Surakarta – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menggelar Qiyamul Lail dan Doa Bersama sebagai agenda rutin pembinaan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) bagi dosen dan tenaga kependidikan, Jumat (31/7/2026). Pada pelaksanaan Qiyamul Lail ke-215 ini, tausiyah disampaikan oleh dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMS, Dr. Miftakhul Huda, S.Pd., M.Pd., dengan mengangkat tema pentingnya menjaga bahasa sebagai cerminan keimanan.
Dalam tausiyahnya, Miftakhul Huda mengingatkan bahwa manusia sebagai makhluk sosial tidak dapat terlepas dari aktivitas berkomunikasi. Oleh karena itu, setiap muslim dituntut untuk menjadikan komunikasi sebagai bagian dari akhlak mulia sebagaimana telah dicontohkan Rasulullah SAW.
Ia menjelaskan bahwa Rasulullah mengajarkan umatnya untuk berbicara secara ringkas, jelas, dan bermanfaat, serta menghindari perkataan yang berlebihan. Selain itu, seorang muslim hendaknya berhati-hati dalam bertutur kata karena ucapan yang menyakitkan dapat meninggalkan luka yang lebih lama dibandingkan luka fisik.
“Perkataan yang baik bukan hanya mencerminkan akhlak seseorang, tetapi juga menjadi bagian dari keimanan,” ungkapnya.
Di era digital, menurutnya, adab berkomunikasi tidak hanya diwujudkan melalui lisan, tetapi juga melalui tulisan di media sosial maupun aplikasi percakapan. Pemilihan kata, penggunaan huruf kapital, hingga tanda baca dapat memengaruhi makna dan emosi penerima pesan. Karena itu, setiap tulisan perlu disampaikan dengan penuh kehati-hatian dan tanggung jawab.
Ia juga mengingatkan pentingnya menghindari sikap gemar mencela, mempermalukan orang lain, maupun terjebak dalam perdebatan yang tidak membawa manfaat. Sebaliknya, komunikasi hendaknya menjadi sarana mempererat ukhuwah, menebarkan ilmu, dan menghadirkan kedamaian di tengah masyarakat.
Mengutip firman Allah dalam QS. Al-Isra’ ayat 53, Miftakhul Huda menegaskan bahwa Allah memerintahkan hamba-Nya untuk mengucapkan perkataan yang paling baik karena setan senantiasa berupaya menimbulkan perselisihan melalui ucapan manusia. Sementara itu, QS. Ibrahim ayat 24–25 menggambarkan bahwa kalimat yang baik laksana pohon yang kokoh, berakar kuat, dan terus memberikan manfaat.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa bahasa merupakan cerminan hati. Hati yang bersih akan melahirkan ucapan yang lembut, jujur, dan menenangkan, sedangkan hati yang dipenuhi amarah, iri, maupun kesombongan akan mudah mengeluarkan perkataan yang menyakiti orang lain.
Sebagai penutup, Miftakhul Huda mengajak seluruh peserta untuk membiasakan diri menyaring setiap ucapan maupun tulisan sebelum disampaikan. Setiap kata hendaknya dipastikan benar, bermanfaat, diperlukan, serta tetap menjaga kehormatan orang lain.
Melalui kajian ini, peserta Qiyamul Lail diharapkan semakin menyadari bahwa menjaga lisan dan tulisan merupakan bagian dari implementasi nilai-nilai AIK dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah derasnya arus komunikasi digital, etika berbahasa menjadi salah satu wujud ketakwaan sekaligus ikhtiar membangun lingkungan akademik UMS yang santun, harmonis, dan berkemajuan.



