Surakarta – Lembaga Pengembangan Pondok, Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (LPPIK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menyelenggarakan Pelatihan Kultum bagi Tenaga Kependidikan (Tendik) Laki-laki pada Rabu–Kamis (17–18/6/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen UMS dalam memperkuat kompetensi dakwah sivitas akademika sekaligus mendukung implementasi Pedoman Kehidupan Islami Kampus UMS.
Pelatihan diawali dengan pembukaan dan menyanyikan lagu Sang Surya, dilanjutkan sambutan Kepala LPPIK UMS, Dr. Mahasri Shobahiya, M.Ag. Dalam sambutannya, Mahasri menegaskan bahwa dakwah merupakan tanggung jawab setiap muslim, termasuk tenaga kependidikan yang memiliki peran strategis sebagai teladan di lingkungan kampus.
Menurutnya, pelatihan ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kemampuan berbicara di depan umum, tetapi juga membentuk karakter pendakwah yang mampu menyampaikan nilai-nilai Islam secara santun, relevan, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
“Melalui pelatihan ini kami berharap tenaga kependidikan memiliki keberanian sekaligus kemampuan untuk menyampaikan pesan-pesan Islam yang menyejukkan. Dakwah tidak selalu dilakukan melalui mimbar besar, tetapi dapat dimulai dari kultum singkat yang memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar,” ujarnya.

Materi pertama bertajuk “Urgensi Dakwah melalui Kultum” disampaikan langsung oleh Dr. Mahasri Shobahiya, M.Ag. Ia menjelaskan bahwa kultum merupakan media dakwah yang berfungsi mengingatkan, mengajak, dan mengajarkan kebaikan kepada orang lain sekaligus menjadi sarana introspeksi diri. Kultum juga memiliki landasan yang kuat dalam Al-Qur’an dan hadis serta menjadi salah satu budaya organisasi Muhammadiyah dalam menyebarkan nilai-nilai Islam.
Mahasri menambahkan bahwa kultum idealnya berfokus pada satu pesan utama yang disampaikan secara sederhana, santun, mudah dipahami, dan aplikatif. Di era digital, menurutnya, tantangan dakwah semakin besar sehingga penyampaian kultum perlu dikemas secara menarik, ringkas, dan relevan agar mampu menjangkau masyarakat lebih luas melalui berbagai platform media sosial.
Ia juga menekankan bahwa dosen dan tenaga kependidikan UMS memiliki peran sebagai agen perubahan sosial melalui keteladanan akhlak dan aktivitas dakwah di lingkungan kampus maupun masyarakat.
Pada sesi diskusi, peserta Rohmah Hidayat menyampaikan bahwa kultum di Masjid Fadhlurrahman UMS kerap tidak terlaksana karena pengisi yang berhalangan hadir. Ia mengusulkan agar tenaga kependidikan yang memiliki kompetensi kultum dapat dilibatkan sebagai pengisi kultum. Selain itu, ia juga mengusulkan agar referensi keagamaan seperti Al-Qur’an, buku, dan majalah Islam kembali disediakan di masjid sebagaimana sebelum renovasi.
Materi kedua mengenai “Teknik Public Speaking dalam Kultum” disampaikan oleh Dr. Hakimuddin Salim, Lc., M.A. Ia menjelaskan bahwa dakwah merupakan salah satu cara menjaga eksistensi ajaran Islam melalui budaya saling menasihati dalam kebaikan.
Hakimuddin memaparkan berbagai teknik membuka kultum secara efektif, seperti mengawali dengan kisah yang relevan, humor yang santun, maupun data dan fakta yang mendukung tema. Sebaliknya, ia mengingatkan agar pemateri tidak menghabiskan waktu untuk memperkenalkan diri secara berlebihan karena identitas pembicara umumnya telah disampaikan oleh pembawa acara.

