Dari Molekul ke Makna Kehidupan, Qiyamul Lail UMS Ungkap Jejak Kebesaran Allah

SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) terus menguatkan pembinaan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) bagi dosen dan tenaga kependidikan melalui kegiatan Qiyamul Lail yang diselenggarakan rutin setiap Jumat. Pada pelaksanaan Qiyamul Lail ke-210, Jumat (19/6/2026), tausiyah disampaikan oleh dosen Fakultas Farmasi UMS, Peni Indrayudha, S.F., M.Biotech., Apt., Ph.D., yang mengajak peserta merenungkan keteraturan alam semesta, khususnya pada tingkat molekuler, sebagai bukti kebesaran Allah SWT sekaligus inspirasi dalam menjalankan amanah kehidupan.

Dalam kajiannya, Peni menjelaskan bahwa alam semesta bekerja berdasarkan sunnatullah, yaitu hukum-hukum Allah yang berlangsung secara teratur, konsisten, dan tidak pernah menyimpang. Keteraturan tersebut bahkan dapat diamati hingga ke tingkat paling kecil, yakni atom dan molekul, yang senantiasa bergerak dan berinteraksi sesuai aturan yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta.

Ia menguraikan bahwa berbagai fenomena ilmiah menunjukkan betapa presisinya sistem yang Allah ciptakan. Ikatan kimia terbentuk untuk mencapai kestabilan, DNA mampu menggandakan informasi genetik dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi, molekul air memiliki karakteristik unik yang menopang kehidupan di bumi, sementara enzim bekerja secara spesifik layaknya mekanisme “kunci dan gembok” yang memastikan seluruh proses metabolisme berlangsung dengan tepat.

Menurutnya, keteraturan tersebut bukan sekadar fenomena ilmiah, tetapi juga menjadi tanda ketundukan seluruh alam kepada Allah SWT. Sebagaimana disebutkan dalam Surah Fushshilat ayat 11, langit dan bumi tunduk kepada perintah-Nya. Alam semesta menjalankan fungsi masing-masing tanpa pernah membangkang terhadap ketetapan yang telah Allah gariskan.

Salah satu contoh yang disoroti dalam kajian adalah proses pelipatan protein (protein folding). Protein yang tersusun dari rangkaian asam amino harus membentuk struktur tiga dimensi secara tepat agar dapat menjalankan fungsinya di dalam tubuh. Prinsip ini dikenal dalam ilmu biologi sebagai structure determines function, yaitu struktur yang benar akan menghasilkan fungsi yang benar.

Sebaliknya, apabila terjadi kesalahan pelipatan protein (protein misfolding), fungsi biologis dapat terganggu dan memicu berbagai penyakit serius. Peni menjelaskan bahwa kondisi tersebut berkaitan dengan munculnya sejumlah penyakit degeneratif, seperti Alzheimer, Parkinson, penyakit prion, Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS), hingga diabetes melitus tipe 2. Pada tubuh manusia yang sehat, sistem pengendalian kualitas sel, termasuk molekul chaperone, bekerja terus-menerus untuk membantu protein melipat dengan benar atau menghancurkan protein yang mengalami kesalahan sebelum menimbulkan kerusakan.

Lebih jauh, Peni mengajak peserta mengambil pelajaran dari keteraturan molekuler tersebut dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Ia menegaskan bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kerja keras, tetapi juga oleh ketepatan cara, niat, dan tujuan. Sebagaimana protein yang hanya dapat berfungsi apabila strukturnya benar, demikian pula setiap pekerjaan hanya akan bernilai apabila dilaksanakan dengan integritas dan sesuai tuntunan yang benar.

Dalam konteks kehidupan akademik, ia mengingatkan bahwa dosen tidak cukup hanya unggul dalam kompetensi keilmuan, tetapi juga harus menjunjung tinggi integritas. Demikian pula tenaga kependidikan, selain bekerja dengan tekun, harus mengedepankan amanah, tanggung jawab, dan profesionalisme dalam setiap pelayanan yang diberikan.

Kajian ini juga menghubungkan prinsip ilmiah tersebut dengan konsep ihsan dalam Islam. Ketelitian, konsistensi, dan kesungguhan dalam bekerja merupakan bagian dari upaya menghadirkan kualitas terbaik sebagai bentuk pengabdian kepada Allah SWT. Amal yang dilakukan dengan cara yang benar, niat yang ikhlas, dan tujuan yang sesuai syariat akan melahirkan keberkahan, baik bagi diri sendiri maupun lingkungan sekitar.

Melalui Qiyamul Lail ke-210, peserta diajak melihat bahwa ilmu pengetahuan dan nilai-nilai keislaman bukanlah dua hal yang terpisah. Justru, semakin dalam manusia memahami keteraturan ciptaan Allah hingga ke tingkat molekuler, semakin kuat pula keyakinan akan kebesaran-Nya. Kesadaran tersebut diharapkan mendorong sivitas akademika UMS untuk menghadirkan budaya kerja yang profesional, berintegritas, dan berorientasi pada kemaslahatan sebagai implementasi nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan dalam kehidupan sehari-hari.

Scroll to Top