SURAKARTA – Lembaga Pengembangan Pondok, Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (LPPIK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menyelenggarakan Pelatihan Khatib dan Imam Shalat Jum’at bagi dosen UMS pada Selasa–Rabu, 13–14 Januari 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan peran dosen sebagai pencerah umat dan penggerak dakwah Islam berkemajuan di tengah masyarakat.
Kepala LPPIK UMS, Dr. Mahasri Shobahiya, M.Ag., menyampaikan harapan agar kegiatan ini mampu menjadikan UMS sebagai rujukan khatib dan imam shalat Jum’at di lingkungan Kemuhammadiyahan Surakarta dan daerah lainnya.
“UMS diharapkan mampu melahirkan kelompok imam dan khatib, termasuk imam dan khatib shalat Id, yang berilmu, beradab, dan menyejukkan umat,” ujarnya.

Pada sesi awal, peserta dibekali pemahaman fikih imamah shalat Jum’at yang membahas dasar hukum, adab sebelum khutbah, serta ketentuan pelaksanaan shalat Jum’at menurut perspektif tarjih Muhammadiyah. Narasumber Dr. Imron Rosyadi, M.Ag., menegaskan bahwa dalam tarjih Muhammadiyah, khatib tidak harus menjadi imam apabila terdapat jamaah yang lebih baik bacaannya.
“Pelaksanaan shalat Jum’at dianjurkan lebih panjang daripada khutbah, sehingga khutbah hendaknya disampaikan secara ringkas dan padat,” jelasnya.
Selanjutnya, pembahasan diarahkan pada penguatan sistematika dan retorika khutbah Jum’at sebagai media dakwah yang efektif. Dr. Azhar Alam, Lc., S.E., M.SEI., menekankan pentingnya khutbah yang relevan dengan kondisi jamaah serta disampaikan dengan bahasa yang jelas dan mudah dipahami.
“Khutbah tidak harus panjang, tetapi harus mampu menyampaikan pesan kebaikan secara efektif,” tuturnya. Pada sesi ini, peserta juga diberi kesempatan untuk melakukan praktik khutbah.

Masih dalam rangkaian pelatihan, peserta mendapatkan pembekalan terkait adab dan tata cara berdoa dalam khutbah agar sesuai tuntunan syariat. Dr. Isman, S.HI., S.H., M.H., menjelaskan bahwa doa dalam khutbah hendaknya ringkas, proporsional, serta berfokus pada penguatan tauhid dan kemaslahatan umat.
“Doa dalam khutbah dibacakan dalam keadaan berdiri dan cukup dengan isyarat jari telunjuk,” jelasnya.

Pada hari kedua kegiatan, pelatihan dilanjutkan dengan praktik khutbah yang dievaluasi oleh Suwinarno, M.P.I., Dodi Afianto, S.Ag., M.Pd.I., dan Dr. Azhar Alam, Lc., M.SEI. sebagai tim penguji.
Menutup rangkaian pelatihan, Dr. Mahasri kembali mengingatkan pentingnya peran dosen UMS untuk dekat dengan AUM dan masyarakat.
“Tugas kita bukan hanya bertahan di dunia, tetapi juga menyiapkan bekal akhirat. Dosen harus hadir untuk mencerahkan umat dengan khutbah yang tegas namun sejuk,” pungkasnya.
Pelatihan ini ditutup dengan hamdalah, dengan harapan mampu melahirkan khatib dan imam dari kalangan dosen UMS yang berdampak positif bagi terwujudnya kampus Islami yang sejuk dan menyejukkan.



