SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) terus memperkuat pemahaman Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) bagi dosen dan tenaga kependidikan melalui Kajian Tafsir Al-Qur’an yang diselenggarakan secara rutin setiap Sabtu. Pada kajian yang berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting, Sabtu (2/5) Ust. Dr. Ainur Rha’in mengupas kandungan QS. Al-Baqarah ayat 144–147 yang menyoroti hikmah perubahan arah kiblat sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT.
Dalam pemaparannya, Ust. Ainur Rha’in menjelaskan bahwa perpindahan kiblat dari Baitul Maqdis menuju Masjidil Haram bukan sekadar perubahan arah salat, melainkan ketetapan Allah yang mengandung hikmah besar sekaligus menjadi ujian keimanan bagi umat Islam. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa Allah mengetahui harapan Rasulullah SAW dan menetapkan Ka’bah sebagai kiblat umat Islam, sebagaimana termaktub dalam firman-Nya pada QS. Al-Baqarah ayat 144.
Menurutnya, perubahan kiblat menjadi simbol pemurnian arah ibadah sekaligus penegasan identitas umat Islam yang mandiri. Ketaatan kepada Allah dan Rasul harus diwujudkan secara utuh tanpa disertai keraguan, karena setiap ketetapan Allah mengandung kebaikan bagi hamba-Nya.
Kajian tersebut juga menekankan bahwa perintah menghadap kiblat berlaku bagi seluruh umat Islam di mana pun berada. Kesatuan arah dalam beribadah mencerminkan kesatuan visi dan tujuan umat dalam menjalankan ajaran Islam. Lebih dari sekadar orientasi fisik, menghadap kiblat merupakan manifestasi kepatuhan spiritual yang lahir dari keimanan yang kokoh.

Selain itu, Ust. Ainur Rha’in mengingatkan pentingnya menjaga integritas iman dengan mengambil pelajaran dari sikap sebagian Ahli Kitab yang mengetahui kebenaran tentang perpindahan kiblat, tetapi enggan menerimanya karena dipengaruhi kepentingan dan hawa nafsu. Kondisi tersebut menjadi peringatan agar umat Islam tidak hanya memahami kebenaran, tetapi juga mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Beliau juga mengulas pesan Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 145 yang memperingatkan agar kaum muslimin tidak mengikuti keinginan atau tekanan pihak lain yang bertentangan dengan petunjuk wahyu. Kebenaran, menurutnya, tidak ditentukan oleh banyaknya pendapat atau tekanan kelompok, melainkan oleh ketetapan Allah SWT. Oleh karena itu, seorang muslim dituntut memiliki keberanian dan konsistensi dalam mempertahankan nilai-nilai Islam.
Lebih lanjut, pembahasan QS. Al-Baqarah ayat 148 mengarahkan perhatian peserta pada pentingnya berlomba dalam kebaikan. Perbedaan arah ibadah setiap umat tidak seharusnya menjadi sumber perdebatan yang berkepanjangan, melainkan menjadi pengingat bahwa fokus utama seorang mukmin adalah memperbanyak amal saleh dan memberikan kontribusi positif bagi kehidupan.
Menutup kajian, Ust. Ainur Rha’in menegaskan kandungan QS. Al-Baqarah ayat 147 yang menyatakan bahwa kebenaran berasal dari Allah SWT sehingga tidak boleh disertai keraguan. Keyakinan terhadap wahyu menjadi fondasi utama dalam menjalankan ajaran Islam secara istiqamah di tengah berbagai tantangan zaman.
Melalui kajian ini, peserta diajak memahami bahwa peristiwa perubahan kiblat bukan hanya bagian dari sejarah Islam, tetapi juga mengandung pelajaran mendalam tentang pentingnya ketaatan kepada Allah, menjaga persatuan umat, menghindari keraguan dalam beragama, serta menjadikan perlombaan dalam amal saleh sebagai orientasi utama dalam kehidupan. Nilai-nilai tersebut diharapkan semakin memperkuat karakter spiritual dosen dan tenaga kependidikan UMS dalam mengemban tugas sebagai bagian dari perguruan tinggi Muhammadiyah.



