Author name: hes121

Memahami Hukum Cadar Menurut Fatwa Muhammadiyah

SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menyelenggarakan Kajian Tarjih yang rutin dilaksanakan setiap hari Selasa sebagai bagian dari penguatan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) bagi dosen dan tenaga kependidikan. Kajian yang berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting pada Selasa (23/6/2026) menghadirkan Ustadz Dr. Imron Rosyadi, M.Ag., yang membahas tema “Cadar sebagai Penutup Aurat Perempuan Menurut Fatwa Tarjih.”

Dalam pemaparannya, Imron menjelaskan bahwa penggunaan cadar masih menjadi salah satu persoalan fikih yang kerap menimbulkan beragam pandangan di tengah masyarakat. Perbedaan pendapat mengenai hukum bercadar muncul karena adanya perbedaan penafsiran terhadap batas aurat perempuan dalam Islam.

Ia menegaskan bahwa Muhammadiyah menetapkan pandangan hukumnya melalui proses ijtihad yang berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah, tanpa terikat pada satu mazhab tertentu. Meski demikian, pendapat para imam mazhab tetap dijadikan bahan pertimbangan dalam proses pengambilan keputusan hukum.

Menurut Imron, Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah telah beberapa kali mengeluarkan fatwa mengenai pemakaian cadar. Dari hasil kajian tersebut disimpulkan bahwa Al-Qur’an maupun hadis tidak memuat perintah yang secara tegas mewajibkan perempuan mengenakan cadar. Syariat lebih menekankan kewajiban memakai khimar atau jilbab sebagai penutup aurat.

Ia menjelaskan bahwa dalam khazanah fikih terdapat dua pendapat utama mengenai batas aurat perempuan. Sebagian ulama, terutama dari mazhab Syafi’i dan Hanbali, berpendapat bahwa seluruh tubuh perempuan merupakan aurat. Sementara itu, mazhab Hanafi dan Maliki berpandangan bahwa aurat perempuan adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan.

Muhammadiyah memilih pendapat kedua sebagai dasar fatwanya. Dengan demikian, wajah dan telapak tangan tidak termasuk aurat yang wajib ditutupi, sedangkan penggunaan jilbab atau khimar menjadi bentuk pelaksanaan kewajiban menutup aurat sesuai tuntunan syariat.

“Cadar berfungsi menutup wajah, sedangkan wajah menurut pandangan Majelis Tarjih bukan termasuk aurat yang wajib ditutupi,” jelas Imron.

Selain mengkaji dari aspek dalil, Imron juga menjelaskan bahwa penggunaan cadar telah dikenal jauh sebelum Islam datang. Tradisi tersebut telah berkembang di berbagai peradaban, seperti Persia, Bizantium, masyarakat Yahudi, hingga Arab pra-Islam, sebelum kemudian berinteraksi dengan budaya masyarakat Muslim.

Menurutnya, tujuan utama syariat menutup aurat adalah menjaga kehormatan perempuan serta membangun etika dalam pergaulan sosial. Oleh karena itu, cadar dipahami sebagai salah satu sarana atau wasilah yang dapat dipilih untuk mendukung tujuan tersebut, bukan sebagai tujuan ibadah itu sendiri.

Atas dasar itu, Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah memandang bahwa mengenakan cadar hukumnya mubah atau diperbolehkan. Penggunaannya menjadi pilihan pribadi bagi muslimah dan dapat dilakukan sebagai bentuk kehati-hatian dalam menjaga aurat, namun tidak dapat diposisikan sebagai kewajiban yang harus diberlakukan kepada seluruh perempuan Muslim.

Melalui Kajian Tarjih yang rutin diselenggarakan setiap Selasa, UMS terus memperkuat pemahaman Al-Islam dan Kemuhammadiyahan bagi dosen dan tenaga kependidikan. Kajian ini menjadi ruang pembinaan yang menghadirkan pembahasan berbagai persoalan fikih kontemporer berdasarkan Al-Qur’an, As-Sunnah, serta hasil ijtihad Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah sehingga sivitas akademika mampu menyikapi perbedaan pendapat secara arif dan ilmiah.

Memahami Hukum Cadar Menurut Fatwa Muhammadiyah Read More »

BAPS ke-58 UMS: Saat Ilmu, Iman, dan Karier Dipertemukan dalam Satu Pembinaan

SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melalui Lembaga Pengembangan Pondok, Al-Islam, dan Kemuhammadiyahan (LPPIK) kembali menyelenggarakan Baitul Arqam Purna Studi (BAPS) ke-58 pada Sabtu (20/6). Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa lintas fakultas sebagai pembinaan akhir sebelum menyelesaikan studi dan memasuki dunia kerja maupun kehidupan bermasyarakat.

Sebagai bagian dari pembinaan khas UMS, BAPS menghadirkan rangkaian materi yang mengintegrasikan penguatan spiritualitas, ideologi Kemuhammadiyahan, akhlak, ibadah, serta kesiapan profesional. Melalui pembekalan tersebut, mahasiswa diharapkan tidak hanya siap menyandang gelar sarjana, tetapi juga mampu menjadi pribadi yang berkarakter dan membawa manfaat bagi umat.

Sesi pertama dibuka oleh Prof. Ihwan Susila, S.E., M.Si., Ph.D. dengan materi Profetik Transendental. Ia menjelaskan bahwa karakter profetik merupakan fondasi utama yang harus dimiliki setiap lulusan Muhammadiyah, yakni sidiq (jujur), fathonah (cerdas), amanah (dapat dipercaya), dan tabligh (mampu menyampaikan kebenaran).

Menurutnya, karakter tersebut menjadi cerminan umat terbaik yang senantiasa mengajak kepada kebaikan, mencegah kemungkaran, serta beriman kepada Allah. Nilai-nilai profetik dibangun melalui tiga pilar utama, yaitu humanisasi, liberasi, dan transendensi.

“Karakter profetik harus melekat pada setiap lulusan, yakni sidiq, fathonah, amanah, dan tabligh. Inilah ciri umat terbaik yang menyeru pada kebaikan, mencegah kemungkaran, dan beriman kepada Allah,” ujar Prof. Ihwan.

Ia menambahkan bahwa dimensi transendensi diwujudkan melalui komunikasi manusia dengan Allah melalui ibadah seperti shalat dan dzikir yang menghadirkan ketenangan jiwa sekaligus membentuk pengendalian diri.

Pada sesi kedua, Dr. Triono Ali Mustofa, M.Pd.I. menyampaikan materi Aqidah dan Akhlak. Ia mengingatkan bahwa perkembangan teknologi pada era Society 5.0 harus diimbangi dengan kekuatan iman dan akhlak agar lulusan mampu memberikan kontribusi positif di tengah masyarakat.

