Surakarta – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menyelenggarakan Qiyamul Lail dan Doa Bersama sebagai agenda rutin setiap Jumat dalam rangka penguatan nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) bagi dosen dan tenaga kependidikan. Pada pelaksanaan Jumat (24/7/2026), tausiyah disampaikan oleh dosen Fakultas Agama Islam (FAI) UMS, Dr. Zaki Afifi, S.Pd., M.Pd., dengan tema “Muhasabah Ketakwaan: Menilai Keseimbangan Pengamalan Islam melalui Lima Dimensi Religiusitas.”
Dalam kajiannya, Dr. Zaki Afifi mengajak peserta melakukan muhasabah terhadap kualitas ketakwaan. Menurutnya, ketakwaan tidak cukup dinilai dari satu aspek ibadah saja, tetapi harus dilihat secara utuh melalui keseimbangan antara keyakinan, pemahaman, ibadah, penghayatan, dan implementasi nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menyoroti berbagai fenomena yang kerap dijumpai di masyarakat, seperti seseorang yang memiliki pengetahuan agama yang baik tetapi melakukan kekerasan seksual, rajin melaksanakan salat namun belum memahami dasar-dasar ibadah, menguasai fikih tetapi masih menunda salat, aktif berdakwah namun gemar merendahkan orang lain, hingga mengikuti banyak kajian tetapi tidak jujur dalam menjalankan pekerjaan. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa religiusitas seseorang tidak dapat diukur hanya dari satu sisi, melainkan harus dilihat secara menyeluruh.
Mengacu pada konsep religiusitas Glock dan Stark yang diadaptasi dalam konteks Islam, Dr. Zaki menjelaskan lima dimensi religiusitas yang perlu dimiliki seorang muslim. Dimensi pertama adalah ideologi, yaitu keyakinan terhadap Allah SWT, malaikat, kitab-kitab Allah, para rasul, hari akhir, dan takdir. Dimensi kedua adalah intelektual, yakni pemahaman terhadap ajaran Islam, Al-Qur’an, dan hadis sebagai landasan dalam beribadah dan bermuamalah.
Selanjutnya, dimensi ritual diwujudkan melalui pelaksanaan rukun Islam seperti menjaga syahadat, mendirikan salat, berpuasa, menunaikan zakat, dan berhaji bagi yang mampu. Adapun dimensi penghayatan (experiential) berkaitan dengan hadirnya rasa takut kepada Allah, keikhlasan beribadah, serta kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasi setiap perbuatan manusia. Sementara dimensi konsekuensi tercermin dalam perilaku sehari-hari berupa kejujuran, amanah, kepedulian sosial, dan akhlak mulia.
Menurutnya, kelima dimensi tersebut saling melengkapi. Ketimpangan pada salah satu dimensi akan berdampak pada kualitas pengamalan Islam seseorang. Oleh sebab itu, seorang muslim perlu terus melakukan evaluasi diri agar ilmu yang dimiliki, ibadah yang dijalankan, dan akhlak yang ditampilkan berjalan secara seimbang.
Melalui refleksi berbagai kasus nyata, Dr. Zaki mengajak peserta untuk tidak mudah menilai tingkat ketakwaan seseorang hanya berdasarkan penampilan lahiriah atau rutinitas ibadah. Ketakwaan sejati tampak ketika keyakinan, ilmu, ibadah, penghayatan, dan perilaku saling menguatkan sehingga melahirkan pribadi yang berintegritas dan memberi manfaat bagi lingkungan.
Kajian Qiyamul Lail ini menjadi pengingat bagi seluruh dosen dan tenaga kependidikan UMS bahwa penguatan AIK tidak berhenti pada peningkatan pengetahuan agama, tetapi harus diwujudkan dalam karakter dan etos kerja yang mencerminkan nilai-nilai Islam. Dengan muhasabah yang terus dilakukan, diharapkan sivitas akademika UMS mampu menjadi pribadi yang seimbang dalam iman, ilmu, ibadah, dan akhlak sehingga dapat memberikan kontribusi terbaik bagi masyarakat dan persyarikatan Muhammadiyah.



