Surakarta – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menyelenggarakan Qiyamul Lail sebagai agenda rutin pembinaan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) bagi dosen dan tenaga kependidikan setiap Jumat. Pada pelaksanaan yang berlangsung pada Jumat, 29 Mei 2026, tausiyah disampaikan oleh Ustadz Mohammad Zakii Azani, S.Th.I., M.Ed., Ph.D., dosen Fakultas Agama Islam UMS, yang mengajak peserta memperkuat kesadaran akan pentingnya muhasabah atau evaluasi diri sebagai bekal menghadapi kehidupan akhirat.
Dalam kajiannya, Ustadz Zakii mengingatkan bahwa setiap manusia kelak akan dimintai pertanggungjawaban atas seluruh amanah yang diberikan Allah SWT. Tidak hanya amal ibadah, tetapi juga aktivitas sehari-hari, pekerjaan, pergaulan, hingga penggunaan seluruh anggota badan akan menjadi bagian dari hisab di hadapan Allah.
Ia mengutip sabda Rasulullah SAW yang menyebutkan bahwa setiap hamba tidak akan bergeser dari tempat hisab sebelum dimintai pertanggungjawaban atas empat perkara, yakni umur, jasad, ilmu, dan harta. Keempat aspek tersebut menjadi tolok ukur bagaimana seseorang menjalani kehidupannya selama di dunia.
Pembahasan pertama menyoroti umur sebagai nikmat yang paling berharga. Sejak seseorang mencapai usia baligh, seluruh keyakinan, ucapan, dan perbuatannya tercatat sebagai amal yang akan dipertanggungjawabkan. Kehidupan yang diisi dengan ketaatan kepada Allah dan menjauhi larangan-Nya akan menjadi jalan menuju keselamatan, sedangkan kelalaian terhadap kewajiban akan membawa kerugian di akhirat.
Selain umur, manusia juga akan ditanya mengenai jasad yang telah dianugerahkan Allah. Seluruh anggota tubuh merupakan amanah yang harus digunakan untuk melakukan kebaikan dan mendekatkan diri kepada-Nya. Sebaliknya, apabila digunakan untuk bermaksiat, maka anggota tubuh tersebut akan menjadi saksi atas perbuatan yang dilakukan selama hidup di dunia.
Aspek berikutnya adalah ilmu. Dalam tausiyah tersebut dijelaskan bahwa ilmu tidak berhenti pada proses belajar, melainkan harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Ilmu agama yang bersifat fardu ain, seperti pemahaman akidah, tata cara bersuci, shalat, puasa, zakat, hingga menjaga diri dari berbagai bentuk kemaksiatan, merupakan bekal yang wajib dipelajari dan diamalkan oleh setiap muslim. Ilmu yang tidak diwujudkan dalam amal justru akan menjadi pertanggungjawaban tersendiri di hadapan Allah SWT.
Perhatian juga diberikan pada persoalan harta, yang tidak hanya dinilai dari jumlahnya, tetapi juga dari cara memperolehnya serta bagaimana harta tersebut dibelanjakan. Menurut pemateri, terdapat dua golongan yang merugi, yakni mereka yang memperoleh harta melalui jalan yang haram, serta mereka yang mendapatkan harta secara halal tetapi menggunakannya untuk hal-hal yang bertentangan dengan syariat. Sebaliknya, harta yang diperoleh dan dimanfaatkan sesuai tuntunan Islam akan menjadi sarana meraih keberkahan dan keselamatan.
Melalui kajian ini, peserta diajak menjadikan Qiyamul Lail sebagai momentum memperbanyak introspeksi diri. Muhasabah tidak hanya dilakukan ketika menghadapi ujian hidup, tetapi juga menjadi kebiasaan dalam menilai sejauh mana umur, kesehatan, ilmu, dan rezeki telah dimanfaatkan sesuai dengan amanah Allah SWT.
Sebagai bagian dari pembinaan AIK di UMS, Qiyamul Lail diharapkan mampu membentuk pribadi yang tidak hanya unggul dalam profesionalisme, tetapi juga memiliki kesadaran spiritual yang kuat. Dengan terus mengevaluasi diri sebelum datangnya hari perhitungan, dosen dan tenaga kependidikan diharapkan mampu menjalankan setiap amanah dengan penuh tanggung jawab serta menjadikan seluruh aktivitas sebagai bagian dari ibadah kepada Allah SWT.