“Era 5.0 menuntut insan yang beriman, berilmu, dan berakhlak. Jadilah mujahid ilmu dan agen tanwir masyarakat,” pesannya.

Penguatan aspek ibadah dilanjutkan pada sesi ketiga bersama Suwinarno, M.P.I. melalui materi Thaharah dan Shalat. Ia menjelaskan bahwa thaharah menjadi syarat sah ibadah, sedangkan shalat merupakan pondasi utama kehidupan seorang muslim.

“Shalat adalah tiang agama. Siapa yang mendirikannya sungguh telah menegakkan agamanya, dan siapa yang meninggalkannya berarti telah merobohkannya,” tegasnya.

Sesi keempat diisi oleh Dr. Mahasri Shobahiya, M.Ag. yang membawakan materi Karakteristik Sarjana Muhammadiyah. Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa lulusan Muhammadiyah harus mampu mengintegrasikan kecerdasan intelektual dengan akhlak, kemandirian, kepedulian sosial, serta semangat memberikan kemaslahatan bagi masyarakat.

“Sarjana Muhammadiyah dituntut tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga berakhlak mulia, mandiri, peduli sosial, serta berpihak pada kemaslahatan umat,” ungkapnya.

Sebagai penutup, Drs. Suyatmin, M.Si. menyampaikan materi Persiapan Memasuki Dunia Kerja dan Pengembangan Karier. Ia mengulas berbagai tantangan yang dihadapi lulusan saat ini, mulai dari terbatasnya kesempatan kerja, tuntutan kompetensi yang semakin tinggi, hingga persaingan dengan tenaga kerja berpengalaman.

Ia mengajak mahasiswa untuk mengenali potensi diri, memperbaiki kekurangan, mengembangkan kelebihan, serta mempersiapkan mental yang tangguh. Selain itu, budaya literasi, pemanfaatan teknologi, dan pengembangan keterampilan harus terus ditingkatkan agar mampu beradaptasi dengan perubahan dunia kerja.

Melalui BAPS ke-58, UMS kembali menegaskan komitmennya dalam mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter profetik, akhlak yang mulia, kesiapan profesional, dan semangat pengabdian. Bekal tersebut diharapkan menjadi landasan bagi para lulusan untuk berkarya secara kompetitif sekaligus menghadirkan nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan dalam setiap ruang kehidupan.

BAPS ke-58 UMS: Saat Ilmu, Iman, dan Karier Dipertemukan dalam Satu Pembinaan Read More »

Ketika Ikhtiar Bertemu Tawakal, Rahmat Allah Datang Tanpa Diduga

SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menyelenggarakan Kajian Tafsir Al-Qur’an sebagai agenda rutin setiap Sabtu dalam rangka memperkuat nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) bagi dosen dan tenaga kependidikan. Kajian yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting pada Sabtu (20/6/2026) menghadirkan Dr. Ainur Rha’in, S.Th.I., M.Th.I., yang mengupas kandungan QS. Al-Baqarah ayat 158–160. Melalui pembahasan tersebut, peserta diajak memahami bahwa ibadah sa’i tidak hanya menjadi bagian dari manasik haji dan umrah, tetapi juga mengandung pelajaran tentang ikhtiar, tawakal, kejujuran dalam menyampaikan kebenaran, serta luasnya pintu tobat yang dibuka Allah SWT.

Dalam pemaparannya, Dr. Ainur Rha’in menjelaskan bahwa bukit Shafa dan Marwah merupakan bagian dari syiar Allah yang memiliki makna spiritual mendalam. Pensyariatan sa’i berakar dari perjuangan Siti Hajar yang berlari bolak-balik di antara kedua bukit untuk mencari air bagi putranya, Nabi Ismail AS. Di tengah keterbatasan dan kesendirian di padang pasir, Siti Hajar tetap berikhtiar sambil menggantungkan harapan sepenuhnya kepada Allah hingga akhirnya dianugerahi mata air Zamzam sebagai bentuk pertolongan-Nya.

Menurut beliau, kisah tersebut menjadi teladan bahwa tawakal tidak pernah berarti menyerah tanpa usaha. Seorang mukmin dituntut untuk bergerak, berikhtiar, dan terus berusaha, sembari meyakini bahwa hasil akhir sepenuhnya berada dalam ketentuan Allah. Nilai inilah yang diabadikan melalui ibadah sa’i, sehingga setiap langkah yang ditempuh hendaknya disertai kerendahan hati, doa, dan harapan akan petunjuk serta ampunan dari Allah SWT.

Kajian juga mengulas latar belakang turunnya QS. Al-Baqarah ayat 158. Pada masa awal Islam, sebagian sahabat sempat merasa ragu melakukan sa’i karena pada masa jahiliah terdapat berhala di kawasan Shafa dan Marwah. Melalui ayat tersebut, Allah menegaskan bahwa kedua bukit itu merupakan syiar-Nya sehingga ibadah sa’i menjadi bagian dari ketaatan yang murni kepada Allah setelah berhala-berhala dimusnahkan.

Selain membahas makna sa’i, Dr. Ainur Rha’in mengingatkan pentingnya keberanian menyampaikan kebenaran sebagaimana pesan dalam QS. Al-Baqarah ayat 159. Ayat tersebut memberikan peringatan keras kepada siapa pun yang mengetahui kebenaran agama, tetapi memilih menyembunyikannya. Menurutnya, berbagai kerusakan dalam sejarah manusia sering kali bukan disebabkan karena kebenaran tidak ada, melainkan karena orang yang mengetahuinya enggan menyampaikan dan mengamalkannya.

Namun demikian, Al-Qur’an juga menghadirkan kabar gembira melalui QS. Al-Baqarah ayat 160. Allah membuka pintu tobat selebar-lebarnya bagi siapa saja yang bersungguh-sungguh kembali kepada-Nya. Tobat yang diterima bukan hanya ditandai dengan penyesalan, tetapi juga diwujudkan melalui perbaikan diri serta keberanian menyampaikan kembali kebenaran yang sebelumnya pernah diabaikan atau disembunyikan.

Dalam kajian tersebut, Dr. Ainur Rha’in juga mengangkat kisah Imam Ahmad bin Hanbal sebagai teladan dalam menuntut ilmu. Meski berangkat dengan keterbatasan bekal, beliau memperoleh dukungan penuh dari ibunya yang menanamkan keyakinan bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan orang yang berjuang di jalan ilmu. Kisah ini semakin menegaskan bahwa ikhtiar yang disertai tawakal akan selalu mendapatkan pertolongan Allah pada waktu yang terbaik.

