LPPIK UMS Cetak Mubalighah Kampus, Tendik Perempuan Diasah Keterampilan Kultum

SURAKARTA – Lembaga Pengembangan Pondok, Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (LPPIK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menyelenggarakan Pelatihan Kultum bagi Tenaga Kependidikan (Tendik) Perempuan pada Senin–Selasa (27–28/4/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya UMS memperkuat budaya Islami di lingkungan kampus sekaligus meningkatkan kapasitas tenaga kependidikan sebagai penyampai pesan-pesan keislaman melalui kultum di berbagai forum.

Pelatihan diawali dengan pembukaan, menyanyikan lagu Sang Surya, serta sambutan Kepala LPPIK UMS, Dr. Mahasri Shobahiya, M.Ag. Dalam sambutannya, Mahasri menegaskan bahwa kultum tidak hanya menjadi media penyampaian ajaran Islam, tetapi juga sarana muhasabah bagi sivitas akademika, baik setelah salat berjamaah maupun pada berbagai kegiatan di lingkungan kampus.

Menurutnya, pelatihan ini mendukung implementasi Pedoman Kehidupan Islami Kampus UMS yang mendorong seluruh sivitas akademika untuk saling menasihati dalam kebaikan serta mengamalkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

“Kami berharap peserta mampu meningkatkan kemampuan berdakwah, menyampaikan pesan-pesan kebaikan, serta menjadi agen perubahan yang memberikan manfaat bagi keluarga, lingkungan kerja, maupun masyarakat,” ujarnya.

Pada sesi pertama, Mahasri menyampaikan materi “Urgensi Dakwah melalui Kultum”. Ia menjelaskan bahwa kultum merupakan media dakwah yang singkat, padat, menyentuh, dan relevan dengan kehidupan masyarakat di era yang serba cepat. Menurutnya, dakwah merupakan tanggung jawab bersama sehingga setiap muslim, termasuk perempuan, memiliki kesempatan untuk menyampaikan kebaikan.

Mengutip hadis Rasulullah ﷺ, “Sampaikanlah dariku walau satu ayat” (HR. Bukhari), Mahasri mengajak peserta untuk tidak ragu menjadi penyampai pesan-pesan Islam sesuai bidang keahlian masing-masing.

“Untuk menjadi mubalighah tidak harus selalu berada di atas podium. Mengingatkan orang lain kepada kebaikan juga merupakan bagian dari dakwah yang bernilai amal jariyah,” jelasnya.

Ia menjelaskan bahwa kultum idealnya berdurasi lima hingga sepuluh menit dengan fokus pada satu pesan utama. Materi tidak terbatas pada persoalan akidah atau ibadah, tetapi dapat mengangkat tema sesuai bidang yang ditekuni selama didukung oleh ayat Al-Qur’an, hadis, maupun hikmah keislaman yang relevan. Penyampaian pun harus menggunakan bahasa yang sederhana agar mudah dipahami oleh jamaah.

Materi kedua bertajuk “Teknik Public Speaking dalam Kultum” disampaikan oleh Dr. Hakimuddin Salim, Lc., M.A. Ia menjelaskan bahwa kultum merupakan salah satu media dakwah yang efektif karena mampu menjangkau banyak orang dalam waktu singkat, mudah diterapkan di berbagai forum, serta dapat membentuk kebiasaan baik, terutama bagi diri sendiri sebagai penyampai materi.

Menurutnya, kemampuan berbicara di depan umum menjadi bekal penting agar pesan dakwah dapat diterima dengan baik oleh audiens.

Pada sesi berikutnya, Dr. Isman, S.H.I., S.H., M.H. menyampaikan materi “Dakwah Digital dan Konten Kultum”. Ia menyoroti tantangan dakwah di era digital yang diwarnai berbagai distraksi informasi sehingga kultum perlu dikemas secara ringkas, relevan, dan menarik agar mampu menjangkau masyarakat yang lebih luas melalui media sosial seperti Instagram maupun YouTube.

Isman menegaskan bahwa perempuan memiliki posisi yang semakin strategis dalam dakwah. Selain sebagai pendidik pertama dalam keluarga, perempuan juga berperan sebagai agen perubahan sosial yang dapat berdakwah melalui lisan maupun keteladanan perilaku di lingkungan kerja dan masyarakat.

Dalam sesi diskusi, salah seorang peserta, Hartini dari Fakultas Teknik, mengajukan pertanyaan mengenai cara menyampaikan nasihat kepada mahasiswa maupun atasan dengan bahasa yang santun tanpa menimbulkan rasa tersinggung.

Menanggapi hal tersebut, pemateri menjelaskan bahwa nasihat sebaiknya diawali dengan permohonan maaf dan disampaikan dengan niat memperbaiki, bukan mempermalukan. Selama memahami mana yang benar dan salah, setiap muslim memiliki kewajiban untuk saling mengingatkan tanpa memandang jabatan.

“Mulailah dengan cara yang baik, berikan contoh yang benar, dan sampaikan dengan niat untuk saling memperbaiki,” jelasnya.

Sebagai penutup, peserta mengikuti sesi praktik kultum untuk mengasah kemampuan menyusun dan menyampaikan materi secara komunikatif. Melalui praktik tersebut, peserta memperoleh pengalaman langsung dalam menyampaikan pesan-pesan keislaman secara sistematis, singkat, dan mudah dipahami.

Pelatihan ini diharapkan mampu melahirkan lebih banyak mubalighah di lingkungan UMS yang tidak hanya terampil menyampaikan kultum, tetapi juga menjadi teladan dalam membangun budaya Islami di kampus. Lebih dari itu, kultum diharapkan menjadi media pembinaan yang membiasakan sivitas akademika untuk terus berproses menjadi pribadi yang lebih baik serta menghadirkan manfaat bagi masyarakat luas.

Scroll to Top