, emosional, serta spiritual.
Dalam tausiyahnya, Ustadzah Morita menjelaskan bahwa lingkungan kerja yang toxic dapat memengaruhi kondisi mental dan emosional seseorang, sehingga mudah terbawa perasaan negatif. Secara bahasa, toxic berarti racun yang merusak. Dalam konteks perilaku, toxic dimaknai sebagai sikap yang tidak hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga merusak lingkungan sekitar.
Ia menegaskan bahwa setiap keburukan sejatinya akan kembali kepada pelakunya sendiri. Hal ini sebagaimana diingatkan Allah SWT dalam QS Al-Furqan ayat 20, bahwa manusia satu dengan yang lain dijadikan sebagai ujian. Keberadaan orang-orang yang bersikap toxic di sekitar kita merupakan bagian dari ujian kehidupan, dan tantangannya terletak pada bagaimana cara menyikapinya dengan sabar dan bijaksana.
Morita memaparkan sejumlah ciri lingkungan kerja yang toxic, di antaranya kurangnya empati, beban dan jam kerja yang tidak seimbang, adanya rekan kerja yang bersikap toxic, minimnya kesempatan berkembang, tidak adanya transparansi dan profesionalisme kerja, hingga kondisi kelelahan berlebih (overexhausted). Meski berada dalam tekanan, seorang Muslim tetap diajarkan untuk menjaga kebersihan hati dan niat, serta terus berusaha berbuat kebaikan.
Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya introspeksi diri agar tidak menjadi pribadi yang toxic bagi orang lain. Dalam meluruskan niat di lingkungan kerja, Morita mengutip QS Al-Bayyinah ayat 5 tentang keikhlasan dalam beramal, serta QS Al-An’am ayat 162 yang menegaskan bahwa seluruh aktivitas kehidupan hendaknya diniatkan semata-mata karena Allah SWT.
Menurutnya, orang toxic umumnya memiliki kecenderungan manipulatif dan gemar memengaruhi orang lain. Namun, akar dari perilaku tersebut sejatinya bersumber dari penyakit hati. Oleh karena itu, cara terbaik menghadapi orang toxic adalah dengan memaafkan demi menjaga kesehatan jiwa, membatasi interaksi yang tidak perlu agar tidak larut dalam energi negatif, serta memperkuat hubungan dengan Allah melalui salat malam, doa, dan ibadah lainnya.
Tidak hanya di lingkungan kerja, Ustadzah Morita juga menyinggung pentingnya membangun suasana keluarga yang sehat. Keluarga yang harmonis menjadi fondasi tumbuhnya kepercayaan, keharmonisan, dan kebahagiaan. Sebaliknya, keluarga yang toxic dapat melemahkan kepercayaan diri serta meretakkan hubungan. Perbedaan pola asuh dan campur tangan keluarga besar kerap memicu konflik, sehingga diperlukan komunikasi terbuka, batasan yang jelas, serta pemilihan waktu dan tempat yang tepat dalam berinteraksi.
Melalui Qiyamul Lail dan Doa Bersama ke-198 ini, jamaah diajak untuk menjaga kejernihan hati, meluruskan niat, serta memperkuat hubungan dengan Allah SWT agar tetap tenang dan bijak dalam menghadapi berbagai tantangan lingkungan.



