SURAKARTA – Lembaga Pengembangan Pondok, Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (LPPIK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menyelenggarakan Pelatihan Khatib dan Imam Shalat Jum’at bagi Tenaga Kependidikan (Tendik) pada Selasa–Rabu, 16–17 Desember 2025. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penguatan kapasitas keagamaan sivitas kampus dalam mendukung dakwah Islam yang berkemajuan.
Kepala LPPIK UMS, Dr. Mahasri Shobahiya, M.Ag., menegaskan bahwa pelatihan ini memiliki orientasi strategis bagi UMS dan Persyarikatan Muhammadiyah.
“Kami berharap melalui pelatihan ini, UMS dapat menjadi rujukan khatib dan imam Shalat Jum’at, tidak hanya di lingkungan Kemuhammadiyahan Surakarta, tetapi juga di daerah lainnya,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa kegiatan ini diarahkan untuk membentuk kelompok imam dan khatib Shalat Id yang siap bertugas di tengah masyarakat.
Pada hari pertama, Selasa (16/12), peserta mendapatkan materi “Risalah Imamah Shalat Jum’at” yang disampaikan oleh Dr. H. Imron Rosyadi, M.Ag. Dalam pemaparannya, ia menekankan pentingnya pemahaman fiqh Shalat Jum’at yang komprehensif dan proporsional.

“Dalam Manhaj Tarjih Muhammadiyah, khatib tidak harus sekaligus menjadi imam. Jika terdapat imam dengan bacaan yang lebih baik, maka hal itu diperbolehkan,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan agar khutbah disampaikan secara ringkas. “Durasi shalat hendaknya lebih panjang daripada khutbah, sehingga khutbah tidak perlu terlalu panjang dan bertele-tele,” tambahnya.
Materi selanjutnya, “Sistematika dan Retorika Khutbah Jum’at,” disampaikan oleh Dr. Hakimuddin Salim, Lc., M.A. Ia menegaskan bahwa khutbah memiliki posisi strategis dalam pembinaan umat.
“Khutbah Jum’at bukan sekadar formalitas, tetapi media pendidikan dan dakwah. Karena itu, isinya harus jelas, relevan dengan jamaah, dan disampaikan dengan tanggung jawab,” tuturnya.
Materi ketiga bertajuk “Adab dan Macam-Macam Do’a” disampaikan oleh Dr. Isman, S.HI., S.H., M.H. Ia menekankan pentingnya mengikuti sunnah Nabi dalam doa khutbah.
“Doa pada khutbah kedua dilakukan sambil berdiri dan tanpa mengangkat tangan. Cukup dengan isyarat jari telunjuk, sebagaimana dicontohkan Rasulullah ﷺ,” terangnya.
Menurutnya, doa khutbah sebaiknya ringkas, menggunakan lafaz syar‘i, dan tidak berlebihan agar tetap menjaga kekhusyukan jamaah.

Pelatihan hari kedua, Rabu (17/12), diisi dengan praktik khutbah yang diikuti seluruh peserta dan diuji oleh Suwinarno, M.P.I., Dodi Afianto, S.Ag., M.Pd.I., dan Dr. Azhar Alam, Lc., S.E., M.SEI. Melalui sesi ini, peserta mendapatkan evaluasi langsung sebagai bekal meningkatkan kualitas penyampaian khutbah di masjid-masjid.
Kegiatan ditutup dengan penegasan komitmen LPPIK UMS dalam menyiapkan kader imam dan khatib yang berilmu, beradab, dan mencerahkan, sejalan dengan nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan.



