SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melalui Lembaga Pengembangan Pondok, Al-Islam, dan Kemuhammadiyahan (LPPIK) kembali menyelenggarakan Kajian Tafsir Online yang rutin dilaksanakan setiap hari Sabtu sebagai upaya penguatan nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) bagi dosen dan tenaga kependidikan. Pada Sabtu (1/8/2026), kajian yang dilaksanakan melalui Zoom Meeting ini menghadirkan Ust. Dr. Ainur Rha’in, S.Th.I., M.Th.I. dengan pembahasan tafsir QS. Al-Baqarah ayat 167–171.
Dalam kajiannya, Ust. Ainur Rha’in menjelaskan bahwa rangkaian ayat tersebut mengandung peringatan agar manusia tidak mengikuti pemimpin, tokoh, ataupun tradisi yang bertentangan dengan petunjuk Allah SWT. Pada hari kiamat kelak, hubungan antara para pemimpin yang menyesatkan dan para pengikutnya akan terputus. Masing-masing akan saling berlepas diri, sementara penyesalan yang muncul tidak lagi dapat mengubah keadaan.
“Karena itu, seorang Muslim harus memiliki landasan ilmu dalam menentukan siapa yang diikuti. Ukuran kebenaran bukanlah banyaknya pengikut atau kuatnya tradisi, tetapi kesesuaiannya dengan Al-Qur’an dan Sunnah,” jelasnya.
Lebih lanjut, pembahasan beralih pada perintah Allah agar manusia mengonsumsi makanan yang halal dan ṭayyib. Ust. Ainur menerangkan bahwa halal tidak hanya bermakna diperbolehkan menurut syariat, tetapi juga harus diiringi dengan sifat ṭayyib, yakni baik, bersih, sehat, bergizi, dan memberikan manfaat bagi tubuh.
Menurutnya, menjaga pola makan merupakan bagian dari ibadah. Seorang Muslim tidak cukup hanya memastikan kehalalan makanan yang dikonsumsi, tetapi juga perlu memperhatikan kualitasnya agar dapat menunjang kesehatan dan produktivitas dalam menjalankan aktivitas serta ibadah.

Dalam kajian tersebut, beliau juga mengingatkan tentang larangan mengikuti langkah-langkah setan (khuthuwāt asy-syaithān). Penyimpangan, katanya, tidak selalu diawali oleh dosa besar, melainkan sering kali bermula dari perkara-perkara kecil yang dianggap sepele. Apabila terus diikuti, kebiasaan tersebut dapat menyeret seseorang kepada kemaksiatan yang lebih besar.
Selain itu, QS. Al-Baqarah ayat 170 mengkritik sikap sebagian manusia yang menolak kebenaran dengan alasan hanya mengikuti tradisi nenek moyang. Ust. Ainur menegaskan bahwa seorang Muslim dituntut menggunakan akal sehat dalam beragama dan menjadikan Al-Qur’an serta Sunnah sebagai sumber utama dalam menentukan sikap, bukan sekadar mengikuti kebiasaan yang diwariskan secara turun-temurun.
Pada ayat 171, Allah memberikan perumpamaan tentang orang-orang yang menolak petunjuk seperti hewan yang hanya mendengar suara panggilan tanpa memahami maknanya. Mereka memiliki pendengaran, penglihatan, dan akal, tetapi tidak digunakan untuk menerima kebenaran sehingga hati mereka tertutup dari hidayah Allah.
Menutup kajian, Ust. Ainur mengajak seluruh peserta untuk senantiasa membangun kehidupan di atas ilmu yang benar. Memilih panutan yang berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah, menjaga konsumsi makanan yang halal dan ṭayyib, serta menjauhi setiap langkah yang dapat mengantarkan kepada kemaksiatan merupakan bagian dari ikhtiar menjaga keimanan.
Melalui Kajian Tafsir Online ini, UMS terus berkomitmen menghadirkan ruang pembelajaran Al-Qur’an yang tidak hanya memperkaya pemahaman keislaman, tetapi juga mendorong sivitas akademika mengimplementasikan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari sebagai wujud penguatan AIK.



