SURAKARTA – Menjelang akhir masa studi, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali memperoleh pembekalan komprehensif melalui Baitul Arqam Purna Studi (BAPS) periode ke-56 yang diselenggarakan oleh Lembaga Pengembangan Pondok, Al-Islam, dan Kemuhammadiyahan (LPPIK), Sabtu (25/4). Kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar UMS dalam menyiapkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter Islami dan siap menghadapi dinamika kehidupan bermasyarakat.
Rangkaian pembinaan diawali dengan materi Profetik Transendental yang disampaikan Prof. Ihwan Susila, S.E., M.Si., Ph.D. Ia menjelaskan bahwa karakter profetik merupakan fondasi utama seorang muslim, yang tercermin dalam empat sifat Rasulullah, yakni sidiq (jujur), fathonah (cerdas), amanah (dapat dipercaya), dan tabligh (menyampaikan kebenaran).
Menurutnya, karakter tersebut menjadi modal bagi umat Islam untuk mewujudkan predikat sebagai khaira ummah atau umat terbaik yang senantiasa mengajak kepada kebaikan, mencegah kemungkaran, dan beriman kepada Allah. Nilai-nilai profetik tersebut dibangun melalui tiga pilar utama, yaitu humanisasi, liberasi, dan transendensi.
“Karakter profetik harus melekat pada setiap lulusan, yakni sidiq, fathonah, amanah, dan tabligh. Inilah ciri umat terbaik yang menyeru pada kebaikan, mencegah kemungkaran, dan beriman kepada Allah,” ungkap Prof. Ihwan.

Ia menambahkan bahwa transendensi diwujudkan melalui komunikasi manusia dengan Allah melalui ibadah seperti shalat dan dzikir, yang menjadi sarana mendekatkan diri kepada-Nya, mengendalikan hawa nafsu, sekaligus menghadirkan ketenangan jiwa.
Sesi berikutnya menghadirkan Dr. Mutohharun Jinan, M.Ag. dengan materi Karakteristik Sarjana Muhammadiyah. Ia menegaskan bahwa lulusan Muhammadiyah memiliki tanggung jawab lebih dari sekadar meraih prestasi akademik.
“Sarjana Muhammadiyah dituntut tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga berakhlak mulia, mandiri, peduli terhadap persoalan sosial, dan berpihak pada kemaslahatan umat,” jelasnya.
Pembekalan berlanjut pada sesi ketiga bersama Dr. Mahasri Shobahiya, M.Ag. yang membahas Persiapan Memasuki Dunia Kerja dan Pengembangan Karier. Ia mengingatkan bahwa lulusan akan menghadapi berbagai tantangan, mulai dari terbatasnya kesempatan kerja, meningkatnya tuntutan kompetensi, hingga persaingan yang semakin ketat.

Dalam paparannya, Dr. Mahasri mendorong mahasiswa untuk mengenali potensi diri, memperbaiki kelemahan, mengembangkan kelebihan, serta memiliki tujuan hidup yang jelas. Selain itu, kesiapan mental, kemampuan mengendalikan emosi, budaya literasi, dan pengembangan keterampilan menjadi bekal penting untuk memenangkan persaingan di dunia kerja.
Sesi keempat diisi oleh Dr. Triono Ali Mustofa, M.Pd.I. dengan materi Aqidah dan Akhlak. Ia menekankan bahwa perkembangan teknologi pada era Society 5.0 harus diimbangi dengan kekuatan iman dan akhlak.
“Era 5.0 menuntut insan yang beriman, berilmu, dan berakhlak. Jadilah mujahid ilmu dan agen tanwir masyarakat,” pesannya kepada peserta.
Sebagai penutup, Suwinarno, M.P.I. menyampaikan materi Thaharah dan Shalat. Ia mengingatkan bahwa ibadah merupakan fondasi utama kehidupan seorang muslim.

“Shalat adalah tiang agama. Siapa yang mendirikannya, sungguh ia telah menegakkan agamanya, dan siapa yang meninggalkannya berarti telah merobohkannya,” tegas Suwinarno.
Melalui BAPS periode ke-56, UMS kembali menegaskan komitmennya dalam mencetak lulusan yang tidak hanya kompeten di bidang keilmuan, tetapi juga memiliki integritas moral, karakter profetik, serta semangat pengabdian sebagai sarjana Muhammadiyah. Pembinaan ini diharapkan menjadi bekal bagi mahasiswa untuk memasuki dunia kerja sekaligus berkontribusi sebagai agen perubahan yang membawa nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan di tengah masyarakat.



