Kajian Tafsir Al-Qur’an Bahas Ujian Pemindahan Kiblat dan Keteladanan Nabi Ibrahim

SURAKARTA – Kajian Tafsir Al-Qur’an yang disampaikan oleh Dr. Ainur Rha’in, S.Th.I, M.Th.I pada Sabtu, 7 Februari 2026, membahas tafsir Surat Al-Baqarah ayat 124–142. Dalam kesempatan tersebut, beliau mengulas secara mendalam peristiwa pemindahan kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah sebagai bentuk ujian keimanan bagi kaum Muslimin.

Beliau mengawali kajian dengan membacakan firman Allah dalam QS. Al-Baqarah [2]: 142:

“Orang-orang yang kurang akalnya di antara manusia akan berkata: ‘Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?’ Katakanlah: ‘Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus.’”

Dr. Ainur Rhain menjelaskan bahwa ayat ini merupakan pemberitahuan Allah tentang respons sebagian orang, khususnya dari kalangan Yahudi, bahkan ada yang sampai murtad karena lemahnya iman. Mereka mempersoalkan perubahan kiblat dan menganggapnya bukan di atas kebenaran, padahal hal tersebut adalah ujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Justru peristiwa ini menunjukkan kebenaran nubuwwah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ketika ayat ini turun, mereka belum mengatakan hal itu. Namun Allah sudah mengabarkan bahwa mereka akan berkata demikian. Dan benar terjadi. Ini bukti bahwa Allah mengetahui apa yang akan terjadi sebelum terjadinya,” jelasnya.

Beliau menegaskan bahwa keyakinan seorang Muslim adalah meyakini ilmu Allah yang sempurna, meliputi segala sesuatu hingga hari kiamat. Setiap syariat yang Allah turunkan tidak pernah lepas dari keadilan, hikmah, dan ilmu-Nya yang Maha Luas.

Menurutnya, siapa pun yang menentang atau menyela hukum Allah pada hakikatnya adalah orang yang kurang akal, meskipun memiliki gelar tinggi. “Kalau seseorang menentang syariat Allah, seakan-akan ia mengatakan bahwa Allah kurang tahu dan dirinya lebih tahu. Maka ini bentuk kebodohan, karena Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi, serta manusia seluruhnya,” tegasnya.

Dalam lanjutan pembahasan, Dr. Ainur Rhain juga menguraikan sifat-sifat Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang menjadi teladan bagi umat Islam, sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat sebelumnya.

Pertama, ummah, yakni sosok yang menjadi teladan dan penggerak kebaikan. Nabi Ibrahim adalah figur yang mengajarkan kebaikan dan menjadi panutan. Dalam konteks kampus, nilai ini relevan untuk diterapkan dalam mendidik dan membimbing mahasiswa.

Kedua, qaanitan, yaitu patuh dan taat sepenuhnya kepada perintah Allah tanpa membantah.

Ketiga, hanif, lurus dalam bertauhid dan konsisten mengikuti kebenaran tanpa menyimpang.

Keempat, tidak pernah berbuat syirik, menjaga kemurnian tauhid dalam seluruh aspek kehidupan.

Kelima, selalu bersyukur atas nikmat dan karunia Allah.

Kajian ini menegaskan bahwa perubahan kiblat bukan sekadar peristiwa sejarah, tetapi pelajaran besar tentang kepatuhan, keimanan, dan kepercayaan penuh kepada ketetapan Allah. Ujian tersebut membedakan antara orang yang tunduk kepada wahyu dan mereka yang mempertanyakannya dengan akal yang tidak dibimbing iman.

Melalui kajian ini, jamaah diingatkan untuk senantiasa menjaga ketundukan kepada syariat Allah serta meneladani sifat-sifat Nabi Ibrahim dalam kehidupan sehari-hari.

Scroll to Top