Saat Ujian Datang, Al-Qur’an Mengajarkan Jalan Menuju Ketenangan

SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menggelar Kajian Tafsir Al-Qur’an sebagai agenda rutin setiap Sabtu dalam rangka memperkuat nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) bagi dosen dan tenaga kependidikan. Kajian yang diselenggarakan secara daring melalui Zoom Meeting pada Sabtu (30/5/2026) menghadirkan Ust. Dr. Ainur Rha’in yang mengupas kandungan QS. Al-Baqarah ayat 153–157 tentang fondasi spiritual seorang mukmin dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Dalam kajian tersebut, Ust. Ainur Rha’in menjelaskan bahwa rangkaian ayat ini memberikan panduan bagaimana seorang muslim membangun ketangguhan mental dan spiritual ketika menghadapi persoalan hidup. Al-Qur’an mengajarkan agar setiap mukmin menjadikan kesabaran dan salat sebagai jalan utama untuk memperoleh pertolongan Allah SWT.

Beliau menerangkan bahwa kesabaran bukan berarti menyerah atau pasrah tanpa ikhtiar. Sebaliknya, sabar merupakan kemampuan menjaga ketaatan kepada Allah, mengendalikan diri dari kemaksiatan, serta tetap teguh ketika menghadapi berbagai kesulitan. Sementara itu, salat menjadi sarana komunikasi spiritual yang menghadirkan ketenangan hati sekaligus menguatkan keyakinan bahwa pertolongan Allah senantiasa menyertai hamba-Nya yang bersabar.

Kajian juga mengulas makna QS. Al-Baqarah ayat 154 yang menegaskan bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah tidak dapat dipandang sebagai orang yang benar-benar mati. Mereka memperoleh kehidupan mulia di sisi Allah, meskipun hakikat kehidupan tersebut tidak mampu dijangkau oleh kemampuan manusia. Pesan ini menjadi pengingat bahwa kehidupan seorang mukmin tidak berhenti pada batas dunia, tetapi berlanjut dalam kemuliaan yang dijanjikan Allah bagi hamba-hamba-Nya yang beriman.

Lebih lanjut, pembahasan berfokus pada QS. Al-Baqarah ayat 155 yang menjelaskan bahwa ujian merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Rasa takut, kesulitan ekonomi, kehilangan harta, wafatnya orang-orang tercinta, hingga berkurangnya hasil usaha merupakan bentuk-bentuk ujian yang telah menjadi sunnatullah. Namun, ujian tersebut bukanlah tanda kebencian Allah, melainkan sarana untuk meningkatkan kualitas keimanan dan kedekatan seorang hamba kepada-Nya.

Menurut Ust. Ainur Rha’in, respons seorang mukmin terhadap musibah menjadi pembeda antara keimanan yang kokoh dan keimanan yang rapuh. Hal itu tercermin dalam QS. Al-Baqarah ayat 156 melalui kalimat istirja’, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”. Kalimat tersebut bukan sekadar diucapkan ketika ada kematian, tetapi merupakan pengakuan bahwa seluruh kehidupan, keluarga, harta, dan segala nikmat sejatinya adalah milik Allah yang sewaktu-waktu dapat diambil kembali oleh Sang Pemilik.

Kesadaran tersebut membentuk pribadi yang lebih lapang dalam menerima takdir dan tidak mudah larut dalam keputusasaan. Dengan memahami bahwa segala sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya, seorang mukmin diajak menghadapi musibah dengan hati yang tetap tenang dan penuh keyakinan.

Pada bagian akhir kajian, Ust. Ainur Rha’in menjelaskan kandungan QS. Al-Baqarah ayat 157 yang memuat kabar gembira bagi orang-orang yang mampu bersabar. Allah menjanjikan tiga anugerah sekaligus, yakni ampunan, rahmat, dan petunjuk. Ketiga nikmat tersebut menjadi bukti bahwa setiap kesabaran yang dijalani dengan penuh keikhlasan tidak akan pernah sia-sia di sisi Allah SWT.

Melalui kajian ini, peserta diajak memahami bahwa Al-Qur’an tidak hanya menjelaskan hakikat ujian, tetapi juga menawarkan solusi spiritual dalam menghadapinya. Kesabaran, salat, tawakal, dan kesadaran bahwa seluruh kehidupan berada dalam genggaman Allah menjadi bekal utama bagi seorang mukmin untuk tetap tegar menghadapi berbagai tantangan. Nilai-nilai tersebut diharapkan mampu memperkuat karakter spiritual dosen dan tenaga kependidikan UMS sehingga senantiasa menghadirkan optimisme, keteguhan iman, dan kedekatan kepada Allah dalam menjalankan tugas maupun kehidupan sehari-hari.

Scroll to Top