Menutup kajian, Dr. Ainur Rha’in mengajak peserta untuk tidak terbelenggu oleh kesalahan masa lalu. Allah adalah Dzat Yang Maha Penerima Tobat dan Maha Menutupi aib hamba-Nya. Karena itu, setiap muslim hendaknya terus memperbaiki diri, memperbanyak amal kebaikan, serta menghadirkan manfaat bagi sesama sebagai wujud syukur atas rahmat dan kasih sayang Allah.

Melalui kajian ini, peserta diajak memahami bahwa perjalanan sa’i bukan sekadar ritual dalam ibadah haji dan umrah, melainkan simbol perjuangan seorang mukmin dalam menjemput rahmat Allah melalui ikhtiar yang sungguh-sungguh, tawakal yang kokoh, keberanian menyampaikan kebenaran, dan kesungguhan untuk terus memperbaiki diri sepanjang hayat.

Ketika Ikhtiar Bertemu Tawakal, Rahmat Allah Datang Tanpa Diduga Read More »

Dari Molekul ke Makna Kehidupan, Qiyamul Lail UMS Ungkap Jejak Kebesaran Allah

SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) terus menguatkan pembinaan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) bagi dosen dan tenaga kependidikan melalui kegiatan Qiyamul Lail yang diselenggarakan rutin setiap Jumat. Pada pelaksanaan Qiyamul Lail ke-210, Jumat (19/6/2026), tausiyah disampaikan oleh dosen Fakultas Farmasi UMS, Peni Indrayudha, S.F., M.Biotech., Apt., Ph.D., yang mengajak peserta merenungkan keteraturan alam semesta, khususnya pada tingkat molekuler, sebagai bukti kebesaran Allah SWT sekaligus inspirasi dalam menjalankan amanah kehidupan.

Dalam kajiannya, Peni menjelaskan bahwa alam semesta bekerja berdasarkan sunnatullah, yaitu hukum-hukum Allah yang berlangsung secara teratur, konsisten, dan tidak pernah menyimpang. Keteraturan tersebut bahkan dapat diamati hingga ke tingkat paling kecil, yakni atom dan molekul, yang senantiasa bergerak dan berinteraksi sesuai aturan yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta.

Ia menguraikan bahwa berbagai fenomena ilmiah menunjukkan betapa presisinya sistem yang Allah ciptakan. Ikatan kimia terbentuk untuk mencapai kestabilan, DNA mampu menggandakan informasi genetik dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi, molekul air memiliki karakteristik unik yang menopang kehidupan di bumi, sementara enzim bekerja secara spesifik layaknya mekanisme “kunci dan gembok” yang memastikan seluruh proses metabolisme berlangsung dengan tepat.

Menurutnya, keteraturan tersebut bukan sekadar fenomena ilmiah, tetapi juga menjadi tanda ketundukan seluruh alam kepada Allah SWT. Sebagaimana disebutkan dalam Surah Fushshilat ayat 11, langit dan bumi tunduk kepada perintah-Nya. Alam semesta menjalankan fungsi masing-masing tanpa pernah membangkang terhadap ketetapan yang telah Allah gariskan.

Salah satu contoh yang disoroti dalam kajian adalah proses pelipatan protein (protein folding). Protein yang tersusun dari rangkaian asam amino harus membentuk struktur tiga dimensi secara tepat agar dapat menjalankan fungsinya di dalam tubuh. Prinsip ini dikenal dalam ilmu biologi sebagai structure determines function, yaitu struktur yang benar akan menghasilkan fungsi yang benar.

Sebaliknya, apabila terjadi kesalahan pelipatan protein (protein misfolding), fungsi biologis dapat terganggu dan memicu berbagai penyakit serius. Peni menjelaskan bahwa kondisi tersebut berkaitan dengan munculnya sejumlah penyakit degeneratif, seperti Alzheimer, Parkinson, penyakit prion, Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS), hingga diabetes melitus tipe 2. Pada tubuh manusia yang sehat, sistem pengendalian kualitas sel, termasuk molekul chaperone, bekerja terus-menerus untuk membantu protein melipat dengan benar atau menghancurkan protein yang mengalami kesalahan sebelum menimbulkan kerusakan.

Lebih jauh, Peni mengajak peserta mengambil pelajaran dari keteraturan molekuler tersebut dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Ia menegaskan bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kerja keras, tetapi juga oleh ketepatan cara, niat, dan tujuan. Sebagaimana protein yang hanya dapat berfungsi apabila strukturnya benar, demikian pula setiap pekerjaan hanya akan bernilai apabila dilaksanakan dengan integritas dan sesuai tuntunan yang benar.

Dalam konteks kehidupan akademik, ia mengingatkan bahwa dosen tidak cukup hanya unggul dalam kompetensi keilmuan, tetapi juga harus menjunjung tinggi integritas. Demikian pula tenaga kependidikan, selain bekerja dengan tekun, harus mengedepankan amanah, tanggung jawab, dan profesionalisme dalam setiap pelayanan yang diberikan.

Kajian ini juga menghubungkan prinsip ilmiah tersebut dengan konsep ihsan dalam Islam. Ketelitian, konsistensi, dan kesungguhan dalam bekerja merupakan bagian dari upaya menghadirkan kualitas terbaik sebagai bentuk pengabdian kepada Allah SWT. Amal yang dilakukan dengan cara yang benar, niat yang ikhlas, dan tujuan yang sesuai syariat akan melahirkan keberkahan, baik bagi diri sendiri maupun lingkungan sekitar.

Melalui Qiyamul Lail ke-210, peserta diajak melihat bahwa ilmu pengetahuan dan nilai-nilai keislaman bukanlah dua hal yang terpisah. Justru, semakin dalam manusia memahami keteraturan ciptaan Allah hingga ke tingkat molekuler, semakin kuat pula keyakinan akan kebesaran-Nya. Kesadaran tersebut diharapkan mendorong sivitas akademika UMS untuk menghadirkan budaya kerja yang profesional, berintegritas, dan berorientasi pada kemaslahatan sebagai implementasi nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan dalam kehidupan sehari-hari.

Dari Molekul ke Makna Kehidupan, Qiyamul Lail UMS Ungkap Jejak Kebesaran Allah Read More »

Perkuat Dakwah Kampus, LPPIK UMS Latih Tendik Putra Menjadi Penyampai Kultum Inspiratif

Surakarta – Lembaga Pengembangan Pondok, Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (LPPIK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menyelenggarakan Pelatihan Kultum bagi Tenaga Kependidikan (Tendik) Laki-laki pada Rabu–Kamis (17–18/6/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen UMS dalam memperkuat kompetensi dakwah sivitas akademika sekaligus mendukung implementasi Pedoman Kehidupan Islami Kampus UMS.

