Ketika Ikhtiar Bertemu Tawakal, Rahmat Allah Datang Tanpa Diduga

SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menyelenggarakan Kajian Tafsir Al-Qur’an sebagai agenda rutin setiap Sabtu dalam rangka memperkuat nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) bagi dosen dan tenaga kependidikan. Kajian yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting pada Sabtu (20/6/2026) menghadirkan Dr. Ainur Rha’in, S.Th.I., M.Th.I., yang mengupas kandungan QS. Al-Baqarah ayat 158–160. Melalui pembahasan tersebut, peserta diajak memahami bahwa ibadah sa’i tidak hanya menjadi bagian dari manasik haji dan umrah, tetapi juga mengandung pelajaran tentang ikhtiar, tawakal, kejujuran dalam menyampaikan kebenaran, serta luasnya pintu tobat yang dibuka Allah SWT.

Dalam pemaparannya, Dr. Ainur Rha’in menjelaskan bahwa bukit Shafa dan Marwah merupakan bagian dari syiar Allah yang memiliki makna spiritual mendalam. Pensyariatan sa’i berakar dari perjuangan Siti Hajar yang berlari bolak-balik di antara kedua bukit untuk mencari air bagi putranya, Nabi Ismail AS. Di tengah keterbatasan dan kesendirian di padang pasir, Siti Hajar tetap berikhtiar sambil menggantungkan harapan sepenuhnya kepada Allah hingga akhirnya dianugerahi mata air Zamzam sebagai bentuk pertolongan-Nya.

Menurut beliau, kisah tersebut menjadi teladan bahwa tawakal tidak pernah berarti menyerah tanpa usaha. Seorang mukmin dituntut untuk bergerak, berikhtiar, dan terus berusaha, sembari meyakini bahwa hasil akhir sepenuhnya berada dalam ketentuan Allah. Nilai inilah yang diabadikan melalui ibadah sa’i, sehingga setiap langkah yang ditempuh hendaknya disertai kerendahan hati, doa, dan harapan akan petunjuk serta ampunan dari Allah SWT.

Kajian juga mengulas latar belakang turunnya QS. Al-Baqarah ayat 158. Pada masa awal Islam, sebagian sahabat sempat merasa ragu melakukan sa’i karena pada masa jahiliah terdapat berhala di kawasan Shafa dan Marwah. Melalui ayat tersebut, Allah menegaskan bahwa kedua bukit itu merupakan syiar-Nya sehingga ibadah sa’i menjadi bagian dari ketaatan yang murni kepada Allah setelah berhala-berhala dimusnahkan.

Selain membahas makna sa’i, Dr. Ainur Rha’in mengingatkan pentingnya keberanian menyampaikan kebenaran sebagaimana pesan dalam QS. Al-Baqarah ayat 159. Ayat tersebut memberikan peringatan keras kepada siapa pun yang mengetahui kebenaran agama, tetapi memilih menyembunyikannya. Menurutnya, berbagai kerusakan dalam sejarah manusia sering kali bukan disebabkan karena kebenaran tidak ada, melainkan karena orang yang mengetahuinya enggan menyampaikan dan mengamalkannya.

Namun demikian, Al-Qur’an juga menghadirkan kabar gembira melalui QS. Al-Baqarah ayat 160. Allah membuka pintu tobat selebar-lebarnya bagi siapa saja yang bersungguh-sungguh kembali kepada-Nya. Tobat yang diterima bukan hanya ditandai dengan penyesalan, tetapi juga diwujudkan melalui perbaikan diri serta keberanian menyampaikan kembali kebenaran yang sebelumnya pernah diabaikan atau disembunyikan.

Dalam kajian tersebut, Dr. Ainur Rha’in juga mengangkat kisah Imam Ahmad bin Hanbal sebagai teladan dalam menuntut ilmu. Meski berangkat dengan keterbatasan bekal, beliau memperoleh dukungan penuh dari ibunya yang menanamkan keyakinan bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan orang yang berjuang di jalan ilmu. Kisah ini semakin menegaskan bahwa ikhtiar yang disertai tawakal akan selalu mendapatkan pertolongan Allah pada waktu yang terbaik.

Menutup kajian, Dr. Ainur Rha’in mengajak peserta untuk tidak terbelenggu oleh kesalahan masa lalu. Allah adalah Dzat Yang Maha Penerima Tobat dan Maha Menutupi aib hamba-Nya. Karena itu, setiap muslim hendaknya terus memperbaiki diri, memperbanyak amal kebaikan, serta menghadirkan manfaat bagi sesama sebagai wujud syukur atas rahmat dan kasih sayang Allah.

Melalui kajian ini, peserta diajak memahami bahwa perjalanan sa’i bukan sekadar ritual dalam ibadah haji dan umrah, melainkan simbol perjuangan seorang mukmin dalam menjemput rahmat Allah melalui ikhtiar yang sungguh-sungguh, tawakal yang kokoh, keberanian menyampaikan kebenaran, dan kesungguhan untuk terus memperbaiki diri sepanjang hayat.

Scroll to Top