SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) terus memperkuat komitmennya dalam menciptakan lingkungan kampus yang sehat melalui peluncuran Klinik Upaya Berhenti Merokok (UBM). Klinik yang diinisiasi oleh Lembaga Pengembangan Pondok, Al-Islam, dan Kemuhammadiyahan (LPPIK) bekerja sama dengan Muhammadiyah Medical Center (MMC) UMS tersebut diresmikan pada Jumat (24/4) di halaman depan MMC UMS sebagai tindak lanjut implementasi program Kampus Bebas Asap Rokok yang telah dicanangkan pada Desember 2025.
Dalam sambutannya, Ketua LPPIK UMS, Dr. Mahasri Shobahiya, M.Ag., menyampaikan bahwa kehadiran Klinik Upaya Berhenti Merokok merupakan langkah nyata untuk mendukung sivitas akademika yang memiliki keinginan menghentikan kebiasaan merokok.

“Alhamdulillah di pagi hari ini kita dapat hadir dalam launching Klinik Upaya Berhenti Merokok atau UBM. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari deklarasi Kampus Bebas Asap Rokok yang telah kita laksanakan sebelumnya. Melalui klinik ini, mahasiswa maupun tenaga kependidikan yang ingin berhenti merokok dapat memperoleh pendampingan secara langsung,” ujarnya.
Mahasri mengakui bahwa membangun budaya kampus bebas rokok bukan perkara mudah. Meski berbagai upaya sosialisasi telah dilakukan, masih ditemukan sejumlah sivitas akademika yang merokok di beberapa titik lingkungan kampus, terutama di area parkir.
“Mengajak seseorang berhenti merokok bukan sesuatu yang mudah. Meskipun sudah sering diingatkan, masih ada yang tetap merokok di beberapa lokasi strategis. Karena itu kami berpikir, jangan-jangan mereka sebenarnya ingin berhenti, tetapi belum mengetahui caranya. Klinik ini hadir untuk memfasilitasi kebutuhan tersebut,” katanya.
Menurutnya, layanan yang diberikan akan disesuaikan dengan kondisi setiap individu. Bagi mereka yang belum mengalami ketergantungan berat, pendampingan akan difokuskan pada edukasi dan perubahan perilaku. Sementara itu, peserta yang telah menunjukkan gangguan kesehatan akibat merokok akan mendapatkan pemeriksaan lanjutan oleh dokter.
“Jika belum menjadi pecandu, tentu akan diarahkan bagaimana belajar berhenti merokok. Namun apabila sudah muncul tanda-tanda gangguan kesehatan, maka akan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut oleh dokter,” jelasnya.

Selain pelayanan kesehatan fisik, UMS juga menyediakan layanan pendampingan psikologis melalui Student Mental Health and Wellbeing Support (SMHWS) bagi sivitas akademika yang membutuhkan dukungan selama proses berhenti merokok.
Direktur MMC UMS, Prof. dr. Dr. Em Sutrisna, M.Kes., mengatakan bahwa gerakan menuju kampus tanpa rokok telah dirintis sejak 2021. Menurutnya, meskipun telah menunjukkan perkembangan, implementasinya masih memerlukan penguatan melalui layanan yang lebih komprehensif.
“Gerakan UMS tanpa rokok telah kita upayakan sejak 2021. Sudah ada hasilnya, tetapi memang belum sempurna,” ungkapnya.
Sebagai bentuk dukungan terhadap program tersebut, MMC membuka layanan konsultasi berhenti merokok setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 20.00 WIB.
“Insyaallah MMC siap melayani mahasiswa maupun tenaga kependidikan yang memiliki keinginan untuk berhenti merokok,” tambahnya.
Sementara itu, Rektor UMS, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., menegaskan bahwa keberhasilan program Kampus Bebas Asap Rokok membutuhkan komitmen seluruh elemen universitas.

“Program ini harus dilaksanakan secara menyeluruh, mulai dari rektorat hingga seluruh unit yang ada di lingkungan kampus,” tegasnya.
Ia juga mendorong pengembangan layanan konsultasi yang dapat diakses secara lebih fleksibel melalui sistem daring maupun luring agar semakin memudahkan sivitas akademika memperoleh pendampingan.
Selain itu, Harun mengingatkan bahwa merokok bukan hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga bertentangan dengan nilai-nilai Islam karena termasuk perilaku yang mubazir.
“Merokok itu mubazir. Mubazir adalah sifat setan, dan setan adalah musuh kita bersama,” ujarnya.
Peluncuran Klinik Upaya Berhenti Merokok ditandai dengan penyerahan plakat secara simbolis oleh Rektor UMS kepada Direktur MMC sebagai tanda resmi beroperasinya layanan tersebut.
Melalui kolaborasi antara LPPIK dan MMC, UMS berharap Klinik Upaya Berhenti Merokok menjadi pusat layanan yang mampu membantu sivitas akademika melepaskan kebiasaan merokok sekaligus memperkuat implementasi Kampus Bebas Asap Rokok.
“Kami sangat berharap kampus ini benar-benar menjadi kampus yang sehat dan menyehatkan. Ketika kesehatan fisik terjaga, insyaallah aspek kehidupan yang lain juga akan mengikuti,” pungkas Mahasri.



