SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menggelar Qiyamul Lail sebagai agenda rutin pembinaan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) bagi dosen dan tenaga kependidikan setiap Jumat. Pada pelaksanaan yang berlangsung Jumat (5/6/2026), tausiyah disampaikan oleh dosen Fakultas Agama Islam UMS, Fauzul Hanif Noor Athief, Lc., M.Sc., yang mengupas hikmah pertama dalam kitab Al-Hikam karya Imam Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari tentang larangan bersandar pada amal.
Dalam kajiannya, Fauzul Hanif menjelaskan bahwa salah satu tanda seseorang terlalu bergantung pada amal ibadahnya adalah berkurangnya harapan kepada rahmat Allah ketika ia melakukan kesalahan atau terjatuh dalam dosa. Hikmah tersebut mengingatkan bahwa keselamatan seorang hamba tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya amal, melainkan oleh rahmat dan karunia Allah SWT.
Ia menegaskan bahwa seorang mukmin tetap diperintahkan untuk memperbanyak amal saleh, tetapi tidak boleh menjadikan amal tersebut sebagai sandaran utama. Amal hanyalah sebab, sedangkan diterima atau tidaknya amal serta keselamatan di akhirat sepenuhnya berada dalam kehendak Allah.
Mengutip firman Allah dalam Surah Az-Zumar ayat 53, Fauzul Hanif mengingatkan bahwa Allah melarang hamba-Nya berputus asa dari rahmat-Nya, sekalipun pernah melakukan banyak kesalahan. Menurutnya, dosa tidak boleh menjadi alasan untuk menjauh dari Allah, melainkan menjadi momentum untuk kembali dengan taubat yang tulus dan memperkuat harapan kepada ampunan-Nya.
Dalam penjelasannya, ia menguraikan konsep ar-raja’, yaitu pengharapan kepada Allah yang menjadi salah satu fondasi penting dalam perjalanan spiritual seorang muslim. Raja’ bukanlah harapan kosong tanpa usaha, tetapi keyakinan yang disertai kesungguhan dalam beribadah serta kepercayaan bahwa Allah akan menerima amal dan mengampuni hamba yang bertaubat.
Fauzul Hanif juga menjelaskan bahwa manusia hidup di alam yang fana, penuh dengan godaan hawa nafsu dan syahwat. Karena itu, seorang mukmin yang memiliki tauhid yang kuat tidak akan menggantungkan harapan kepada dunia ataupun kepada amalnya sendiri, melainkan hanya kepada Allah SWT. Baginya, hati merupakan bagian paling berharga dalam perjalanan menuju Allah karena di sanalah tempat bertumbuhnya harapan, keikhlasan, dan ketergantungan kepada Sang Pencipta.

Ia mengingatkan bahwa ketergantungan terhadap amal dapat melahirkan kesombongan yang halus. Seseorang bisa merasa lebih baik dari orang lain karena rajin beribadah, merasa aman karena banyak melakukan amal saleh, atau bahkan putus asa ketika melakukan dosa karena menganggap “modal amalnya” telah rusak. Padahal, seluruh kemampuan untuk beribadah merupakan karunia Allah yang diberikan kepada hamba-Nya.
Dalam tausiyah tersebut juga disampaikan sabda Rasulullah SAW yang menegaskan bahwa tidak seorang pun masuk surga semata-mata karena amalnya, termasuk Rasulullah sendiri, kecuali karena rahmat dan karunia Allah. Hadis tersebut menjadi pengingat bahwa amal harus melahirkan rasa syukur dan kerendahan hati, bukan kebanggaan terhadap diri sendiri.
Lebih lanjut, Fauzul Hanif menekankan bahwa syariat memang memerintahkan manusia untuk berusaha dan beramal, tetapi hakikatnya seorang hamba tidak boleh menyandarkan diri pada usaha tersebut. Keimanan yang sempurna lahir ketika seseorang menyadari bahwa segala kemampuan beribadah, kekuatan, taufik, hidayah, hingga kesempatan berbuat baik merupakan pemberian Allah semata.
Kalimat tauhid Laa ilaaha illallah, menurutnya, mengajarkan bahwa tidak ada tempat bergantung, berlindung, maupun berharap selain kepada Allah. Oleh sebab itu, menyandarkan diri kepada kemampuan pribadi tanpa menyadari pertolongan Allah merupakan bentuk ketergantungan yang harus dihindari oleh setiap muslim.
Melalui kajian Qiyamul Lail ini, peserta diajak memahami bahwa keseimbangan antara amal saleh, rasa takut kepada Allah, dan harapan terhadap rahmat-Nya menjadi ciri seorang mukmin yang matang secara spiritual. Ketika berhasil melakukan kebaikan, seorang hamba hendaknya bersyukur dan tidak ujub. Sebaliknya, ketika tergelincir dalam dosa, ia segera bertaubat tanpa kehilangan harapan kepada kasih sayang Allah.
Kajian tersebut menjadi pengingat bahwa tujuan akhir dari setiap amal bukanlah kebanggaan atas banyaknya ibadah, melainkan tumbuhnya ketawadukan, keikhlasan, dan keyakinan penuh bahwa keselamatan hanya dapat diraih melalui rahmat Allah SWT. Nilai-nilai inilah yang terus ditanamkan melalui pembinaan AIK di UMS agar dosen dan tenaga kependidikan tidak hanya unggul dalam profesionalisme, tetapi juga memiliki spiritualitas yang kokoh dalam menjalankan amanahnya.



