Kajian Tafsir UMS Tekankan Birrul Walidain sebagai Teladan Pendidikan Anak

SURAKARTA – Berbakti kepada kedua orang tua atau birrul walidain menjadi kewajiban utama seorang anak setelah mentauhidkan Allah SWT. Nilai tersebut perlu diwujudkan dalam sikap hormat, kasih sayang, kesabaran, serta keteladanan kepada generasi berikutnya.

Pesan itu disampaikan Ust. Dr. Hakimuddin Salim, Lc., M.A. dalam Kajian Tafsir ke-90 bertajuk “Sayangilah Orang Tuamu, Anakmu akan Menyayangimu” yang mengkaji Tafsir Tarbawi QS. Al-Isra’ ayat 23–24, Sabtu (25/4/2026).

Kajian Tafsir merupakan agenda rutin yang diselenggarakan setiap Sabtu oleh Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melalui Zoom Meeting. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari penguatan nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) bagi dosen dan tenaga kependidikan UMS.

Dalam pemaparannya, Hakimuddin menjelaskan bahwa QS. Al-Isra’ ayat 23–24 menempatkan perintah berbuat baik kepada kedua orang tua setelah perintah untuk tidak menyekutukan Allah SWT. Hal tersebut menunjukkan tingginya kedudukan birrul walidain dalam ajaran Islam.

“Hal yang paling penting kedua setelah tauhid adalah birrul walidain,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa durhaka kepada orang tua atau uququl walidain termasuk dosa besar setelah syirik. Karena itu, seorang anak tidak hanya dituntut memenuhi kebutuhan orang tua, tetapi juga menjaga sikap, tutur kata, dan perasaannya.

Menurutnya, ujian berbakti kepada orang tua menjadi semakin besar ketika mereka memasuki usia lanjut. Pada fase tersebut, orang tua membutuhkan perhatian, pendampingan, dan kesabaran lebih dari anak-anaknya.

“Berbakti kepada orang tua saat mereka masih muda adalah wajib, ketika usia produktif juga wajib, tetapi lebih wajib lagi ketika mereka lanjut usia. Itu merupakan fase usia paling lemah, seperti fase anak kecil,” jelasnya.

Dalam QS. Al-Isra’ ayat 23, Allah SWT melarang anak mengucapkan kata “ah” kepada orang tua, membentak, maupun menyampaikan perkataan yang menyakiti hati. Sebaliknya, anak diperintahkan untuk berkata dengan perkataan yang mulia, merendahkan diri, dan mendoakan keduanya.

Hakimuddin menambahkan, setinggi apa pun pendidikan, jabatan, maupun kedudukan seseorang, ia tetap harus bersikap tawadhu di hadapan orang tua, kecuali dalam persoalan prinsip dan syariat.

“Sehebat apa pun kita, setinggi apa pun kita, tetap merendah di hadapan orang tua. Sepintar apa pun kita, tetap menjadi orang yang tawadhu ketika berhadapan dengan orang tua,” tuturnya.

Ia juga menekankan bahwa saat orang tua telah lanjut usia, seorang anak umumnya telah menjadi orang tua pula. Kondisi tersebut menjadikan bakti kepada orang tua bukan hanya sebagai kewajiban pribadi, tetapi juga sarana memberikan qudwah atau keteladanan bagi anak-anak.

Cara seseorang memperlakukan orang tuanya, lanjutnya, akan direkam oleh anak-anak dan berpotensi menjadi pola yang mereka lakukan ketika kelak merawat orang tuanya. Karena itu, kasih sayang, perhatian, dan kesabaran kepada orang tua perlu diwujudkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.

“Seperti apa kita berbuat ihsan kepada orang tua, menjadikan mereka prioritas kehidupan, mencurahkan perhatian, melimpahkan kasih sayang, dan bersabar atas perubahan perilaku mereka; seperti itulah yang akan terekam di benak anak-anak kita,” katanya.

Selain menjadi keteladanan, sikap berbakti kepada orang tua juga merupakan bagian dari sunatullah tentang balasan amal. Hakimuddin mengutip penjelasan ulama bahwa balasan atas suatu perbuatan akan sesuai dengan jenis amal yang dilakukan.

Ia mengingatkan bahwa durhaka kepada orang tua memiliki konsekuensi serius karena sebagian balasannya dapat disegerakan Allah SWT di dunia. Sebaliknya, kebajikan kepada orang tua akan menjadi jalan datangnya kebaikan dan keberkahan dalam kehidupan.

Pada akhir kajian, Hakimuddin mengajak peserta untuk memaksimalkan bakti kepada orang tua selama kesempatan masih ada. Ia juga menekankan pentingnya pendidikan anak yang dilandasi kasih sayang agar kelak anak-anak mampu mendoakan dan berbuat baik kepada orang tuanya.

“Semoga kita semua dapat maksimal dalam birrul walidain, memprioritaskan orang tua, dan tidak menunda berbuat baik kepada mereka. Waktu serta kesempatan sangat terbatas, dan kita tidak mengetahui sampai kapan Allah memberi kesempatan bersama orang tua,” pungkasnya.

Scroll to Top