Pelatihan diawali dengan pembukaan dan menyanyikan lagu Sang Surya, dilanjutkan sambutan Kepala LPPIK UMS, Dr. Mahasri Shobahiya, M.Ag. Dalam sambutannya, Mahasri menegaskan bahwa dakwah merupakan tanggung jawab setiap muslim, termasuk tenaga kependidikan yang memiliki peran strategis sebagai teladan di lingkungan kampus.

Menurutnya, pelatihan ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kemampuan berbicara di depan umum, tetapi juga membentuk karakter pendakwah yang mampu menyampaikan nilai-nilai Islam secara santun, relevan, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

“Melalui pelatihan ini kami berharap tenaga kependidikan memiliki keberanian sekaligus kemampuan untuk menyampaikan pesan-pesan Islam yang menyejukkan. Dakwah tidak selalu dilakukan melalui mimbar besar, tetapi dapat dimulai dari kultum singkat yang memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar,” ujarnya.

Materi pertama bertajuk “Urgensi Dakwah melalui Kultum” disampaikan langsung oleh Dr. Mahasri Shobahiya, M.Ag. Ia menjelaskan bahwa kultum merupakan media dakwah yang berfungsi mengingatkan, mengajak, dan mengajarkan kebaikan kepada orang lain sekaligus menjadi sarana introspeksi diri. Kultum juga memiliki landasan yang kuat dalam Al-Qur’an dan hadis serta menjadi salah satu budaya organisasi Muhammadiyah dalam menyebarkan nilai-nilai Islam.

Mahasri menambahkan bahwa kultum idealnya berfokus pada satu pesan utama yang disampaikan secara sederhana, santun, mudah dipahami, dan aplikatif. Di era digital, menurutnya, tantangan dakwah semakin besar sehingga penyampaian kultum perlu dikemas secara menarik, ringkas, dan relevan agar mampu menjangkau masyarakat lebih luas melalui berbagai platform media sosial.

Ia juga menekankan bahwa dosen dan tenaga kependidikan UMS memiliki peran sebagai agen perubahan sosial melalui keteladanan akhlak dan aktivitas dakwah di lingkungan kampus maupun masyarakat.

Pada sesi diskusi, peserta Rohmah Hidayat menyampaikan bahwa kultum di Masjid Fadhlurrahman UMS kerap tidak terlaksana karena pengisi yang berhalangan hadir. Ia mengusulkan agar tenaga kependidikan yang memiliki kompetensi kultum dapat dilibatkan sebagai pengisi kultum. Selain itu, ia juga mengusulkan agar referensi keagamaan seperti Al-Qur’an, buku, dan majalah Islam kembali disediakan di masjid sebagaimana sebelum renovasi.

Materi kedua mengenai “Teknik Public Speaking dalam Kultum” disampaikan oleh Dr. Hakimuddin Salim, Lc., M.A. Ia menjelaskan bahwa dakwah merupakan salah satu cara menjaga eksistensi ajaran Islam melalui budaya saling menasihati dalam kebaikan.

Hakimuddin memaparkan berbagai teknik membuka kultum secara efektif, seperti mengawali dengan kisah yang relevan, humor yang santun, maupun data dan fakta yang mendukung tema. Sebaliknya, ia mengingatkan agar pemateri tidak menghabiskan waktu untuk memperkenalkan diri secara berlebihan karena identitas pembicara umumnya telah disampaikan oleh pembawa acara.

Selain teknik verbal, ia juga menekankan pentingnya komunikasi nonverbal melalui penampilan yang rapi, gestur yang tepat, kontak mata, bahasa tubuh yang percaya diri, serta kemampuan membangun kedekatan dengan audiens. Menurutnya, karakteristik penyampaian Rasulullah SAW dapat menjadi teladan dalam public speaking, yakni berbicara dengan tenang, singkat namun padat makna, menggunakan ilustrasi yang mudah dipahami, dan menyampaikan pesan dengan suara yang jelas.

“Kultum tidak boleh kosong dari dalil. Setiap materi hendaknya didukung oleh ayat Al-Qur’an maupun hadis sehingga memiliki kekuatan ilmiah dan spiritual yang lebih kuat dibandingkan sekadar kutipan motivasi,” tegasnya.

Menanggapi pertanyaan peserta mengenai rasa gugup saat tampil, Hakimuddin menyarankan agar pendakwah meluruskan niat, mempersiapkan materi secara matang, mengatur pernapasan, membawa poin-poin penting sebagai panduan, membangun interaksi positif dengan audiens, serta terus berlatih agar semakin percaya diri.

Materi ketiga bertema “Dakwah Digital dan Konten Kultum” disampaikan oleh Dr. Isman, S.H.I., S.H., M.H. Ia memperkenalkan berbagai bentuk penyajian kultum melalui media digital, mulai dari audio inspiratif, video dengan visual pendukung, hingga rekaman kultum yang dilengkapi teks atau subtitle.

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan selama pelatihan, konten dakwah berbentuk video menjadi format yang paling diminati peserta. Isman menjelaskan bahwa kultum digital yang efektif setidaknya memiliki empat karakter utama, yaitu relevan dengan kebutuhan audiens, ringan dan mudah dipahami, berdurasi tepat, serta disampaikan dengan ketulusan.

Ia juga mendorong peserta untuk memanfaatkan media sosial sebagai sarana dakwah yang mampu menjangkau masyarakat lebih luas. Menanggapi pertanyaan mengenai fenomena kreator dakwah yang populer di media sosial, Isman mengingatkan pentingnya memiliki lingkungan yang baik sebagai tempat saling menasihati serta membuka diri terhadap kritik dan masukan.

Pada sesi diskusi lainnya, Isman menjelaskan bahwa kultum dan khutbah Jumat memiliki perbedaan mendasar. Khutbah Jumat memiliki rukun, syarat, dan tata cara yang telah ditetapkan dalam syariat sehingga penyampaiannya lebih formal, sedangkan kultum bersifat lebih fleksibel tanpa ketentuan khusus, meskipun keduanya tetap harus menyampaikan pesan moral dan nilai-nilai Islam.

Hari kedua pelatihan diisi dengan praktik kultum yang dimulai pukul 08.30 WIB. Peserta dibagi menjadi tiga kelompok dan diminta menyiapkan materi kultum untuk dipresentasikan secara bergantian.

Praktik tersebut dinilai berdasarkan kemampuan membuka kultum, penguasaan materi, alur penyampaian, kemudahan materi dipahami audiens, artikulasi dan sikap berbicara, kefasihan membaca dalil, serta kemampuan menyampaikan kesimpulan dan mengelola waktu.

