Dari Lelah Menuju Lillah, Qiyamul Lail UMS Ajak Dosen dan Tendik Menata Mental, Menjaga Kesehatan, dan Menguatkan Iman

SURAKARTA – Kesibukan, tuntutan pekerjaan, dan berbagai persoalan kehidupan terkadang membuat seseorang terus bergerak tanpa sempat menyadari bahwa tubuh dan pikirannya mulai lelah. Di tengah kondisi tersebut, menjaga kesehatan mental menjadi bagian penting dalam menjalani kehidupan secara seimbang.

Pesan tersebut mengemuka dalam Qiyamul Lail dan Doa Bersama ke-217 Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting, Jum’at (14/8/2026). Kegiatan rutin setiap Jum’at ini menjadi salah satu ikhtiar UMS dalam memperkuat nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) bagi dosen dan tenaga kependidikan.

Pada kesempatan tersebut, tausiyah disampaikan oleh Ustadzah Fitriana Mustikaningrum, S.Gz., M.Sc., Ph.D. dengan mengangkat tema “Dari Lelah Menuju Lillah: Menata Mental, Menjaga Kesehatan dan Menguatkan Iman.”

Dalam tausiyahnya, kesehatan mental tidak hanya dipandang sebagai persoalan psikologis, tetapi sebagai bagian dari keseimbangan kehidupan yang mencakup pikiran, emosi, tubuh, hubungan sosial, serta hubungan manusia dengan Allah SWT.

Kesehatan mental yang baik membantu seseorang menjalani kehidupan secara lebih positif dan produktif. Sebaliknya, gangguan kesehatan mental dapat memengaruhi kualitas hidup, kondisi fisik, kemampuan mengambil keputusan, hingga hubungan dengan orang lain.

Karena itu, kesehatan mental perlu mendapatkan perhatian sebagaimana kesehatan fisik. Dalam perspektif Islam, menjaga kesehatan mental juga sejalan dengan tujuan syariat atau maqāṣid al-syarī‘ah, antara lain menjaga jiwa (ḥifẓ al-nafs), akal (ḥifẓ al-‘aql), agama (ḥifẓ al-dīn), serta kehormatan dan martabat manusia.

Ketika Lelah, Bukan Berarti Lemah

Salah satu pesan penting yang disampaikan dalam kajian adalah bahwa tekanan dan kelelahan merupakan bagian dari kehidupan manusia. Tekanan tidak selalu harus dipandang sebagai sesuatu yang buruk. Yang terpenting adalah bagaimana seseorang mengenali dan mengelolanya agar tidak menjauhkan diri dari Allah.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 286 bahwa Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa setiap manusia memiliki batas kemampuan.

Mengenali batas diri, dengan demikian, bukanlah tanda kelemahan. Justru hal tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga amanah kehidupan yang diberikan Allah.

Ketika pikiran terasa penuh, manusia juga diingatkan untuk kembali kepada Allah. Sebagaimana ditegaskan dalam QS. Ar-Ra’d ayat 28, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.

Hubungan spiritual tersebut menjadi salah satu sumber kekuatan dalam menghadapi tekanan. Namun, penguatan iman tidak berarti mengabaikan ikhtiar. Berdoa dan beribadah perlu berjalan beriringan dengan upaya mencari pertolongan yang tepat, termasuk berbicara dengan keluarga maupun tenaga profesional ketika diperlukan.

Belajar Mengendalikan yang Bisa Dikendalikan

Tekanan dalam kehidupan juga sering muncul karena keinginan manusia untuk mengendalikan segala sesuatu. Padahal, tidak semua hal berada dalam kendali manusia.

Cara merespons masalah, menjaga pola tidur, memilih makanan, melakukan aktivitas fisik, memperlakukan orang lain, serta usaha yang dilakukan merupakan bagian yang dapat dikendalikan.

Sementara itu, kematian, penilaian orang lain, hasil akhir suatu pekerjaan, masa lalu, keputusan orang lain, maupun sesuatu yang belum terjadi berada di luar kendali manusia.

Kesadaran tersebut dapat membantu seseorang mengurangi beban pikiran. Setelah melakukan usaha terbaik, manusia perlu belajar menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah.

Sikap tersebut bukan berarti berhenti berusaha. Sebaliknya, manusia tetap dituntut untuk melakukan ikhtiar secara maksimal, kemudian bertawakal atas sesuatu yang berada di luar kemampuannya.

 

Lima Langkah Mengelola Tekanan

Dalam kajian tersebut diperkenalkan pendekatan 5M sebagai langkah sederhana untuk menghadapi tekanan.

Pertama, Mengenali, yaitu menyadari tanda-tanda ketika diri mulai mengalami tekanan. Kedua, Menenangkan, dengan memberikan jeda untuk menenangkan pikiran dan emosi.

Ketiga, Menjaga, yakni menjaga kesehatan tubuh, pikiran, emosi, sekaligus hubungan dengan Allah. Keempat, Menggerakkan, melalui tindakan nyata dan aktivitas positif untuk memperbaiki kondisi.

Terakhir, Menyerah, dalam arti menyerahkan hasil kepada Allah setelah seluruh ikhtiar dilakukan. Menyerah dalam konteks ini bukanlah pasrah tanpa usaha, melainkan bentuk tawakal.

Kesadaran terhadap kondisi diri menjadi langkah awal yang penting. Mudah marah, sulit berkonsentrasi, kehilangan motivasi, perubahan pola makan, hingga perubahan kondisi fisik dan psikologis dapat menjadi tanda bahwa tubuh dan pikiran sedang membutuhkan perhatian.

Jangan Hanya Memberi Makan Pekerjaan

Menariknya, pembahasan kesehatan mental juga dikaitkan dengan kesehatan fisik. Seseorang tidak cukup hanya menjaga pikiran dan spiritualitas, tetapi juga perlu memberikan hak kepada tubuh.

“Jangan hanya memberi makan pekerjaan kita, tetapi beri makan juga tubuh yang mengerjakan pekerjaan itu.”

Pesan tersebut menjadi pengingat agar kesibukan dan tuntutan produktivitas tidak membuat seseorang melupakan kebutuhan tubuh. Asupan sayur dan buah, karbohidrat kompleks, protein, lemak sehat, serta kecukupan air menjadi bagian dari upaya menjaga tubuh tetap sehat.

Pada akhirnya, kajian Qiyamul Lail ke-217 mengajak peserta untuk melihat kelelahan dari perspektif yang lebih utuh. Ketenangan bukan berarti hidup tanpa masalah, melainkan kemampuan untuk menghadapi masalah dengan kesadaran, ikhtiar, dan tawakal.

Ketika pikiran penuh, manusia diajak kembali kepada Allah. Ketika tubuh lelah, tubuh perlu diberi kesempatan untuk beristirahat. Ketika emosi terasa berat, seseorang perlu memberi ruang untuk mengenalinya.

Dan ketika sesuatu telah berada di luar kemampuan, manusia perlu belajar mengatakan: “Saya sudah melakukan bagian saya. Selebihnya, saya serahkan kepada Allah.”

Pesan tersebut menjadi refleksi bahwa perjalanan dari lelah menuju lillah bukan tentang menghilangkan seluruh tekanan dalam kehidupan, tetapi tentang belajar mengelola tekanan, menjaga diri, memperkuat iman, dan tetap melangkah dengan penuh harapan.

Scroll to Top