Iman, Amal Saleh, dan Konsistensi Beragama Dibahas dalam Kajian Tafsir ke-76 UMS

SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menyelenggarakan Kajian Tafsir Online ke-76 pada Sabtu, 27 Desember 2025. Kajian ini menghadirkan Dr. Ainur Rha’in, S.Th.I., M.Th.I., sebagai pemateri dengan pembahasan tafsir Surat Al-Baqarah ayat 82–86, yang merefleksikan perjalanan sejarah Bani Israil sebagai cermin bagi umat Islam dalam menjaga iman dan konsistensi beragama.

Mengawali pemaparannya, ustadz Rha’in menjelaskan makna iman dan amal saleh sebagaimana terkandung dalam QS. Al-Baqarah ayat 82. Ia menerangkan bahwa iman mencakup keyakinan kepada Allah, malaikat, kitab-kitab-Nya, para rasul, hari kiamat, serta qadha dan qadar. Mengutip At-Tirmidzi, Rha’in menyebutkan bahwa iman memiliki 77 cabang, yang terdiri atas enam rukun iman dan 71 cabang lainnya sebagai perwujudan iman dalam kehidupan.

Sementara itu, amal saleh menurut ayat tersebut tidak terbatas pada ibadah ritual semata. “Segala perbuatan yang dilakukan atas dasar keikhlasan dan mengharap rida Allah SWT dapat disebut sebagai amal saleh,” jelasnya. Rha’in menegaskan bahwa iman dan amal saleh merupakan dua kunci utama bagi seorang hamba untuk meraih surga Allah SWT.

Pada ayat 83, Allah SWT kembali mengingatkan Bani Israil akan janji yang pernah mereka ikrarkan. Dalam perjanjian tersebut, terdapat sejumlah kewajiban yang harus dijaga, di antaranya tidak menyekutukan Allah, berbakti kepada kedua orang tua, berbuat baik kepada kerabat, membantu anak yatim dan fakir miskin, berkata baik kepada sesama manusia, serta mendirikan salat. Namun, Bani Israil justru lalai dan mengingkari perjanjian tersebut.

Selanjutnya, pada ayat 84, Allah SWT menegur kebiasaan buruk Bani Israil yang gemar saling membunuh dan mengusir sesama saudara demi kepentingan ego dan kelompok. Rha’in menegaskan bahwa pembunuhan merupakan salah satu bentuk kekufuran seorang hamba. Ia juga menyinggung fenomena Palestina yang terjadi saat ini sebagai refleksi dari pola lama Bani Israil. “Fenomena di Palestina sekarang merupakan fenomena lama yang muncul kembali. Mereka datang ke suatu tempat, menguasainya, dan mengusir penduduk aslinya,” tuturnya.

Ayat 85, lanjut ustadz Rha’in, memuat kecaman keras Allah SWT terhadap sikap selektif Bani Israil dalam menjalankan syariat. Mereka hanya mengambil hukum-hukum yang menguntungkan diri mereka dan mengabaikan yang lain. Ia mengibaratkan kondisi tersebut dengan realitas sebagian masyarakat Muslim masa kini yang berani menegakkan hukum kepada kelompok kecil, namun ragu ketika berhadapan dengan kalangan berkuasa atau berpengaruh. “Ketika berhadapan dengan pejabat atau orang kaya, hukum sering kali tidak ditegakkan,” ungkapnya.

Adapun ayat 86 menjelaskan bahwa Bani Israil telah mengorbankan kehidupan akhirat demi kesenangan dunia. Melalui kekufuran, pelanggaran perjanjian dengan Allah, dan penolakan terhadap kebenaran, mereka digambarkan akan menerima azab tanpa keringanan sedikit pun.

Sebagai penutup kajian, Rha’in berpesan agar umat Islam senantiasa menundukkan logika dan ego, serta mengedepankan keimanan dalam menjalani kehidupan. Menurutnya, ajaran Allah SWT jauh lebih sempurna dibandingkan angan-angan manusia. “Jangan pernah meletakkan logika untuk mengalahkan ajaran Islam karena hasrat dan ego,” pungkasnya.

Scroll to Top