Qiyamul Lail ke-199 UMS: Pemanfaatan Artificial Intelligence Harus Beretika dan Bertanggung Jawab

SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menggelar Qiyamul Lail ke-199 pada Jumat, 30 Januari 2026. Kegiatan ini menghadirkan Endang Wahyu Pamungkas, S.Kom., M.Kom., Ph.D., yang menyampaikan tausiyah bertema “Pemanfaatan Teknologi Artificial Intelligence (AI) Secara Beretika dan Bertanggung Jawab.”

Dalam pemaparannya, Endang menekankan bahwa perkembangan Artificial Intelligence (AI) merupakan keniscayaan zaman yang harus disikapi dengan bijak. Teknologi ini dapat menjadi sarana kemaslahatan, namun juga berpotensi menimbulkan mudarat apabila disalahgunakan.

Ia mengawali tausiyah dengan mengingatkan pentingnya meluruskan niat dalam memanfaatkan AI. Menurutnya, penggunaan AI hendaknya diniatkan untuk kemaslahatan, seperti mendukung proses pembelajaran, riset, serta membantu pemecahan persoalan nyata di masyarakat dengan tujuan kebermanfaatan yang luas.

Selain itu, ia menegaskan agar pengguna teknologi tidak memproduksi maupun menyebarkan konten haram dan fitnah. Generative AI, misalnya, tidak boleh dimanfaatkan untuk membuat hoaks, deepfake, ataupun konten tidak bermoral. Ia mengutip firman Allah SWT dalam QS Al-Hujurat ayat 6:

أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka telitilah (tabayyun), agar kamu tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya.”

Ayat tersebut menjadi landasan penting untuk melakukan verifikasi (tabayyun) terhadap setiap informasi, termasuk konten yang dihasilkan AI.

Lebih lanjut, Endang mengingatkan bahwa setiap ilmu dan kemampuan yang dimiliki manusia akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Ia mengutip hadis Rasulullah SAW:

لا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلَاهُ

“Kedua kaki seorang hamba tidak akan beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa ia habiskan, ilmunya untuk apa ia amalkan, hartanya dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan, serta tubuhnya untuk apa digunakan.” (HR. Tirmidzi no. 2417)

Dalam konteks AI, hal ini berarti pengetahuan dan keterampilan terkait teknologi tersebut harus digunakan secara bertanggung jawab.

Ia juga menekankan pentingnya menggunakan AI dengan hikmah dan moderasi. Penggunaan teknologi tidak boleh berlebihan, tidak menimbulkan ketergantungan, serta tidak menggantikan akal dan etika manusia. Setiap hasil luaran AI perlu diperiksa dan dimoderasi untuk memastikan validitas, keadilan, dan inklusivitasnya.

Terakhir, Endang menyoroti pentingnya kejujuran dan transparansi dalam penggunaan AI, khususnya dalam dunia akademik. Pemanfaatan AI dalam karya ilmiah hendaknya disampaikan secara terbuka, tanpa mengklaim hasil AI sebagai karya pribadi sepenuhnya. Ia juga mengingatkan untuk menghindari plagiarisme dan manipulasi data.

Melalui Qiyamul Lail ke-199 ini, jamaah diajak untuk memandang teknologi sebagai amanah yang harus dikelola dengan niat yang lurus, etika yang kuat, serta tanggung jawab moral, sehingga AI benar-benar menjadi sarana kemaslahatan bagi umat.

Scroll to Top