SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melalui Lembaga Pengembangan Pondok, Al-Islam, dan Kemuhammadiyahan (LPPIK) kembali menyelenggarakan Baitul Arqam Purna Studi (BAPS) ke-59 pada Sabtu (25/7). Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa lintas fakultas sebagai pembinaan akhir studi yang bertujuan mempersiapkan lulusan agar memiliki kematangan spiritual, ideologis, moral, dan profesional sebelum terjun ke dunia kerja maupun kehidupan bermasyarakat.
Sebagai salah satu program pembinaan khas UMS, BAPS menghadirkan lima materi utama yang saling melengkapi. Mulai dari penguatan karakter profetik, pembentukan jati diri Sarjana Muhammadiyah, penguatan aqidah dan akhlak, kesiapan menghadapi dunia kerja, hingga pemahaman prinsip ibadah menurut Manhaj Tarjih Muhammadiyah.
Sesi pertama dibuka oleh Prof. Ihwan Susila, S.E., M.Si., Ph.D. yang menyampaikan materi Profetik Transendental. Ia menjelaskan bahwa karakter profetik merupakan pondasi kepemimpinan seorang muslim yang tercermin dalam empat sifat Rasulullah, yakni sidiq (jujur), fathonah (cerdas), amanah (dapat dipercaya), dan tabligh (menyampaikan kebenaran).
Menurutnya, karakter tersebut menjadi ciri umat terbaik sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, yaitu umat yang mengajak kepada kebaikan, mencegah kemungkaran, dan beriman kepada Allah. Nilai-nilai profetik dibangun melalui tiga pilar utama, yaitu humanisasi, liberasi, dan transendensi.
“Karakter profetik harus melekat pada setiap lulusan, yakni sidiq, fathonah, amanah, dan tabligh. Inilah ciri umat terbaik yang menyeru pada kebaikan, mencegah kemungkaran, dan beriman kepada Allah,” ungkap Prof. Ihwan.
Ia menambahkan bahwa dimensi transendensi diwujudkan melalui kedekatan seorang hamba kepada Allah melalui ibadah seperti shalat dan dzikir yang melahirkan ketenangan jiwa sekaligus pengendalian diri.

Pada sesi kedua, Dr. Mahasri Shobahiya, M.Ag. mengajak peserta memahami Karakteristik Sarjana Muhammadiyah. Menurutnya, lulusan Muhammadiyah memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan kemanfaatan di tengah masyarakat melalui perpaduan antara kecerdasan intelektual, akhlak yang mulia, kemandirian, serta kepedulian terhadap persoalan umat.
“Sarjana Muhammadiyah dituntut tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga berakhlak mulia, mandiri, peduli sosial, serta berpihak pada kemaslahatan umat,” jelasnya.
Penguatan aspek moral dilanjutkan pada sesi ketiga bersama Dr. Triono Ali Mustofa, M.Pd.I. melalui materi Aqidah dan Akhlak. Ia menekankan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi harus diimbangi dengan penguatan keimanan serta akhlak agar lulusan mampu menjadi pribadi yang memberi manfaat bagi masyarakat.

Sesi keempat menghadirkan Drs. Suyatmin, M.Si. dengan materi Persiapan Memasuki Dunia Kerja dan Pengembangan Karier. Ia memaparkan berbagai tantangan yang dihadapi lulusan saat ini, mulai dari terbatasnya lowongan pekerjaan, meningkatnya tuntutan kompetensi, hingga persaingan yang semakin ketat.
Ia mengajak mahasiswa untuk mengenali potensi diri, memperbaiki kekurangan, mengembangkan kelebihan, serta membangun mental yang tangguh. Selain itu, budaya literasi, penguasaan teknologi, dan peningkatan keterampilan menjadi bekal penting agar mampu beradaptasi dengan perubahan dunia kerja.
“Dunia kerja tidak hanya membutuhkan ijazah, tetapi juga karakter, kompetensi, dan kemauan untuk terus belajar. Mereka yang mampu beradaptasi akan memiliki peluang lebih besar untuk berkembang,” ujarnya.

Sebagai penutup, Dr. Azhar Alam, Lc., S.E., M.SEI. menyampaikan materi Prinsip Ibadah Menurut Manhaj Tarjih Muhammadiyah. Ia menjelaskan bahwa ibadah harus dilaksanakan berdasarkan tuntunan Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai Manhaj Tarjih Muhammadiyah sehingga menjadi landasan yang kokoh dalam kehidupan seorang muslim.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga shalat sebagai pilar utama kehidupan beragama.
“Shalat adalah tiang agama. Siapa yang mendirikannya sungguh telah menegakkan agamanya, dan siapa yang meninggalkannya berarti telah merobohkannya,” tegasnya.
Melalui penyelenggaraan BAPS ke-59, UMS kembali menegaskan komitmennya dalam mencetak lulusan yang tidak hanya memiliki keunggulan akademik, tetapi juga berkarakter profetik, berakhlak mulia, siap menghadapi tantangan dunia kerja, serta mampu mengamalkan nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan dalam setiap aspek kehidupan.



