SURAKARTA – Menjelang akhir masa studi, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) tidak hanya disiapkan untuk menyandang gelar akademik, tetapi juga untuk memikul tanggung jawab sosial dan keislaman. Komitmen tersebut tercermin dalam pelaksanaan Baitul Arqam Purna Studi (BAPS) ke-51 yang digelar oleh Lembaga Pengembangan Pondok, Al-Islam, dan Kemuhammadiyahan (LPPIK) pada hari Sabtu (15/11).
Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa lintas fakultas sebagai ruang refleksi sekaligus penguatan nilai sebelum mereka memasuki fase baru kehidupan pascakampus. BAPS ke-51 dirancang sebagai proses pematangan diri, menyatukan aspek spiritual, ideologis, moral, dan kesiapan praktis dalam satu rangkaian pembinaan terpadu.
Pembekalan dimulai dengan penguatan dimensi kepemimpinan spiritual melalui materi Spiritual Leadership yang disampaikan Prof. Ihwan Susila, S.E., M.Si., Ph.D. Peserta diajak memahami bahwa kepemimpinan sejati tidak hanya bertumpu pada kemampuan manajerial, tetapi juga pada kejernihan nurani dan nilai-nilai ketuhanan.

Kesadaran identitas sebagai lulusan Muhammadiyah diperkuat pada sesi berikutnya bersama Dr. Mutohharun Jinan, M.Ag. Ia menegaskan bahwa sarjana Muhammadiyah memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi insan berilmu yang berakhlak, mandiri, serta peka terhadap persoalan sosial dan kemanusiaan.
Aspek kesiapan menghadapi realitas dunia kerja menjadi fokus dalam sesi Persiapan Karir yang dibawakan Moh. Indra Bangsawan, S.H., M.H. Dalam paparannya, ia mengajak mahasiswa membaca perubahan zaman secara kritis, termasuk tantangan disrupsi teknologi dan kecerdasan buatan, sekaligus mendorong mereka untuk terus belajar, membangun jejaring, dan menciptakan peluang secara mandiri.

Dimensi ibadah praktis mendapat perhatian khusus melalui materi Taharoh dan Shalat yang disampaikan Dr. Azhar Alam, Lc., S.E., M.SEI. Ia menekankan bahwa kekuatan spiritual seorang muslim bermula dari kesadaran menjaga kesucian dan konsistensi shalat sebagai sumber ketenangan hidup.
Sebagai penutup, Dr. Mahasri Shobahiya, M.Ag. mengajak peserta merefleksikan kembali fondasi Akhlak dan Aqidah. Ia mengingatkan bahwa kesuksesan sejati bukan semata capaian duniawi, melainkan kehidupan yang senantiasa diarahkan pada ridha Allah melalui iman yang kokoh dan amal saleh yang berkelanjutan.
Melalui BAPS ke-51, UMS menegaskan bahwa kelulusan bukanlah garis akhir, melainkan gerbang awal pengabdian. Mahasiswa diharapkan mampu melangkah ke tengah masyarakat sebagai pribadi yang utuh—cerdas, berakhlak, dan berkomitmen menebarkan nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan dalam setiap peran yang dijalani.



