SURAKARTA – Orang tua kerap bekerja keras untuk memastikan anak-anaknya memperoleh kehidupan yang layak. Tidak sedikit yang rela bekerja dari pagi hingga malam, bahkan mengambil pekerjaan tambahan demi memenuhi kebutuhan keluarga dan menyiapkan masa depan anak.
Namun, upaya menyiapkan kehidupan anak tidak cukup hanya melalui pemenuhan kebutuhan material. Orang tua Muslim juga perlu memperkuat fondasi spiritual melalui kesalehan dan amal-amal kebaikan yang dapat menjadi bekal bagi keluarga serta generasi penerus.
Hal tersebut disampaikan Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dr. Hakimuddin Salim, Lc., M.A., saat mengulas kandungan QS. Al-Kahfi ayat 82. Ayat tersebut mengisahkan dua anak yatim yang hartanya dijaga oleh Allah SWT karena ayah mereka merupakan seorang yang saleh.
Dalam ayat tersebut, Allah SWT menjelaskan bahwa dinding rumah milik dua anak yatim diperbaiki agar harta yang tersimpan di bawahnya tetap terjaga hingga keduanya dewasa. Peristiwa itu menjadi bentuk rahmat Allah SWT atas kesalehan ayah kedua anak tersebut.
Hakimuddin menyampaikan, terdapat sejumlah pelajaran penting yang dapat direfleksikan dari ayat tersebut. Pertama, kesalehan orang tua akan memberikan pengaruh positif kepada anak-anaknya, terutama melalui keteladanan dan pendidikan.
“Jika orang tua membiasakan hal-hal baik di hadapan anak, seperti membaca buku, beribadah, dan menjaga perilaku, anak akan lebih mudah meniru kebiasaan tersebut. Sebaliknya, anak juga dapat meniru kebiasaan yang kurang baik dari orang tuanya,” jelas Hakimuddin, Selasa (11/4).
Menurutnya, keteladanan dan pendidikan merupakan warisan penting yang dapat membentuk masa depan anak. Namun, QS. Al-Kahfi ayat 82 juga menunjukkan adanya warisan yang lebih besar, yakni penjagaan Allah SWT kepada anak-anak dari orang tua yang saleh.
Mengutip penafsiran Abdurrahman As-Sa’di, Hakimuddin menjelaskan bahwa dua anak yatim dalam ayat tersebut mendapatkan perlindungan karena kesalehan orang tuanya.
“Kedua anak tersebut dijaga karena kesalehan orang tuanya,” terangnya.
Poin kedua, kesalehan orang tua tidak hanya berdampak kepada anak secara langsung, tetapi juga dapat memberikan kebaikan bagi generasi setelahnya. Ia mengutip penafsiran Imam Al-Qurthubi yang menjelaskan bahwa Allah SWT menjaga orang saleh beserta keturunannya, termasuk keturunan yang jauh.
“Bahkan Allah akan menjaga kesalehan hingga generasi ketujuh,” ujar Hakimuddin mengutip tafsir Al-Qurthubi.
Selanjutnya, ia menjelaskan bahwa penjagaan Allah kepada keturunan orang saleh dapat terjadi karena dua hal, yakni keberkahan amal orang tua dan doa perbaikan keturunan atau ishlah dzuriyah yang senantiasa dipanjatkan.
Hakimuddin menegaskan bahwa balasan Allah SWT tidak hanya berbentuk surga atau rezeki finansial. Menurutnya, Allah juga memberikan berbagai bentuk balasan dalam kehidupan, seperti rasa aman, perlindungan, ketenteraman, serta kebahagiaan.

“Balasan Allah itu bukan sekadar surga atau rezeki finansial, tetapi juga dapat berupa penjagaan, keamanan, dan kebahagiaan hidup,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menyebut QS. Al-Kahfi ayat 82 sebagai motivasi bagi orang tua untuk meningkatkan amal saleh. Amal yang dilakukan orang tua, menurutnya, tidak hanya membawa keberkahan bagi diri sendiri, tetapi juga dapat memberikan dampak positif bagi keluarga dan anak keturunan.
Pada poin berikutnya, Hakimuddin menerangkan bahwa amal saleh dapat menjadi tawasul atau sebab syar’i agar Allah SWT berkenan menjaga anak keturunan. Ia mencontohkan kisah Said bin Al-Musayyib, seorang tabi’in yang pernah menambah rakaat salat malamnya dengan harapan Allah SWT menjaga anaknya.
“Sesungguhnya tadi aku telah menambah salatku, berharap agar Allah senantiasa menjagamu,” tutur Hakimuddin mengisahkan perkataan Said bin Al-Musayyib kepada anaknya.
Ia juga menjelaskan bahwa tawasul tidak selalu bermakna amalan yang tidak dibenarkan. Dalam ajaran Islam, terdapat tawasul yang sesuai syariat, seperti berdoa dengan menyebut Asmaul Husna dan meminta doa kepada orang alim yang masih hidup.
Menutup pemaparannya, Hakimuddin mengajak para orang tua untuk tidak hanya berjuang memenuhi kebutuhan duniawi anak, tetapi juga menyiapkan investasi akhirat melalui peningkatan kesalehan dan amal-amal kebaikan.
“Orang tua sering tidak pernah lelah banting tulang demi menghidupi anak-anaknya. Namun, yang lebih penting, mari kita siapkan investasi akhirat untuk kehidupan anak-anak dengan memperbanyak amal saleh, yang semoga menjadi keberkahan bagi anak-anak kita kelak,” pungkasnya.