Melalui pelatihan ini, LPPIK UMS berharap tenaga kependidikan tidak hanya memiliki keterampilan berbicara di depan umum, tetapi juga mampu menjadi penyampai dakwah yang bijaksana dan inspiratif. Pelatihan ini sekaligus menjadi bagian dari implementasi Pedoman Kehidupan Islami Kampus UMS dalam mengajak sivitas akademika untuk saling menasihati dalam kebaikan dan mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan bekal materi dan praktik yang diperoleh, peserta diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang menyebarkan nilai-nilai Islam, baik di lingkungan keluarga, tempat kerja, maupun masyarakat luas.

Perkuat Dakwah Kampus, LPPIK UMS Latih Tendik Putra Menjadi Penyampai Kultum Inspiratif Read More »

Anak Bukan Sekadar Anugerah, tetapi Amanah yang Menguji Orang Tua

SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) terus menguatkan nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) bagi dosen dan tenaga kependidikan melalui Kajian Tafsir yang rutin diselenggarakan setiap Sabtu. Pada kajian yang berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting, Sabtu (13/6/2026), Ust. Dr. Hakimuddin Salim, Lc., M.A. membahas Tafsir Tarbawi QS. At-Taghabun ayat 15 dengan tema “Anak adalah Ujian bagi Orang Tua”. Kajian tersebut mengajak peserta memahami bahwa kehadiran anak bukan hanya sebagai anugerah, tetapi juga amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Dalam pemaparannya, Ust. Hakimuddin Salim mengawali kajian dengan meluruskan paradigma yang berkembang di tengah masyarakat mengenai ungkapan “banyak anak, banyak rezeki.” Menurutnya, Islam tidak menafikan bahwa anak merupakan rezeki dan karunia dari Allah. Namun, Al-Qur’an juga menegaskan bahwa anak dan harta merupakan ujian yang mengukur kualitas keimanan serta amal seseorang.

Mengacu pada QS. At-Taghabun ayat 15, beliau menjelaskan bahwa penggunaan kata innamā pada awal ayat memiliki makna penegasan, yang menunjukkan bahwa harta dan anak memiliki fungsi khusus sebagai sarana ujian bagi setiap hamba. Kehadiran anak memang membawa kebahagiaan bagi keluarga, tetapi pada saat yang sama menjadi amanah yang menuntut kesabaran, keteguhan, dan ketaatan dalam proses mendidiknya.

Menurutnya, Islam memandang kehidupan bukan semata-mata sebagai ruang untuk menikmati berbagai kenikmatan dunia, melainkan tempat manusia diuji agar terlihat siapa yang paling baik amalnya di sisi Allah. Karena itu, keberadaan anak harus dipahami sebagai bagian dari proses pendidikan iman yang dijalani oleh setiap orang tua.

Dalam kajian tersebut, Ust. Hakimuddin juga menjelaskan bahwa para ulama membedakan kenikmatan menjadi dua jenis, yakni nikmat mutlaqah dan nikmat muqayyadah. Nikmat mutlak adalah nikmat yang bernilai abadi, seperti iman dan Islam, sedangkan nikmat relatif berupa kesehatan, kekayaan, kedudukan, maupun anak dapat berubah menjadi ujian, bergantung pada bagaimana seseorang menyikapi dan mengelolanya sesuai tuntunan syariat.

Beliau kemudian mengutip pandangan Ibnu Katsir yang menjelaskan bahwa anak menjadi ujian untuk mengetahui sejauh mana orang tua tetap taat kepada Allah dalam menjalankan tanggung jawab pendidikan. Tantangan terbesar bukan sekadar membesarkan anak, tetapi menjaga agar proses mendidik mereka tetap berada dalam koridor syariat tanpa dikendalikan oleh ambisi duniawi.

Lebih lanjut, Ust. Hakimuddin menegaskan bahwa tujuan utama pendidikan dalam keluarga adalah melahirkan generasi qurrata a’yun, yakni anak-anak yang menjadi penyejuk hati karena tumbuh istiqamah dalam beribadah dan berakhlak mulia. Anak yang saleh tidak hanya menghadirkan kebahagiaan di dunia, tetapi juga menjadi investasi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir kepada kedua orang tua setelah mereka wafat.

Sebaliknya, apabila orang tua mengabaikan pendidikan agama dan lebih menekankan pencapaian duniawi semata, anak berpotensi kehilangan fondasi spiritual dalam kehidupannya. Fenomena kedurhakaan kepada orang tua, lunturnya penghormatan kepada keluarga, hingga orientasi hidup yang hanya mengejar pengakuan sosial menjadi sebagian dampak dari lemahnya penanaman nilai-nilai keislaman sejak dini.

Menurutnya, orang tua sering kali tanpa sadar lebih sibuk membandingkan keberhasilan anak dengan capaian orang lain daripada membangun kedekatan mereka kepada Allah. Akibatnya, anak tumbuh dengan ukuran kesuksesan yang hanya berorientasi pada prestasi dunia, sementara hubungan dengan ibadah, dzikir, dan akhlak justru terabaikan.

Melalui kajian ini, peserta diajak memahami bahwa QS. At-Taghabun ayat 15 bukan dimaksudkan untuk menimbulkan kekhawatiran dalam memiliki keturunan, melainkan menjadi pengingat bahwa setiap anak adalah amanah yang harus dididik dengan nilai-nilai Islam. Dengan kesabaran, keteladanan, dan pendidikan yang berlandaskan Al-Qur’an, orang tua tidak hanya membentuk generasi yang saleh, tetapi juga mempersiapkan bekal amal yang terus mengalir hingga akhir kehidupan.

Anak Bukan Sekadar Anugerah, tetapi Amanah yang Menguji Orang Tua Read More »

Qiyamul Lail UMS: Kemuliaan Manusia di Hadapan Allah Diukur dari Iman dan Ketakwaan, Bukan Status Dunia

SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menyelenggarakan Qiyamul Lail sebagai agenda rutin pembinaan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) bagi dosen dan tenaga kependidikan setiap Jumat. Pada pelaksanaan Jumat (12/6/2026), tausiyah disampaikan oleh Prof. Dr. Jati Waskito, S.E., M.Si., dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMS, yang mengangkat tema “Nilai Manusia dalam Pandangan Allah SWT.” Materi menekankan bahwa kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh ukuran duniawi, melainkan oleh kualitas iman, ketakwaan, dan kebersihan hati.

Dalam tausiyahnya, Prof. Jati menjelaskan bahwa nilai kemanusiaan dalam Islam berakar pada ajaran muamalah, yaitu hubungan antarmanusia yang dibangun di atas kepedulian, kerja sama, dan semangat saling menolong. Islam mengajarkan agar setiap muslim senantiasa berbuat baik kepada sesama tanpa membedakan agama, suku, ras, maupun latar belakang sosial. Prinsip tersebut selaras dengan firman Allah dalam Surah Al-Qashash ayat 77 yang memerintahkan manusia untuk mengejar kebahagiaan akhirat tanpa melupakan tanggung jawab di dunia, sekaligus terus menebarkan kebaikan kepada orang lain.

