SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menyelenggarakan Qiyamul Lail sebagai agenda rutin pembinaan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) bagi dosen dan tenaga kependidikan setiap Jumat. Pada pelaksanaan Jumat (26/6/2026), tausiyah disampaikan oleh dosen Fakultas Geografi UMS, Dr. Aditya Saputra, S.Si., M.Sc., yang mengangkat tema “Gempa Bumi dalam Perspektif Al-Qur’an dan Geografi.” Kajian ini mengajak peserta memahami bencana alam melalui perpaduan sudut pandang ilmu pengetahuan dan nilai-nilai keimanan.
Dalam pemaparannya, Dr. Aditya menjelaskan bahwa gempa bumi merupakan fenomena yang memiliki dua dimensi sekaligus, yakni dimensi ilmiah dan dimensi spiritual. Dari perspektif geografi, gempa terjadi akibat pelepasan energi yang dipicu oleh pergerakan lempeng tektonik di dalam kerak bumi. Namun bagi seorang muslim, peristiwa tersebut juga mengandung hikmah sebagai pengingat akan kebesaran Allah SWT, ujian keimanan, sekaligus momentum untuk memperkuat ketakwaan.
Ia mengutip Surah Al-Zalzalah yang menggambarkan dahsyatnya guncangan bumi pada hari ketika bumi mengeluarkan seluruh isi perutnya dan menjadi saksi atas segala perbuatan manusia. Menurutnya, ayat tersebut mengingatkan bahwa setiap kejadian di alam semesta tidak berlangsung tanpa makna, melainkan menjadi pelajaran agar manusia senantiasa mengingat Allah dan mempersiapkan diri menghadapi kehidupan akhirat.
Dalam kajian tersebut dijelaskan bahwa Islam memandang gempa bumi bukan sekadar peristiwa kebetulan. Bencana alam merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah yang menyadarkan manusia akan keterbatasannya. Ketika bumi yang selama ini menjadi tempat berpijak dapat berguncang tanpa mampu dihentikan oleh manusia, muncul kesadaran bahwa seluruh kekuatan hakikatnya berada di bawah kehendak Sang Pencipta.
Selain sebagai bukti kebesaran Allah, gempa juga dipahami sebagai tadzkirah atau peringatan agar manusia melakukan introspeksi diri. Musibah menjadi kesempatan untuk memperbaiki hubungan dengan Allah, memperbanyak istighfar, meningkatkan kualitas ibadah, serta menjauhi berbagai bentuk kemaksiatan. Bagi mereka yang tertimpa musibah, bencana juga menjadi ujian kesabaran yang bernilai pahala apabila dihadapi dengan keimanan dan ketabahan.
Dari sisi keilmuan, Dr. Aditya menjelaskan bahwa cabang ilmu yang mempelajari gempa bumi adalah seismologi. Gempa terjadi karena kerak bumi tersusun atas lempeng-lempeng tektonik yang terus bergerak secara dinamis. Ketika tekanan akibat pergerakan tersebut tidak lagi mampu ditahan oleh batuan, energi akan dilepaskan dalam bentuk gelombang seismik yang dirasakan sebagai getaran di permukaan bumi.
Ia juga mengingatkan bahwa Indonesia merupakan salah satu wilayah dengan tingkat aktivitas gempa yang tinggi karena berada di pertemuan tiga lempeng tektonik utama, yakni Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik, serta termasuk dalam kawasan Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik. Kondisi geografis tersebut menjadikan masyarakat Indonesia perlu memiliki pemahaman yang baik mengenai mitigasi bencana.
Menurutnya, mempelajari ilmu geografi dan kebencanaan tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Sebaliknya, upaya memahami jalur patahan, membangun bangunan tahan gempa, serta mengetahui prosedur evakuasi merupakan bentuk ikhtiar untuk menjaga keselamatan jiwa yang telah diamanahkan Allah kepada manusia.
Melalui kajian ini, peserta diajak menyadari bahwa keimanan dan ilmu pengetahuan saling melengkapi dalam memahami berbagai fenomena alam. Sikap spiritual mendorong manusia untuk bertawakal dan mengambil hikmah di balik setiap musibah, sedangkan ilmu pengetahuan membimbing manusia mengambil langkah-langkah preventif dan rasional dalam menghadapi risiko bencana.
Qiyamul Lail ke-211 ini menjadi pengingat bahwa setiap peristiwa alam mengandung pelajaran berharga. Guncangan bumi bukan hanya mengingatkan manusia akan rapuhnya kehidupan dunia, tetapi juga mendorong lahirnya kesadaran untuk memperkuat iman, meningkatkan kepedulian terhadap sesama, dan mempersiapkan diri menghadapi kehidupan yang kekal. Melalui pembinaan AIK secara berkelanjutan, UMS terus berkomitmen membentuk sivitas akademika yang mampu memadukan kecakapan keilmuan dengan kedalaman spiritual dalam menjalankan amanah sebagai insan berkemajuan.



