Di Padang Mahsyar, Hanya Hubungan karena Allah yang Tetap Bertahan

SURAKARTA – Hubungan yang terjalin di dunia tidak selalu menjadi jaminan kebersamaan di akhirat. Pesan inilah yang mengemuka dalam Kajian Tafsir rutin Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang diselenggarakan sebagai bagian dari penguatan nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) bagi dosen dan tenaga kependidikan. Kajian yang berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting pada Sabtu (9/5/2026) menghadirkan Ust. Dr. Hakimuddin Salim, Lc., M.A. dengan tema “Saat Keluarga Dekat Berseteru di Hari Kiamat (Tafsir Tarbawi QS Az-Zukhruf: 67).”

Dalam pemaparannya, Ust. Hakimuddin menjelaskan bahwa Al-Qur’an melalui QS Az-Zukhruf ayat 67 menggambarkan kondisi manusia pada Hari Kiamat, ketika hubungan yang selama ini terasa begitu dekat justru berubah menjadi permusuhan. Suami dan istri, orang tua dan anak, saudara, hingga sahabat dapat saling menyalahkan karena masing-masing sibuk mempertanggungjawabkan amalnya di hadapan Allah SWT.

Ia menegaskan bahwa dahsyatnya peristiwa di Padang Mahsyar membuat setiap manusia hanya memikirkan keselamatan dirinya sendiri. Hubungan yang dibangun atas dasar kepentingan dunia, kemaksiatan, atau keuntungan materi tidak lagi memberikan manfaat, bahkan berubah menjadi sebab saling menyalahkan. Sebaliknya, Allah memberikan pengecualian kepada orang-orang yang menjalin persaudaraan dan persahabatan atas dasar ketakwaan. Hubungan semacam itu akan tetap terjaga hingga kehidupan di surga.

Melalui kajian tersebut, peserta diajak untuk mengevaluasi kembali niat dalam menjalin hubungan dengan keluarga, sahabat, maupun lingkungan kerja. Rutinitas kehidupan sering kali membuat seseorang lupa meluruskan niat, padahal keikhlasan karena Allah menjadi fondasi utama agar hubungan tidak sekadar berorientasi pada kepentingan duniawi.

Ust. Hakimuddin mengingatkan bahwa hubungan yang dibingkai dengan syariat Allah akan melahirkan keharmonisan, saling mengingatkan dalam kebaikan, serta menguatkan semangat amar ma’ruf nahi munkar. Nilai tawashau bil haq dan tawashau bish shabr menjadi karakter yang harus terus dihidupkan agar setiap hubungan mampu membawa manfaat, bukan justru menyeret kepada keburukan.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa persahabatan yang dibangun di atas kemaksiatan atau kepentingan sesaat pada akhirnya hanya akan melahirkan penyesalan. Gambaran ini juga tampak pada hubungan orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai sandaran, di mana pada Hari Kiamat mereka saling menyalahkan dan berlepas diri satu sama lain.

Melalui Kajian Tafsir ini, UMS kembali mengajak seluruh dosen dan tenaga kependidikan untuk menjadikan setiap relasi sebagai jalan menuju ketakwaan. Hubungan yang dilandasi keikhlasan karena Allah bukan hanya menghadirkan keharmonisan selama di dunia, tetapi juga menjadi bekal yang tetap bernilai hingga kehidupan akhirat.

Scroll to Top