Menurutnya, persoalan paling mendasar yang menentukan keselamatan manusia sejak alam ruh, kehidupan di dunia, hingga hari pembalasan adalah keyakinan kepada Allah SWT. Setiap manusia pada hakikatnya telah bersaksi bahwa Allah adalah Rabb-nya, sehingga keimanan menjadi fondasi utama yang harus dijaga sepanjang kehidupan. Di sisi lain, Allah juga mengilhamkan kepada manusia potensi menuju ketakwaan maupun keburukan. Karena itu, keberuntungan hanya akan diraih oleh mereka yang mampu menyucikan jiwa dan menjaga kebersihan hati dari berbagai penyakit spiritual.

Prof. Jati menegaskan bahwa ukuran keberhasilan menurut Allah berbeda dengan ukuran yang sering digunakan manusia. Harta, jabatan, gelar akademik, maupun popularitas bukanlah penentu kemuliaan seseorang di sisi-Nya. Allah justru memandang hati, keimanan, dan amal saleh yang dilakukan dengan ikhlas. Pesan tersebut dipertegas melalui firman Allah dalam Surah Al-Hujurat ayat 13 bahwa manusia yang paling mulia adalah yang paling bertakwa, serta hadis Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa Allah tidak melihat rupa maupun harta, tetapi melihat hati dan amal perbuatan manusia.

Dalam kajian tersebut, peserta juga diajak merenungkan bahwa kehidupan dunia hanyalah tempat ujian. Banyak orang mengukur kesuksesan dari kemewahan materi, padahal orientasi semacam itu dapat membuat manusia lalai terhadap kehidupan akhirat. Prof. Jati mengingatkan agar kaum muslim tidak mudah terpesona oleh gemerlap kehidupan dunia ataupun gaya hidup yang menjauhkan manusia dari nilai-nilai keimanan. Sebab, apa yang tampak sebagai keberhasilan dunia belum tentu menjadi ukuran keberuntungan di hadapan Allah.

Ia juga mengingatkan bahwa tidak ada harta maupun kekuasaan yang mampu menyelamatkan seseorang apabila meninggal dunia tanpa membawa keimanan. Al-Qur’an menggambarkan penyesalan manusia ketika kematian telah datang dan kesempatan beramal telah berakhir. Pada saat itu, keinginan untuk kembali ke dunia demi memperbaiki diri tidak lagi memiliki makna. Oleh karena itu, setiap muslim harus memanfaatkan kehidupan yang masih diberikan Allah untuk memperkuat iman dan memperbanyak amal saleh sebelum datangnya ajal.

Lebih jauh, Prof. Jati menjelaskan bahwa manusia diciptakan sebagai khalifah di bumi dengan potensi akal dan kemampuan untuk menghadirkan kemaslahatan. Amanah tersebut menuntut setiap muslim agar tidak hanya mengejar kepentingan pribadi, tetapi juga menghadirkan manfaat bagi masyarakat melalui sikap peduli, adil, dan saling membantu. Nilai kemanusiaan dalam Islam diwujudkan melalui hubungan sosial yang dilandasi kasih sayang, penghormatan terhadap sesama, dan semangat membangun kehidupan yang lebih baik.

Menutup tausiyahnya, Prof. Jati mengajak peserta menjadikan iman dan ketakwaan sebagai orientasi utama dalam menjalani kehidupan. Dunia tetap perlu diusahakan, namun tidak boleh menggeser tujuan akhir seorang mukmin, yaitu meraih ridha Allah SWT. Ia mengingatkan bahwa keseimbangan antara ikhtiar dunia dan persiapan akhirat merupakan karakter orang-orang beriman yang tidak dilalaikan oleh urusan pekerjaan maupun harta dari mengingat Allah.

Melalui Qiyamul Lail ini, UMS kembali meneguhkan komitmennya dalam membangun budaya akademik yang tidak hanya melahirkan insan profesional, tetapi juga pribadi yang memiliki integritas spiritual. Penguatan nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan diharapkan mampu membentuk dosen dan tenaga kependidikan yang menjadikan iman, ketakwaan, kepedulian sosial, serta akhlak mulia sebagai fondasi utama dalam menjalankan amanah di lingkungan perguruan tinggi maupun di tengah masyarakat.

Qiyamul Lail UMS: Kemuliaan Manusia di Hadapan Allah Diukur dari Iman dan Ketakwaan, Bukan Status Dunia Read More »

Muharram dan Puasa Asyura, Ini Panduan Autentik Muhammadiyah

SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menyelenggarakan Kajian Tarjih yang rutin dilaksanakan setiap hari Selasa sebagai bagian dari penguatan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) bagi dosen dan tenaga kependidikan. Kajian Tarjih Online ke-226 yang digelar melalui Zoom Meeting pada Selasa (9/6/2026) menghadirkan Ustadz Yayuli, M.P.I., dengan tema “Pemurnian Ibadah Muharram: Panduan Autentik Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah.”

Dalam pemaparannya, Yayuli mengajak peserta memahami kembali amalan-amalan yang disyariatkan pada bulan Muharram berdasarkan Al-Qur’an, As-Sunnah, serta panduan Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah. Menurutnya, Muharram merupakan salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah SWT, sehingga menjadi momentum untuk memperbanyak amal saleh sekaligus menjauhi berbagai bentuk kemaksiatan.

Ia menjelaskan bahwa Al-Qur’an menetapkan satu tahun terdiri atas dua belas bulan, dengan empat di antaranya termasuk bulan-bulan suci, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Pada bulan-bulan tersebut, umat Islam dianjurkan meningkatkan kualitas ibadah karena setiap amal kebaikan memiliki keutamaan yang besar.

Muharram sendiri dikenal sebagai Syahrullah atau “bulan Allah”. Penyandaran nama tersebut menunjukkan kemuliaan bulan Muharram sehingga Rasulullah SAW menganjurkan umat Islam memperbanyak ibadah, khususnya puasa sunnah.

Yayuli menerangkan bahwa amalan yang paling dianjurkan pada bulan Muharram adalah puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa puasa Asyura memiliki keutamaan sebagai penghapus dosa-dosa setahun yang telah lalu. Selain itu, beliau juga menganjurkan berpuasa pada tanggal 9 Muharram (Tasu’a) agar pelaksanaannya berbeda dengan tradisi kaum Yahudi.

Ia menyampaikan bahwa para ulama memberikan beberapa pilihan pelaksanaan puasa Asyura, yaitu berpuasa pada tanggal 9, 10, dan 11 Muharram, atau pada tanggal 9 dan 10 Muharram, maupun hanya pada tanggal 10 Muharram bagi yang tidak mampu melaksanakan lebih dari satu hari.

