Surakarta – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) terus memperkuat pembinaan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) bagi dosen dan tenaga kependidikan melalui program Qiyamul Lail yang diselenggarakan secara rutin setiap Jumat. Pada pelaksanaan Qiyamul Lail ke-205, Jumat (8/5/2026), kajian daring melalui Zoom Meeting menghadirkan dosen Fakultas Hukum dan Ilmu Politik UMS, Dr. Syaifuddin Zuhdi, S.HI., M.HI., yang mengangkat tema “Manusia Ulul Albab: Membangun Kesadaran Noetik dalam Islam.”
Dalam kajiannya, Dr. Syaifuddin menjelaskan bahwa qiyamul lail bukan sekadar ibadah malam, tetapi menjadi sarana pendidikan jiwa yang mengangkat manusia dari sekadar makhluk biologis menjadi pribadi yang memiliki kesadaran spiritual. Ia mengawali pembahasan dengan mengutip firman Allah dalam QS. Al-Muzzammil ayat 6 yang menegaskan bahwa bangun malam memiliki pengaruh yang lebih kuat terhadap jiwa sekaligus menjadikan ucapan dan hati lebih mantap.
Menurutnya, ibadah malam merupakan momentum untuk membangun kesadaran noetik, yaitu kemampuan manusia memahami makna di balik setiap peristiwa kehidupan. Kesadaran tersebut tidak berhenti pada tingkat mengetahui informasi, tetapi berkembang menjadi pemahaman yang kritis hingga mampu menangkap hikmah yang mengantarkan seseorang menjadi insan Ulul Albab.
Konsep Ulul Albab dijelaskan melalui QS. Ali Imran ayat 190–191 yang menggambarkan sosok berakal yang senantiasa mengingat Allah dalam setiap keadaan sekaligus merenungkan tanda-tanda kebesaran-Nya di alam semesta. Dari perpaduan zikir dan pikir inilah lahir manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki hati yang bersih, akhlak yang mulia, dan ketakwaan yang kokoh.
Lebih lanjut, Dr. Syaifuddin menguraikan bahwa manusia Ulul Albab dibangun melalui lima fondasi utama. Zikir menjadi sarana menghidupkan dan menguatkan hati, pikir membentuk akal yang kritis, wahyu memberikan arah kehidupan, realitas menjadi ruang untuk mengamalkan nilai-nilai Islam, sedangkan nurani menjaga kemanusiaan agar ilmu tidak kehilangan nilai moral. Keseluruhan unsur tersebut saling melengkapi dalam membentuk karakter muslim yang utuh.
Ia juga menegaskan bahwa menjadi Ulul Albab tidak diukur dari tingkat kecerdasan akademik semata, melainkan dari kemampuan menyelaraskan ilmu dengan amal. Seseorang dituntut terus belajar, mengamalkan ilmu dalam kehidupan sehari-hari, menjaga kejujuran, berbakti kepada orang tua, peduli terhadap sesama, serta menjadikan setiap pengalaman hidup sebagai pelajaran untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah.
Selain itu, sikap tidak berlebihan terhadap urusan dunia menjadi karakter penting seorang Ulul Albab. Kesuksesan, jabatan, maupun harta dipandang sebagai amanah yang tidak boleh menguasai hati. Dalam setiap nikmat, seorang mukmin dituntut bersyukur, sementara dalam setiap musibah ia bersabar, karena keduanya merupakan bagian dari ujian yang mendewasakan keimanan.
Melalui tema yang diangkat, peserta diajak untuk menjadikan qiyamul lail sebagai madrasah ruhani yang melatih keseimbangan antara kecerdasan akal dan kedalaman spiritual. Setiap fenomena alam, perjalanan hidup, maupun peristiwa yang dialami hendaknya tidak sekadar dipahami secara rasional, tetapi juga direnungkan sebagai tanda kebesaran Allah yang memperkuat keimanan.
Kajian ini sekaligus mengingatkan bahwa tujuan utama penciptaan manusia adalah beribadah kepada Allah SWT. Manusia dipersilakan berusaha meraih keberhasilan dunia, tetapi tidak boleh melupakan orientasi akhirat. Dengan membangun kesadaran noetik melalui zikir, pikir, wahyu, amal, dan nurani, setiap muslim diharapkan mampu menjadi pribadi Ulul Albab yang cerdas, rendah hati, produktif, serta senantiasa menghadirkan nilai-nilai Islam dalam setiap aspek kehidupannya.



