SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menggelar Qiyamul Lail ke-200 pada Jumat, 6 Februari 2026. Pada momentum istimewa ini, tausiyah disampaikan oleh Dr. Istanto, S.Pd.I., M.Pd. dengan tema “Makna Sholat Berjamaah dalam Kehidupan Berorganisasi.”
Dalam pemaparannya, Dr. Istanto menegaskan bahwa sholat berjamaah bukan sekadar ibadah ritual, melainkan sarana pembinaan karakter organisasi.
“Sholat berjamaah bukan hanya ibadah ritual, tetapi simulasi kepemimpinan dan manajemen tim. Di dalamnya ada disiplin, koordinasi, ketaatan, dan solidaritas,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa hubungan imam dan makmum menggambarkan relasi antara pemimpin dan anggota organisasi. Makmum tidak boleh mendahului imam, yang bermakna pentingnya koordinasi dan kepatuhan dalam satu komando.
“Makmum tidak boleh mendahului imam. Ini melatih kita dalam organisasi agar tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi bergerak dalam satu komando dan visi yang sama,” jelasnya.
Selain kepemimpinan dan kepatuhan, sholat berjamaah juga mengajarkan kedisiplinan dan manajemen waktu. Sholat tepat waktu mendidik setiap individu untuk bertanggung jawab dan menghargai waktu sebagai amanah.
Makna lainnya adalah kekompakan dan kesatuan yang dilambangkan melalui saf yang lurus dan rapat. Menurutnya, kekuatan organisasi sangat ditentukan oleh soliditas tim.
“Saf yang lurus dan rapat mengajarkan bahwa kekuatan organisasi terletak pada kekompakan. Jika ada celah, di situlah potensi perpecahan muncul,” ungkapnya.

Dr. Istanto juga menyoroti pentingnya regenerasi dalam organisasi. Dalam sholat berjamaah, posisi makmum di belakang imam yang siap menggantikan jika imam batal mencerminkan pentingnya kaderisasi dan manajemen suksesi.
“Dalam sholat berjamaah ada konsep regenerasi. Ketika imam berhalangan, sudah ada yang siap menggantikan. Artinya, organisasi yang sehat selalu menyiapkan kader penerus,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kepemimpinan dalam sholat berjamaah berbasis keteladanan (uswatun hasanah). Hak imam untuk diikuti bermakna bahwa pemimpin harus menjadi contoh, sementara kewajiban makmum mengikuti imam mencerminkan kepatuhan anggota terhadap kebijakan pimpinan selama tidak menyimpang dari aturan.
“Ketaatan makmum kepada imam mencerminkan kepatuhan anggota kepada pimpinan selama tidak menyimpang. Sebaliknya, imam juga harus memahami kondisi makmum. Di situlah kepercayaan dibangun,” tambahnya.
Ia juga mengingatkan bahwa sholat berjamaah memiliki keutamaan 27 derajat lebih tinggi dibandingkan sholat sendirian. Selain meningkatkan keimanan dan kekhusyukan, sholat berjamaah mempererat persaudaraan, menanamkan kesetaraan, membangun silaturahim yang berkelanjutan, serta membentuk kerja sama tim yang solid.
“Sholat berjamaah memberi kita pelajaran bahwa kepemimpinan bukan soal jabatan, tetapi keteladanan,” pungkasnya.
Melalui Qiyamul Lail ke-200 ini, jamaah diajak memaknai sholat berjamaah sebagai metode pembinaan karakter organisasi agar tercipta sinergi yang kokoh, budaya kerja harmonis, serta semangat kebersamaan dalam meraih rahmat Allah SWT.