Selain memperbanyak puasa, umat Islam juga dianjurkan mengisi bulan Muharram dengan berbagai amal saleh lainnya, seperti memperbanyak salat sunnah, sedekah, zikir, dan berbagai bentuk kebaikan. Menurut Yayuli, semangat tersebut sejalan dengan kemuliaan bulan Muharram sebagai salah satu Asyhurul Hurum atau bulan-bulan yang dimuliakan Allah SWT.

Dalam kajian tersebut, Yayuli juga menegaskan pentingnya memurnikan ibadah Muharram dari berbagai praktik yang tidak memiliki landasan syariat. Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah mengajak umat Islam untuk kembali kepada tuntunan Rasulullah SAW dan menghindari praktik yang termasuk takhayul, bid’ah, dan khurafat.

Beberapa tradisi yang berkembang di masyarakat, seperti ritual khusus malam satu Suro, pembuatan bubur Suran yang diyakini memiliki keutamaan tertentu, maupun keyakinan terhadap mitos kesialan pada bulan Muharram, tidak termasuk amalan yang diajarkan Rasulullah SAW.

Demikian pula dengan bacaan doa khusus pada pergantian tahun Hijriah. Yayuli menjelaskan bahwa tidak terdapat tuntunan yang sahih dari Rasulullah SAW mengenai doa awal maupun akhir tahun yang dipatok pada momentum pergantian kalender Hijriah.

Menurutnya, pergantian tahun Islam hendaknya dijadikan sebagai momentum melakukan muhasabah atau evaluasi diri sekaligus memperkuat semangat hijrah menuju kehidupan yang lebih baik, bukan dirayakan dengan ritual-ritual yang tidak memiliki dasar dalam syariat.

Dalam kesempatan tersebut, Yayuli juga mengingatkan pentingnya membedakan antara ibadah yang memiliki dalil khusus dengan tradisi yang berkembang di masyarakat. Selama sebuah tradisi tidak diyakini sebagai bagian dari ibadah dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam, maka keduanya perlu diposisikan secara proporsional.

Melalui Kajian Tarjih yang rutin diselenggarakan setiap Selasa, UMS terus menghadirkan ruang pembinaan AIK bagi dosen dan tenaga kependidikan. Kajian ini menjadi sarana memperkuat pemahaman sivitas akademika terhadap berbagai persoalan keislaman berdasarkan Al-Qur’an, As-Sunnah, serta hasil ijtihad Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah sehingga nilai-nilai Islam dapat diamalkan secara murni dan sesuai tuntunan syariat.

Muharram dan Puasa Asyura, Ini Panduan Autentik Muhammadiyah Read More »

Di Balik Setiap Ujian, Allah Menyimpan Kasih Sayang

SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menyelenggarakan Kajian Tafsir Al-Qur’an sebagai agenda rutin setiap Sabtu dalam rangka penguatan nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) bagi dosen dan tenaga kependidikan. Kajian yang berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting pada Sabtu (6/6/2026) menghadirkan Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) UMS, Dr. Ainur Rha’in, S.Th.I., M.Th.I., yang mengupas tafsir QS. Al-Baqarah ayat 155–157 dengan fokus pada makna ujian sebagai wujud kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.

Dalam pemaparannya, Dr. Ainur Rha’in mengajak peserta mengubah cara pandang terhadap berbagai ujian kehidupan. Menurutnya, kesulitan yang dialami manusia, baik dalam bentuk persoalan ekonomi, kesehatan, keluarga, maupun pekerjaan, bukanlah tanda bahwa Allah membenci hamba-Nya. Sebaliknya, ujian merupakan bagian dari proses pembinaan keimanan sekaligus bukti kasih sayang Allah kepada orang-orang yang dicintai-Nya.

Beliau menjelaskan bahwa QS. Al-Baqarah ayat 155 menegaskan setiap manusia pasti akan diuji sesuai kadar keimanannya. Semakin tinggi kualitas iman seseorang, semakin besar pula tantangan yang dihadapinya. Hal tersebut tampak pada perjalanan para nabi yang menerima ujian berat dalam menyampaikan risalah Allah kepada umat manusia.

Menariknya, Dr. Ainur Rha’in mengulas penggunaan kata بِشَيْءٍ (bisyai’in) dalam ayat tersebut dari sisi kaidah bahasa Arab. Kata tersebut menunjukkan makna “sedikit”, yang mengisyaratkan bahwa ujian yang diberikan Allah sejatinya jauh lebih kecil dibandingkan nikmat yang telah dilimpahkan kepada manusia. Karena itu, seorang mukmin tidak selayaknya memandang hidup hanya dari sisi kesulitannya, tetapi juga menyadari betapa banyak karunia Allah yang telah diterima setiap hari.

Ia juga menguraikan bahwa penyebutan bentuk-bentuk ujian dalam ayat tersebut memiliki makna yang bertahap, mulai dari rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, kehilangan jiwa, hingga berkurangnya hasil usaha. Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa ujian dapat menyentuh berbagai aspek kehidupan manusia, baik fisik, psikologis, sosial, maupun ekonomi.

Meski demikian, Al-Qur’an tidak berhenti pada penyebutan ujian. Di akhir ayat, Allah justru memerintahkan Rasulullah SAW untuk menyampaikan kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. Menurut Dr. Ainur Rha’in, pesan tersebut menjadi penegasan bahwa di balik setiap kesulitan terdapat janji pertolongan, rahmat, dan balasan terbaik bagi mereka yang mampu menghadapinya dengan penuh keimanan.

Dalam kajian itu, beliau juga meluruskan pemahaman tentang makna sabar. Kesabaran dalam Islam bukan berarti pasrah tanpa usaha atau hanya menahan emosi. Sebaliknya, sabar adalah kemampuan menjaga keteguhan hati sambil terus berikhtiar mencari solusi atas setiap persoalan sesuai tuntunan syariat. Sikap tersebut menunjukkan bahwa keimanan harus diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan sekadar menunggu datangnya pertolongan.

Lebih lanjut, pembahasan beralih pada QS. Al-Baqarah ayat 156 yang mengajarkan kalimat istirja’, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”, sebagai respons seorang mukmin ketika menghadapi musibah. Kalimat tersebut bukan sekadar ungkapan saat terjadi kematian, tetapi merupakan deklarasi tauhid yang menegaskan bahwa seluruh kehidupan, harta, keluarga, dan diri manusia adalah milik Allah serta akan kembali kepada-Nya. Kesadaran inilah yang melahirkan ketangguhan jiwa sehingga seseorang tidak mudah tenggelam dalam kesedihan.

