SURAKARTA – Orang yang sengaja melawan hukum Allah akan menerima kehinaan dan ketidakberdayaan sebagai konsekuensi nyata dari perbuatan mereka. Hal tersebut disampaikan oleh Dr. Ainur Rha’in dalam Kajian Tafsir UMS seri ke-87 yang berlangsung secara daring pada Sabtu (4/4) pagi.
Dosen Fakultas Agama Islam UMS, Dr. Ainur Rha’in, menjelaskan bahwa kata yuhaadduna memiliki akar kata hadd yang berarti batas. Penggunaan kata ini menghadirkan sebuah majas metafora yang sangat kuat dalam Al-Quran. Seolah-olah terdapat garis batas ilahi yang sangat jelas, namun kelompok tertentu justru memilih berdiri di seberangnya.
“Secara bahasa maknanya adalah menempatkan diri di sisi lain yang berseberangan,” ujar Dr. Ainur Rha’in. Beliau menegaskan bahwa memosisikan diri secara oposisi terhadap hukum Allah merupakan tindakan yang berbahaya. Oleh karena itu, siapa pun yang melawan ketetapan-Nya pasti akan menerima konsekuensi yang berat.

Konsekuensi Nyata Melawan Hukum Allah
Al-Quran menggunakan istilah kabitu untuk menggambarkan nasib para penentang tersebut. Kata ini secara harfiah berarti ditundukkan, dihinakan, atau ditekan hingga tidak berdaya sama sekali. Karena menggunakan bentuk kata kerja masa lampau pasif (fi’il madhi pasif), hal ini menunjukkan sebuah kepastian.
“Orang yang melawan hukum Allah akan menerima akibatnya, yaitu ditundukkan, dihinakan dan tidak akan berdaya,” tegas Dr. Ainur. Kepastian ini sudah menjadi sunnatullah atau ketetapan hukum alam yang tidak mungkin berubah. Namun, di sisi lain, Allah tetap mencintai hamba-Nya yang mengedepankan kelembutan dalam bertindak.
Laporan Malaikat dan Pentingnya Menjaga Aib
Selain membahas hukuman bagi pembangkang, kajian ini juga mengungkap fenomena penjagaan malaikat. Malaikat siang dan malam senantiasa bergantian menjaga manusia dan berkumpul pada waktu shalat Ashar serta Subuh. Allah menanyakan keadaan hambanya kepada malaikat meskipun Dia sudah Maha Mengetahui segala hal.
Para malaikat kemudian memberikan kesaksian bahwa mereka meninggalkan hamba-hamba-Nya dalam keadaan sedang melaksanakan ibadah. Selain rajin beribadah, seorang mukmin juga wajib menjaga kehormatan diri dengan tidak mengumbar kesalahan masa lalu. “Allah telah menutup aib kita rapat-rapat, maka janganlah kita yang membuka aib kita sendiri,” pungkasnya.



