SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menyelenggarakan kegiatan Qiyamul Lail ke-195 pada Jumat dini hari, 12 Desember 2025. Kegiatan ini menghadirkan dosen Fakultas Agama Islam (FAI) UMS, Alfiyatul Azizah, L.c., M.Ud., sebagai penceramah dengan tausiyah bertajuk “Belajar Dzikir dan Syukur”.
Dalam tausiyahnya, Alfiyatul Azizah mengawali kajian dengan menegaskan pentingnya dzikir dan syukur sebagai fondasi utama dalam membangun hubungan seorang hamba dengan Allah SWT. Ia mengutip QS Al-Baqarah ayat 151–152, yang menegaskan perintah Allah agar manusia senantiasa mengingat-Nya dan bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan.
“Ibroh atau pelajaran dari Al-Qur’an tidak terikat pada sebab turunnya ayat, melainkan pada lafal ayat itu sendiri. Karena itu, pesan dzikir dan syukur bersifat universal dan relevan sepanjang zaman,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa seluruh nikmat yang diberikan Allah SWT tidak boleh dilupakan. Manusia, menurutnya, akan hidup selamanya untuk mengingat siapa pemberi nikmat tersebut. Melalui dzikir, Allah menghendaki manusia senantiasa dekat, patuh, dan sadar akan posisi kehambaannya di hadapan-Nya.
Lebih lanjut, Alfiyatul Azizah menjelaskan makna syukur sebagai kondisi menerima dan mengakui segala ketetapan Allah dengan penuh kepatuhan, sesuai dengan keadaan yang diberikan. Syukur bukanlah membandingkan nikmat diri dengan orang lain, melainkan menerima apa adanya dengan ikhlas.
“Syukur harus diwujudkan secara utuh melalui tiga aspek, yaitu hati, lisan, dan perbuatan. Ketiganya harus berjalan bersama,” ungkapnya.
Ia merinci bahwa syukur dengan hati diwujudkan dengan mengakui ketergantungan penuh kepada Allah SWT. Syukur dengan lisan diekspresikan melalui ucapan seperti Alhamdulillah dan Laa haula wa laa quwwata illa billah. Sementara syukur dengan perbuatan dilakukan dengan memaksimalkan seluruh potensi yang dimiliki untuk melakukan perbaikan dan kebaikan.
Alfiyatul Azizah juga mengingatkan janji Allah SWT bahwa siapa pun yang bersyukur, niscaya Allah akan menambahkan nikmat kepadanya. Oleh karena itu, setiap Muslim perlu senantiasa melakukan muhasabah, apakah selama ini telah bersyukur dengan hati, lisan, dan perbuatan secara seimbang.
Rangkaian Qiyamul Lail ke-195 kemudian ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Ust. Ahmad Nurrohim, Lc., M.Pd.I. Doa dipanjatkan agar seluruh jamaah diberikan keistiqamahan dalam berdzikir, kelapangan hati dalam bersyukur, serta keridaan Allah SWT dalam setiap amal yang dilakukan.