Menutup kajian, Dr. Ainur Rha’in menjelaskan bahwa QS. Al-Baqarah ayat 157 memuat kabar gembira bagi orang-orang yang bersabar. Allah menjanjikan ampunan, rahmat, serta petunjuk sebagai balasan atas kesabaran mereka. Kemuliaan seorang hamba, menurutnya, tidak diukur dari kedudukan, kekayaan, ataupun kekuasaan, melainkan dari kemampuannya menjaga keimanan ketika menghadapi ujian kehidupan.

Melalui kajian ini, peserta diajak memahami bahwa setiap ujian memiliki tujuan untuk membentuk pribadi yang lebih kuat, lebih sabar, dan semakin dekat kepada Allah SWT. Dengan menjadikan iman sebagai landasan dalam menghadapi setiap cobaan, seorang mukmin akan mampu mengubah kesulitan menjadi jalan menuju rahmat, ketenangan, dan kemuliaan di sisi-Nya.

Di Balik Setiap Ujian, Allah Menyimpan Kasih Sayang Read More »

Jangan Bersandar pada Amal, Qiyamul Lail UMS Teguhkan Harapan kepada Rahmat Allah

SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menggelar Qiyamul Lail sebagai agenda rutin pembinaan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) bagi dosen dan tenaga kependidikan setiap Jumat. Pada pelaksanaan yang berlangsung Jumat (5/6/2026), tausiyah disampaikan oleh dosen Fakultas Agama Islam UMS, Fauzul Hanif Noor Athief, Lc., M.Sc., yang mengupas hikmah pertama dalam kitab Al-Hikam karya Imam Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari tentang larangan bersandar pada amal.

Dalam kajiannya, Fauzul Hanif menjelaskan bahwa salah satu tanda seseorang terlalu bergantung pada amal ibadahnya adalah berkurangnya harapan kepada rahmat Allah ketika ia melakukan kesalahan atau terjatuh dalam dosa. Hikmah tersebut mengingatkan bahwa keselamatan seorang hamba tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya amal, melainkan oleh rahmat dan karunia Allah SWT.

Ia menegaskan bahwa seorang mukmin tetap diperintahkan untuk memperbanyak amal saleh, tetapi tidak boleh menjadikan amal tersebut sebagai sandaran utama. Amal hanyalah sebab, sedangkan diterima atau tidaknya amal serta keselamatan di akhirat sepenuhnya berada dalam kehendak Allah.

Mengutip firman Allah dalam Surah Az-Zumar ayat 53, Fauzul Hanif mengingatkan bahwa Allah melarang hamba-Nya berputus asa dari rahmat-Nya, sekalipun pernah melakukan banyak kesalahan. Menurutnya, dosa tidak boleh menjadi alasan untuk menjauh dari Allah, melainkan menjadi momentum untuk kembali dengan taubat yang tulus dan memperkuat harapan kepada ampunan-Nya.

Dalam penjelasannya, ia menguraikan konsep ar-raja’, yaitu pengharapan kepada Allah yang menjadi salah satu fondasi penting dalam perjalanan spiritual seorang muslim. Raja’ bukanlah harapan kosong tanpa usaha, tetapi keyakinan yang disertai kesungguhan dalam beribadah serta kepercayaan bahwa Allah akan menerima amal dan mengampuni hamba yang bertaubat.

Fauzul Hanif juga menjelaskan bahwa manusia hidup di alam yang fana, penuh dengan godaan hawa nafsu dan syahwat. Karena itu, seorang mukmin yang memiliki tauhid yang kuat tidak akan menggantungkan harapan kepada dunia ataupun kepada amalnya sendiri, melainkan hanya kepada Allah SWT. Baginya, hati merupakan bagian paling berharga dalam perjalanan menuju Allah karena di sanalah tempat bertumbuhnya harapan, keikhlasan, dan ketergantungan kepada Sang Pencipta.

Ia mengingatkan bahwa ketergantungan terhadap amal dapat melahirkan kesombongan yang halus. Seseorang bisa merasa lebih baik dari orang lain karena rajin beribadah, merasa aman karena banyak melakukan amal saleh, atau bahkan putus asa ketika melakukan dosa karena menganggap “modal amalnya” telah rusak. Padahal, seluruh kemampuan untuk beribadah merupakan karunia Allah yang diberikan kepada hamba-Nya.

Dalam tausiyah tersebut juga disampaikan sabda Rasulullah SAW yang menegaskan bahwa tidak seorang pun masuk surga semata-mata karena amalnya, termasuk Rasulullah sendiri, kecuali karena rahmat dan karunia Allah. Hadis tersebut menjadi pengingat bahwa amal harus melahirkan rasa syukur dan kerendahan hati, bukan kebanggaan terhadap diri sendiri.

Lebih lanjut, Fauzul Hanif menekankan bahwa syariat memang memerintahkan manusia untuk berusaha dan beramal, tetapi hakikatnya seorang hamba tidak boleh menyandarkan diri pada usaha tersebut. Keimanan yang sempurna lahir ketika seseorang menyadari bahwa segala kemampuan beribadah, kekuatan, taufik, hidayah, hingga kesempatan berbuat baik merupakan pemberian Allah semata.

Kalimat tauhid Laa ilaaha illallah, menurutnya, mengajarkan bahwa tidak ada tempat bergantung, berlindung, maupun berharap selain kepada Allah. Oleh sebab itu, menyandarkan diri kepada kemampuan pribadi tanpa menyadari pertolongan Allah merupakan bentuk ketergantungan yang harus dihindari oleh setiap muslim.

Melalui kajian Qiyamul Lail ini, peserta diajak memahami bahwa keseimbangan antara amal saleh, rasa takut kepada Allah, dan harapan terhadap rahmat-Nya menjadi ciri seorang mukmin yang matang secara spiritual. Ketika berhasil melakukan kebaikan, seorang hamba hendaknya bersyukur dan tidak ujub. Sebaliknya, ketika tergelincir dalam dosa, ia segera bertaubat tanpa kehilangan harapan kepada kasih sayang Allah.

Kajian tersebut menjadi pengingat bahwa tujuan akhir dari setiap amal bukanlah kebanggaan atas banyaknya ibadah, melainkan tumbuhnya ketawadukan, keikhlasan, dan keyakinan penuh bahwa keselamatan hanya dapat diraih melalui rahmat Allah SWT. Nilai-nilai inilah yang terus ditanamkan melalui pembinaan AIK di UMS agar dosen dan tenaga kependidikan tidak hanya unggul dalam profesionalisme, tetapi juga memiliki spiritualitas yang kokoh dalam menjalankan amanahnya.

Jangan Bersandar pada Amal, Qiyamul Lail UMS Teguhkan Harapan kepada Rahmat Allah Read More »

Scroll to Top