SURAKARTA – Dalam upaya memperkuat pembinaan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) bagi dosen dan tenaga kependidikan, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menggelar Kajian Tafsir rutin pada Sabtu (27/6/2026). Kajian yang berlangsung secara daring tersebut menghadirkan dosen Fakultas Agama Islam (FAI) UMS, Dr. Hakimuddin Salim, Lc., M.A., yang mengulas tema “Dahsyatnya Doa Orang Tua untuk Anaknya (Tafsir Tarbawi QS Al-Furqan: 74)”.
Dalam pemaparannya, Hakimuddin menjelaskan bahwa Surat Al-Furqan ayat 74 merupakan salah satu doa yang sangat dikenal di kalangan umat Islam. Ayat tersebut tidak hanya berisi permohonan agar Allah menganugerahkan pasangan dan keturunan yang menjadi penyejuk hati, tetapi juga mencerminkan karakter seorang ibadurrahman, yaitu hamba-hamba Allah yang memiliki ketakwaan dan kepedulian terhadap keberlangsungan generasi.
Menurutnya, doa tersebut menunjukkan bahwa seorang mukmin tidak cukup hanya membangun hubungan spiritual dengan Allah, tetapi juga memiliki tanggung jawab dalam membina keluarga sebagai fondasi utama lahirnya masyarakat yang baik.
“Orang yang senantiasa memanjatkan doa dalam Surat Al-Furqan ayat 74 menunjukkan kepeduliannya terhadap generasi penerus. Hal itu merupakan salah satu ciri ibadurrahman yang dijelaskan dalam Al-Quran,” ungkapnya.
Hakimuddin menjelaskan bahwa frasa qurrata a’yun sering dipahami sebagai kebahagiaan orang tua ketika melihat anak-anaknya berhasil meraih prestasi duniawi. Namun, ia mengutip penjelasan Imam Ath-Thabari yang memaknai kebahagiaan tersebut sebagai keberhasilan anak dalam mencapai kualitas penghambaan kepada Allah SWT.
Menurutnya, keberhasilan dunia bersifat sementara, sedangkan keberhasilan dalam beribadah akan menjadi amal yang terus mengalir dan memberikan manfaat hingga kehidupan akhirat.
Ia juga mengutip penjelasan As-Sa’di yang menyebutkan bahwa cita-cita terbesar orang tua beriman bukan sekadar melihat anak berhasil secara materi, melainkan menyaksikan mereka taat kepada Allah dan mampu mengamalkan ilmu yang dimilikinya.
Lebih lanjut, Hakimuddin menekankan bahwa kebaikan sebuah keluarga akan memberikan pengaruh besar terhadap kehidupan sosial. Keluarga, katanya, merupakan miniatur masyarakat sehingga kualitas sebuah bangsa sangat ditentukan oleh kualitas keluarga-keluarga yang membentuknya.
“Keluarga adalah miniatur sebuah bangsa. Jika ingin membangun bangsa yang baik, maka pembinaan harus dimulai dari keluarga,” jelasnya.
Ia juga menguraikan bahwa penyebutan pasangan lebih dahulu daripada anak dalam ayat tersebut memberikan isyarat pentingnya membangun hubungan suami istri yang baik. Keharmonisan pasangan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi lahirnya generasi yang saleh dan bertakwa.
Pada kesempatan tersebut, Hakimuddin mengingatkan besarnya kedudukan doa orang tua bagi anak. Ia mengutip hadis Rasulullah SAW yang menjelaskan bahwa doa orang tua termasuk doa yang mustajab. Karena itu, setiap anak dianjurkan senantiasa memohon doa dan restu dari kedua orang tuanya dalam setiap langkah kehidupan.
Selain memperbanyak doa kebaikan, ia mengimbau para orang tua agar menjaga ucapan kepada anak-anaknya. Menurutnya, perkataan yang buruk dapat berubah menjadi doa yang tidak disadari, sehingga orang tua perlu membiasakan memberikan nasihat, harapan, dan doa yang baik.
Menutup kajian, Hakimuddin menyampaikan bahwa doa merupakan wujud kasih sayang yang paling tulus karena dipanjatkan tanpa diketahui oleh anak. Hal yang sama juga berlaku bagi para pendidik yang menjalankan perannya sebagai orang tua di lingkungan pendidikan.
Melalui Kajian Tafsir yang rutin diselenggarakan setiap pekan, UMS berharap nilai-nilai Al-Quran tidak hanya dipahami secara teoritis, tetapi juga menjadi pedoman dalam membangun keluarga, memperkuat karakter, serta membentuk lingkungan akademik yang berlandaskan nilai-nilai Islam dan Kemuhammadiyahan.