Selain teknik verbal, ia juga menekankan pentingnya komunikasi nonverbal melalui penampilan yang rapi, gestur yang tepat, kontak mata, bahasa tubuh yang percaya diri, serta kemampuan membangun kedekatan dengan audiens. Menurutnya, karakteristik penyampaian Rasulullah SAW dapat menjadi teladan dalam public speaking, yakni berbicara dengan tenang, singkat namun padat makna, menggunakan ilustrasi yang mudah dipahami, dan menyampaikan pesan dengan suara yang jelas.
“Kultum tidak boleh kosong dari dalil. Setiap materi hendaknya didukung oleh ayat Al-Qur’an maupun hadis sehingga memiliki kekuatan ilmiah dan spiritual yang lebih kuat dibandingkan sekadar kutipan motivasi,” tegasnya.
Menanggapi pertanyaan peserta mengenai rasa gugup saat tampil, Hakimuddin menyarankan agar pendakwah meluruskan niat, mempersiapkan materi secara matang, mengatur pernapasan, membawa poin-poin penting sebagai panduan, membangun interaksi positif dengan audiens, serta terus berlatih agar semakin percaya diri.
Materi ketiga bertema “Dakwah Digital dan Konten Kultum” disampaikan oleh Dr. Isman, S.H.I., S.H., M.H. Ia memperkenalkan berbagai bentuk penyajian kultum melalui media digital, mulai dari audio inspiratif, video dengan visual pendukung, hingga rekaman kultum yang dilengkapi teks atau subtitle.
Berdasarkan hasil survei yang dilakukan selama pelatihan, konten dakwah berbentuk video menjadi format yang paling diminati peserta. Isman menjelaskan bahwa kultum digital yang efektif setidaknya memiliki empat karakter utama, yaitu relevan dengan kebutuhan audiens, ringan dan mudah dipahami, berdurasi tepat, serta disampaikan dengan ketulusan.
Ia juga mendorong peserta untuk memanfaatkan media sosial sebagai sarana dakwah yang mampu menjangkau masyarakat lebih luas. Menanggapi pertanyaan mengenai fenomena kreator dakwah yang populer di media sosial, Isman mengingatkan pentingnya memiliki lingkungan yang baik sebagai tempat saling menasihati serta membuka diri terhadap kritik dan masukan.

Pada sesi diskusi lainnya, Isman menjelaskan bahwa kultum dan khutbah Jumat memiliki perbedaan mendasar. Khutbah Jumat memiliki rukun, syarat, dan tata cara yang telah ditetapkan dalam syariat sehingga penyampaiannya lebih formal, sedangkan kultum bersifat lebih fleksibel tanpa ketentuan khusus, meskipun keduanya tetap harus menyampaikan pesan moral dan nilai-nilai Islam.
Hari kedua pelatihan diisi dengan praktik kultum yang dimulai pukul 08.30 WIB. Peserta dibagi menjadi tiga kelompok dan diminta menyiapkan materi kultum untuk dipresentasikan secara bergantian.
Praktik tersebut dinilai berdasarkan kemampuan membuka kultum, penguasaan materi, alur penyampaian, kemudahan materi dipahami audiens, artikulasi dan sikap berbicara, kefasihan membaca dalil, serta kemampuan menyampaikan kesimpulan dan mengelola waktu.
Melalui pelatihan ini, LPPIK UMS berharap tenaga kependidikan tidak hanya memiliki keterampilan berbicara di depan umum, tetapi juga mampu menjadi penyampai dakwah yang bijaksana dan inspiratif. Pelatihan ini sekaligus menjadi bagian dari implementasi Pedoman Kehidupan Islami Kampus UMS dalam mengajak sivitas akademika untuk saling menasihati dalam kebaikan dan mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan bekal materi dan praktik yang diperoleh, peserta diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang menyebarkan nilai-nilai Islam, baik di lingkungan keluarga, tempat kerja, maupun masyarakat luas.



