SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menyelenggarakan Kajian Qiyamul Lail dan Doa Bersama ke-204 pada Jumat (24/4). Kegiatan rutin yang dilaksanakan secara daring tersebut menghadirkan Wakil Dekan I Fakultas Geografi UMS, Dr. Choirul Amin, S.Si., M.M., sebagai penceramah dengan tema “Melawan Setan, Memang Mampu?”.
Dalam tausiyahnya, Choirul Amin menegaskan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk melawan godaan setan selama berpegang teguh pada iman, Al-Qur’an, dan Sunnah. Setan, menurutnya, tidak perlu ditakuti secara berlebihan karena tipu dayanya pada hakikatnya lemah bagi orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Allah SWT.
“Setan memang musuh nyata manusia, tetapi bukan musuh yang tidak dapat dikalahkan. Allah sendiri telah menjamin bahwa tipu daya setan itu lemah,” ujarnya.
Ia merujuk pada firman Allah SWT dalam QS. An-Nisa ayat 76 yang menyebutkan bahwa tipu daya setan adalah lemah. Selain itu, QS. An-Nahl ayat 99 menjelaskan bahwa setan tidak memiliki kekuasaan atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Rabb-nya.
Menurut Choirul Amin, setan hanya mampu membisikkan keburukan, menghiasi maksiat, serta menggoda manusia melalui syubhat dan syahwat. Namun, setan tidak dapat memaksa manusia untuk melakukan perbuatan dosa. Karena itu, keputusan untuk mengikuti atau menolak godaan tetap berada pada diri setiap manusia.
“Setan hanya membisikkan, merayu, dan menghiasi keburukan. Keputusan tetap berada di tangan kita. Ketika iman kuat, maka manusia mampu mengendalikan hawa nafsu dan menolak ajakan setan,” jelasnya.
Dalam Al-Qur’an, setan disebut sebagai musuh nyata manusia. Peringatan tersebut antara lain terdapat dalam QS. Al-Baqarah ayat 168, QS. Al-A’raf ayat 22, serta QS. Yusuf ayat 5. Setan dari golongan jin dan iblis membangkang terhadap perintah Allah SWT serta berusaha menyesatkan manusia hingga hari kiamat.
Choirul Amin menyampaikan beberapa langkah praktis untuk melawan godaan setan. Pertama, menyibukkan diri dengan zikir kepada Allah SWT. Zikir menjadi benteng spiritual yang kuat karena setan akan menjauh ketika manusia mengingat, takut, dan bersyukur kepada Allah.
Kedua, berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah dengan menjalankan ajaran Islam secara kaffah. Ketiga, meningkatkan iman dan takwa agar manusia memiliki kontrol diri terhadap hawa nafsu yang kerap menjadi jalan masuk godaan setan.
Selain itu, manusia juga perlu memiliki sikap waspada atau al-hadr, sebab setan terus mengintai dan mencari celah kelalaian manusia. Membaca ta’awudz serta memohon perlindungan kepada Allah SWT juga menjadi bagian penting dalam menjaga diri dari bisikan setan.
“Ucapan a’udzubillahi minasy syaithanir rajim bukan sekadar formalitas, tetapi merupakan tameng bagi seorang muslim. Kita juga memiliki senjata berupa istighfar, wudhu, salat, Al-Qur’an, doa perlindungan, dan zikir,” tuturnya.
Ia mencontohkan beberapa bentuk godaan setan dalam kehidupan sehari-hari, seperti rasa malas beribadah, marah, waswas dalam salat dan wudhu, kecenderungan membuka pintu maksiat, hingga perasaan putus asa. Godaan tersebut perlu dilawan dengan tindakan nyata, seperti segera berwudhu dan melaksanakan salat ketika malas beribadah, menahan diri saat marah, mengabaikan waswas, menutup akses menuju maksiat, serta memperkuat harapan terhadap rahmat Allah SWT.
Dalam menghadapi rasa putus asa, Choirul Amin mengingatkan firman Allah SWT dalam QS. Az-Zumar ayat 53 agar manusia tidak berputus asa dari rahmat-Nya. Ia juga mengaitkan pembahasan tersebut dengan pelajaran dari kisah Nabi Musa AS dan Nabi Khidir AS dalam QS. Al-Kahfi ayat 82.
Menurutnya, ada peristiwa yang secara lahir tampak buruk, tetapi sesungguhnya mengandung rahmat dan hikmah. Demikian pula ketika seseorang pernah terjatuh dalam dosa, pengalaman tersebut dapat menjadi jalan untuk mengenal nikmat taubat dan semakin mendekat kepada Allah SWT.
“Setan kuat ketika kita lemah. Namun, kita akan kuat ketika Allah yang menguatkan. Allah selalu bersama orang-orang yang bersungguh-sungguh berjuang di jalan-Nya,” pungkasnya.
Kajian Qiyamul Lail dan Doa Bersama menjadi salah satu agenda rutin UMS dalam memperkuat nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan bagi sivitas akademika. Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan mampu meningkatkan kualitas iman, ketakwaan, serta kesiapan spiritual dalam menjalani kehidupan sehari-hari.



