SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menyelenggarakan Kajian Tafsir Al-Qur’an sebagai agenda rutin setiap Sabtu dalam rangka penguatan nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) bagi dosen dan tenaga kependidikan. Kajian yang berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting pada Sabtu (6/6/2026) menghadirkan Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) UMS, Dr. Ainur Rha’in, S.Th.I., M.Th.I., yang mengupas tafsir QS. Al-Baqarah ayat 155–157 dengan fokus pada makna ujian sebagai wujud kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.
Dalam pemaparannya, Dr. Ainur Rha’in mengajak peserta mengubah cara pandang terhadap berbagai ujian kehidupan. Menurutnya, kesulitan yang dialami manusia, baik dalam bentuk persoalan ekonomi, kesehatan, keluarga, maupun pekerjaan, bukanlah tanda bahwa Allah membenci hamba-Nya. Sebaliknya, ujian merupakan bagian dari proses pembinaan keimanan sekaligus bukti kasih sayang Allah kepada orang-orang yang dicintai-Nya.
Beliau menjelaskan bahwa QS. Al-Baqarah ayat 155 menegaskan setiap manusia pasti akan diuji sesuai kadar keimanannya. Semakin tinggi kualitas iman seseorang, semakin besar pula tantangan yang dihadapinya. Hal tersebut tampak pada perjalanan para nabi yang menerima ujian berat dalam menyampaikan risalah Allah kepada umat manusia.
Menariknya, Dr. Ainur Rha’in mengulas penggunaan kata بِشَيْءٍ (bisyai’in) dalam ayat tersebut dari sisi kaidah bahasa Arab. Kata tersebut menunjukkan makna “sedikit”, yang mengisyaratkan bahwa ujian yang diberikan Allah sejatinya jauh lebih kecil dibandingkan nikmat yang telah dilimpahkan kepada manusia. Karena itu, seorang mukmin tidak selayaknya memandang hidup hanya dari sisi kesulitannya, tetapi juga menyadari betapa banyak karunia Allah yang telah diterima setiap hari.

Ia juga menguraikan bahwa penyebutan bentuk-bentuk ujian dalam ayat tersebut memiliki makna yang bertahap, mulai dari rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, kehilangan jiwa, hingga berkurangnya hasil usaha. Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa ujian dapat menyentuh berbagai aspek kehidupan manusia, baik fisik, psikologis, sosial, maupun ekonomi.
Meski demikian, Al-Qur’an tidak berhenti pada penyebutan ujian. Di akhir ayat, Allah justru memerintahkan Rasulullah SAW untuk menyampaikan kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. Menurut Dr. Ainur Rha’in, pesan tersebut menjadi penegasan bahwa di balik setiap kesulitan terdapat janji pertolongan, rahmat, dan balasan terbaik bagi mereka yang mampu menghadapinya dengan penuh keimanan.
Dalam kajian itu, beliau juga meluruskan pemahaman tentang makna sabar. Kesabaran dalam Islam bukan berarti pasrah tanpa usaha atau hanya menahan emosi. Sebaliknya, sabar adalah kemampuan menjaga keteguhan hati sambil terus berikhtiar mencari solusi atas setiap persoalan sesuai tuntunan syariat. Sikap tersebut menunjukkan bahwa keimanan harus diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan sekadar menunggu datangnya pertolongan.
Lebih lanjut, pembahasan beralih pada QS. Al-Baqarah ayat 156 yang mengajarkan kalimat istirja’, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”, sebagai respons seorang mukmin ketika menghadapi musibah. Kalimat tersebut bukan sekadar ungkapan saat terjadi kematian, tetapi merupakan deklarasi tauhid yang menegaskan bahwa seluruh kehidupan, harta, keluarga, dan diri manusia adalah milik Allah serta akan kembali kepada-Nya. Kesadaran inilah yang melahirkan ketangguhan jiwa sehingga seseorang tidak mudah tenggelam dalam kesedihan.
Menutup kajian, Dr. Ainur Rha’in menjelaskan bahwa QS. Al-Baqarah ayat 157 memuat kabar gembira bagi orang-orang yang bersabar. Allah menjanjikan ampunan, rahmat, serta petunjuk sebagai balasan atas kesabaran mereka. Kemuliaan seorang hamba, menurutnya, tidak diukur dari kedudukan, kekayaan, ataupun kekuasaan, melainkan dari kemampuannya menjaga keimanan ketika menghadapi ujian kehidupan.
Melalui kajian ini, peserta diajak memahami bahwa setiap ujian memiliki tujuan untuk membentuk pribadi yang lebih kuat, lebih sabar, dan semakin dekat kepada Allah SWT. Dengan menjadikan iman sebagai landasan dalam menghadapi setiap cobaan, seorang mukmin akan mampu mengubah kesulitan menjadi jalan menuju rahmat, ketenangan, dan kemuliaan di sisi-Nya.



