Surakarta – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menggelar Webinar Series sebagai bagian dari pembinaan dan penguatan nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) bagi dosen dan tenaga kependidikan. Pada Webinar Series #58 yang berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting, Rabu (29/4/2026), hadir Prof. Dr. Ir. Ali Agus, DAA., DEA., IPU., ASEAN. ENG., Dewan Pakar Anggota Pimpinan Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, yang membawakan materi bertajuk “Ketahanan Pangan dan Energi di Era Krisis Global Perspektif Muhammadiyah.”
Dalam pemaparannya, Prof. Ali Agus menegaskan bahwa ketahanan pangan dan energi merupakan fondasi penting bagi terwujudnya kemandirian bangsa. Menurutnya, tantangan global seperti perubahan iklim, konflik geopolitik, hingga krisis pangan dunia harus dijawab melalui penguatan sektor pertanian, peternakan, dan energi berbasis potensi nasional.
Ia menjelaskan bahwa sektor pertanian memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian nasional, mulai dari penyediaan pangan, penciptaan lapangan kerja, hingga sumber pendapatan masyarakat. Oleh karena itu, pembangunan pertanian tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga harus diarahkan pada modernisasi sistem budidaya, efisiensi distribusi, serta peningkatan kesejahteraan petani.
“Ketahanan pangan merupakan fondasi utama kemandirian bangsa. Negara yang mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri akan lebih siap menghadapi berbagai krisis global,” ujarnya.
Lebih lanjut, Prof. Ali Agus memaparkan sejumlah strategi untuk memperkuat ketahanan pangan nasional, di antaranya transformasi pertanian tradisional menuju pertanian modern, pengembangan lahan pertanian baru, penyederhanaan penyaluran pupuk bersubsidi, serta penguatan hilirisasi sektor pertanian dan peternakan. Berbagai kebijakan tersebut, menurutnya, mulai menunjukkan hasil melalui meningkatnya produksi beras nasional, cadangan beras pemerintah, serta membaiknya kesejahteraan petani yang tercermin dari kenaikan Nilai Tukar Petani (NTP).

Selain ketahanan pangan, ia juga menyoroti pentingnya kemandirian energi melalui pemanfaatan sumber daya hayati. Indonesia memiliki potensi besar mengembangkan biodiesel berbasis kelapa sawit yang dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas dalam negeri. Menurutnya, hilirisasi industri pertanian dan perkebunan menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional sekaligus menciptakan lapangan kerja yang lebih luas.
Dalam perspektif Muhammadiyah, pembangunan ketahanan pangan dan energi tidak hanya dipandang sebagai agenda pembangunan nasional, tetapi juga bagian dari ikhtiar mewujudkan kemaslahatan umat. Kemandirian dalam memenuhi kebutuhan dasar masyarakat menjadi implementasi nilai Islam yang mendorong produktivitas, keberlanjutan, dan keberpihakan terhadap kesejahteraan bersama.
Mengakhiri materinya, Dewan Pakar MPM PP Muhammadiyah tersebut mengajak seluruh elemen bangsa untuk memperkuat kolaborasi dalam membangun sektor pangan dan energi. Menurutnya, cita-cita menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia dapat diwujudkan apabila didukung oleh kebijakan yang tepat, komitmen politik yang kuat, sinergi multipihak, dan disiplin dalam pelaksanaannya.
“Kebijakan yang tepat, komitmen politik yang kuat, sinergitas multipihak, serta disiplin dalam pelaksanaan akan membawa Indonesia menuju swasembada pangan dan bioenergi. Indonesia sebagai lumbung pangan dunia bukanlah sebuah impian, melainkan tujuan yang dapat diwujudkan bersama,” pungkasnya.
Melalui Webinar Series yang diselenggarakan secara rutin setiap bulan, UMS terus menghadirkan ruang pembelajaran yang mengintegrasikan keilmuan dengan nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen universitas dalam membina dosen dan tenaga kependidikan agar memiliki wawasan yang adaptif terhadap isu-isu strategis sekaligus mampu mengimplementasikan nilai Islam Berkemajuan dalam pelaksanaan tridarma perguruan tinggi.



